BI Pertahankan BI-Rate 5,75 Persen di Tengah Tekanan Global

Senin, 28 September 2026 | 09:00 WIB
Dari kiri, Deputi Gubernur BI Thomas A. M. Djiwandono, Deputi Gubernur BI Fillaningsih Hendarta, Gubernur BI Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman, Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali, dan Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro di acara Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan September 2026 di Gedung Thamrin Lantai 1, Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026). (Dok. Bank Indonesia)

Dari sisi kredit, Josua melihat penahanan BI-Rate dapat membantu menjaga penyaluran pembiayaan. Namun, dia menilai persoalan utama tidak semata-mata berkaitan dengan kekurangan likuiditas.

Josua menjelaskan tantangan intermediasi perbankan saat ini mencakup pemerataan likuiditas antarbank, kualitas permintaan pembiayaan, serta penyaluran kredit ke sektor produktif yang mampu menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja.

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menilai pertumbuhan kredit masih akan resilien, meski kecepatannya diperkirakan mulai melambat menjelang akhir tahun.

"Kami memperkirakan kredit perbankan tumbuh sekitar 12,8 persen YoY pada akhir 2026," ujar Irman.

Irman menjelaskan ada sejumlah faktor yang dapat menahan akselerasi kredit. Salah satunya adalah likuiditas perbankan yang masih tersegmentasi. Secara agregat, rasio aset likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) berada di level 23,04 persen pada Agustus 2026, tetapi distribusinya belum merata antarbank.

Selain itu, normalisasi atau penarikan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah dari perbankan dinilai berpotensi mengurangi tambahan likuiditas yang sebelumnya menopang ekspansi kredit. Aktivitas ekonomi yang diperkirakan lebih moderat pada paruh kedua tahun ini juga dapat membuat permintaan kredit swasta ikut melambat.

Di sisi lain, Irman melihat kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) yang terus digunakan BI dapat membantu mengatasi segmentasi likuiditas dan mendorong intermediasi. Hingga awal September 2026, insentif KLM telah mencapai Rp461,2 triliun.

"Jadi, ceritanya bukan kredit melemah secara signifikan, tetapi normalisasi dari pertumbuhan yang sangat tinggi menuju laju yang lebih sustainable," jelas Irman.

Irman menjelaskan permintaan pembiayaan dari sektor publik dan proyek prioritas pemerintah masih dapat menjadi penopang pertumbuhan kredit hingga akhir tahun. Ruang pertumbuhan juga dinilai masih terbuka pada sektor infrastruktur dan konstruksi, hilirisasi dan manufaktur, energi, serta transportasi dan logistik.

Sementara dari pasar saham, keputusan BI mempertahankan BI-Rate menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor, meski pergerakan indeks juga dipengaruhi faktor lain.

Analis Mirae Sekuritas Rully Arya mengatakan IHSG menguat pada perdagangan Rabu (23/9/2026), tetapi pergerakan pasar tidak hanya dipengaruhi keputusan BI.

"Menurut kami, keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen sudah cukup tepat untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan pada kondisi saat ini," kata Rully.

Rully mengatakan BI sebelumnya telah melakukan front-loaded tightening sebesar kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni. Karena itu, kenaikan tambahan suku bunga pada saat ini dinilai berisiko menghasilkan over-tightening, terutama ketika konsumsi dan investasi swasta masih perlu diperkuat.

Bagi pasar saham, Rully menilai perkembangan rupiah setelah keputusan RDG akan menjadi salah satu perhatian utama. Stabilitas rupiah yang dapat dijaga melalui intervensi valuta asing, pengelolaan instrumen moneter, serta kebijakan hedging tanpa kenaikan BI-Rate tambahan dinilai menjadi faktor yang akan diperhatikan pelaku pasar.

Di sisi nilai tukar, rupiah berada di level Rp17.855 per dolar AS pada 22 September 2026, melemah 0,78 persen dibandingkan posisi akhir Agustus. BI menyatakan akan terus memperkuat stabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing, baik melalui Non-Deliverable Forward (NDF) offshore, spot, maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

BI juga akan melanjutkan pengelolaan likuiditas dan pendalaman pasar uang untuk menjaga suku bunga pasar tetap sejalan dengan BI-Rate. Kebijakan hedging juga diperkuat untuk mendukung kebutuhan pembiayaan eksternal dan arus investasi.

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tercatat sebesar 146,5 miliar dolar AS. Angka ini setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Dengan mempertahankan BI-Rate 5,75 persen, BI melanjutkan fokus pada keseimbangan antara stabilitas rupiah, pengendalian inflasi, dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika ekonomi global. ***

Kontributor: Mohammad Rhadzaki Ramadhan

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com