- Haji Isam membidik 30% saham BYAN lewat Jhonlin Baratama.
- Sepanjang 2026, ekspansinya merambah ASLI, PACK hingga RANS.
- Target berikutnya belum diumumkan, tetapi ekspansi akuisisi berlanjut.
Suara.com - Aksi bisnis pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam sepanjang 2026 semakin sulit dipandang sebagai langkah investasi yang berdiri sendiri.
Dalam catatan Suara.com selama sembilan bulan terakhir, namanya muncul dalam sejumlah transaksi dan kepemilikan saham, mulai dari emiten konstruksi, nikel, hingga rencana pengambilalihan saham raksasa batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Terbaru, Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat atau Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low pada 16 September 2026.
Kesepakatan tersebut mencakup 10.000.000.500 saham BYAN atau sekitar 30% saham beredar. Transaksi itu masih bergantung pada pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan. Nilai transaksi juga belum diungkapkan dalam keterbukaan informasi BYAN.
Aksi tersebut menjadi babak terbaru setelah sebelumnya pasar dibuat ramai oleh rumor bahwa Haji Isam akan mengambil sekitar 62,2 persen saham BYAN.
Rumor itu mencuat setelah foto Haji Isam bersama Low Tuck Kwong dan pengusaha Republik Korpora Indonesia Norman Joesoef saat meninjau area operasional BYAN di Kutai Kartanegara beredar di media sosial pada Agustus 2026.
Pemberitaan dan unggahan tersebut kemudian memicu spekulasi di pasar. Saham BYAN bahkan sempat melonjak tajam. Namun ketika itu manajemen BYAN menyatakan tidak mengetahui adanya rencana akuisisi 62,2 persen saham oleh Haji Isam atau pihak terafiliasi.
Spekulasi tersebut akhirnya berubah menjadi transaksi yang lebih konkret, meski bukan 62,2 persen. Haji Isam kini tercatat secara resmi berencana mengambil 30 persen saham BYAN melalui Jhonlin Baratama.
Pengamat dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengamati dinamika pasar terkait transaksi besar saham emiten batu bara ini.
Rencana akuisisi ini akan memperluas jaringan bisnis Jhonlin Group milik Haji Isam di bidang pertambangan batu bara. Kelompok usaha tersebut sebelumnya sudah mencatatkan kepemilikan saham di beberapa emiten publik seperti PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), dan PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE).
Menariknya, aksi masuk ke BYAN terjadi ketika perusahaan sedang menghadapi persoalan operasional. Tiga anak usaha BYAN, yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya dan PT Fajar Sakti Prima, sebelumnya menyatakan force majeure karena persetujuan perubahan RKAB 2026 belum terbit.
Situasi tersebut kemudian berubah setelah Kementerian ESDM menyetujui perubahan RKAB pada 23 September 2026. BYAN pada Kamis (24/9/2026) mencabut status force majeure dan menyatakan ketiga anak usahanya dapat kembali mempersiapkan kegiatan operasional pertambangan serta pengangkutan dan penjualan batu bara.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menegaskan penerbitan RKAB tidak berkaitan dengan transaksi saham dan merupakan proses yang telah berjalan sejak pengajuan dilakukan.
Sebelum masuk ke BYAN, langkah Haji Isam sudah terlihat sejak awal tahun.
Pada Januari 2026, PT Wahana Konstruksi Mandiri (WKM), perusahaan yang disebut terafiliasi dengan Haji Isam, mengambil alih 3,92 miliar saham PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI), setara 62,72 persen saham. Transaksi tersebut membuat WKM menjadi pemegang saham pengendali baru ASLI.
Langkah berikutnya datang pada Mei. Haji Isam membeli 6,83 miliar saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), setara 21,12 persen saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp936,65 miliar.
Dalam keterbukaan informasi, tujuan transaksi tersebut disebut sebagai investasi. Masuknya Haji Isam sekaligus memperluas eksposur bisnisnya dari batu bara ke sektor nikel.
Kemudian pada Juli, nama Haji Isam muncul di balik kepemilikan saham PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS). Founder RANS Raffi Ahmad mengungkap Haji Isam memiliki sekitar 1 persen saham RANS.
Berbeda dengan akuisisi ASLI maupun pembelian besar PACK, kepemilikan di RANS lebih kecil dan berada di sektor industri kreatif. Raffi menyebut Haji Isam sebagai salah satu mentornya dalam bisnis.
Dengan demikian, pola investasi Haji Isam sepanjang 2026 tidak hanya bergerak di satu sektor. Portofolionya bersinggungan dengan konstruksi, perkebunan, batu bara, nikel hingga industri kreatif.
Tidak ada pernyataan resmi Haji Isam yang menyebut seluruh transaksi tersebut sebagai bagian dari satu strategi besar. Karena itu, tujuan akhirnya tidak bisa dipastikan hanya dari rangkaian pembelian saham.
Namun, dari jenis aset yang dibeli, terdapat beberapa pola yang dapat dibaca.
Pertama, memperbesar eksposur ke sumber daya alam.
Masuk ke PACK memberi Haji Isam eksposur terhadap nikel, sementara rencana pembelian 30% BYAN memperbesar kembali pijakannya di batu bara. Langkah ini memperluas portofolio komoditas Jhonlin di luar bisnis yang selama ini sudah dimiliki.
Kedua, mengambil posisi pada aset yang dapat terhubung dengan ekosistem bisnis yang sudah ada.
Bisnis Jhonlin sebelumnya telah memiliki aktivitas di pertambangan, perkebunan, logistik dan agroindustri. Karena itu, kepemilikan saham di sejumlah perusahaan dapat dilihat sebagai cara memperluas jaringan aset dan bisnis, meski hubungan sinerginya harus dibuktikan secara konkret pada masing-masing transaksi.
Ketiga, ekspansi melalui pasar modal semakin terlihat agresif.
Setelah memiliki sejumlah emiten yang terafiliasi seperti JARR, PGUN dan TEBE, Haji Isam pada 2026 menambah eksposur melalui ASLI, PACK dan RANS, sebelum masuk ke transaksi BYAN.
Yang juga menarik, ekspansi tidak berhenti pada pembelian saham yang sudah dilakukan. Pada September 2026, manajemen PACK menyatakan perusahaan memiliki rencana ekspansi ke mineral selain nikel melalui pertumbuhan organik dan akuisisi yang terarah.
Artinya, jalur ekspansi melalui akuisisi masih terbuka di dalam ekosistem bisnis Haji Isam. Namun, belum ada informasi resmi mengenai perusahaan mana yang menjadi target berikutnya.