IHSG Akhir Pekan Ditutup Melesat ke Level 5.439, Ini Saham-saham Big Banks Penopang

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 17:37 WIB
IHSG [Suara.com/Alfian Winanto]
BACA 10 DETIK
  • Indeks Harga Saham Gabungan menguat 0,95 persen ke level 5.439,25 di Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 23 Oktober 2026.
  • Penguatan pasar domestik tersebut terjadi di tengah tekanan sentimen global serta rencana reformasi struktural bursa saham.
  • Kenaikan indeks didorong oleh pergerakan positif sejumlah emiten besar seperti BBRI, BMRI, dan TLKM.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses menutup pekan perdagangan dengan rapor positif pada Jumat (23/10/2026). Indeks utama pasar modal Indonesia ini terapresiasi sebesar 0,95 persen atau bertambah 51,35 poin, membawanya parkir di level 5.439,25.

Laju indeks tidak sepenuhnya mulus. Sepanjang sesi perdagangan, IHSG sempat mengalami tekanan dan tergelincir ke zona merah pada jam-jam awal pembukaan.

Namun, indeks berhasil membalikkan keadaan (rebound) dan kokoh bertahan di teritori positif dengan rentang pergerakan hariannya berada di level 5.366,29 sebagai titik terendah hingga 5.455,21 sebagai titik tertinggi.

Tingginya antusiasme pelaku pasar tercermin dari ramainya aktivitas di Bursa Efek Indonesia (BEI). Total volume saham yang diperdagangkan mencapai lebih dari 43,97 miliar lembar dengan nilai transaksi menyentuh kisaran Rp15,60 triliun hingga Rp16,2 triliun.

Frekuensi perpindahan tangan saham tercatat sebanyak 1,82 juta kali, membawa total kapitalisasi pasar IHSG berada di angka Rp9.604 triliun. Distribusi pergerakan saham didominasi oleh tren positif, di mana 477 emiten menguat, 187 emiten melemah, dan 129 saham lainnya stagnan.

Tepis Bayang-Bayang Profit Taking dan Gejolak Global

Penguatan ini terbilang impresif mengingat IHSG sebelumnya dibayangi oleh potensi aksi ambil untung (profit taking). Berdasarkan analisis dari Phintraco Sekuritas, pasar domestik tengah dihadapkan pada memburuknya sentimen global.

Kondisi ini dipicu oleh bervariasinya penutupan bursa Wall Street Amerika Serikat pada Kamis (22/10/2026), di mana saham-saham sektor teknologi mengalami tekanan jual yang masif sehingga memicu pelarian investor ke instrumen aset defensif.

Faktor pemberat lainnya datang dari pasar komoditas energi. Harga minyak mentah acuan Brent melonjak sekitar 4 persen hingga menyentuh US$113 per barel. Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran baru terkait inflasi yang berpotensi mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun terpantau melandai lebih dari 17 basis poin ke level 4,972 persen. Sementara itu, komoditas emas spot juga mengalami koreksi 2,2 persen menjadi US$4.051 per troy ounce.

Pada bursa regional Asia, kinerja terpantau bervariasi; Indeks Hang Seng menguat 0,69 persen dan Shanghai Composite naik 0,89 persen, sementara Nikkei Jepang terkoreksi 0,25 persen.

Katalis Domestik dan Deretan Saham Penggerak

Di tengah guncangan eksternal tersebut, IHSG justru mendapat dorongan energi dari dalam negeri. Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa laju IHSG tertopang oleh rencana reformasi struktural bursa.

BEI berencana mengecualikan saham-saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan terlampau tinggi dari perhitungan indeks komposit mulai 2 November mendatang. Manuver taktis ini merupakan respons langsung atas peringatan MSCI yang sebelumnya membuka opsi untuk menurunkan status pasar ekuitas Indonesia.

Sentimen positif ini langsung direspons oleh pergerakan impresif sejumlah saham kapitalisasi besar (big caps). Di sektor perbankan pelat merah, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 0,34 persen ke posisi Rp2.910, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melesat 1,30 persen ke level Rp3.900 per saham. Saham BUMN lainnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), juga terapresiasi 1,82 persen menjadi Rp2.240.

Selain saham-saham blue chip, lonjakan signifikan juga dicatatkan oleh sejumlah emiten lain, seperti VKTR yang meroket 16,96 persen ke level Rp400, saham BUVA yang melambung 20,38 persen menjadi Rp378, serta ASII yang naik 2,25 persen dan ditutup pada harga Rp4.550 per lembar saham.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com