Di Tengah Perkembangan AI, Industri Animasi Berpeluang Serap Banyak Tenaga Kerja

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 20:50 WIB
Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji. [ANTARA/Rolandus Nampu]
BACA 10 DETIK
  • Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyatakan pada Sabtu (24/10/2026) bahwa industri animasi berpotensi besar menyerap banyak tenaga kerja manusia.
  • Tiga alumni Balai Diklat Industri Denpasar telah membuktikan kemampuan talenta lokal dengan terlibat dalam produksi film animasi Jumbo.
  • Pemerintah berencana mengembangkan ekosistem industri digital secara serius melalui peningkatan kompetensi dan kerja sama lembaga pendidikan.

Suara.com - Industri animasi dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas lapangan kerja di Indonesia. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital, sektor ini tetap membutuhkan keterlibatan tenaga manusia dalam proses produksi, terutama untuk menghasilkan karya dengan detail dan kualitas tinggi.

Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji mengatakan, industri animasi memiliki karakteristik padat karya yang membuatnya berpotensi menjadi salah satu sumber penyerapan tenaga kerja baru.

Menurut dia, produksi animasi tidak hanya bergantung pada modal dan teknologi, tetapi juga membutuhkan banyak tenaga kreatif untuk mengerjakan berbagai detail.

“Saya agak surprise, ternyata itu tidak semata-mata pada modal, pada teknologi saja, tetapi juga pada karya. Termasuk animasi itu ternyata padat karya, menyerap tenaga kerja yang banyak karena detail-detailnya itu tetap harus dikerjakan oleh manusia,” ujar Sarmuji dilansir dari laman Antara, Sabtu (24/10/2026).

Temuan tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan industri digital yang tidak hanya menghasilkan produk kreatif, tetapi juga menciptakan lebih banyak kesempatan kerja.

Pemerintah, kata Sarmuji, ingin menjadikan sektor industri sebagai salah satu penggerak utama penyerapan tenaga kerja. Potensi industri digital pun perlu dikembangkan secara serius agar kontribusinya terhadap perekonomian nasional semakin besar.

“Kita sudah bertekad industri harus menjadi ladang bagi penyerapan tenaga kerja secara maksimal, dan salah satunya justru pada industri digital ini kita temukan penyerapan tenaga kerjanya banyak sekali,” katanya.

Talenta Lokal Punya Peluang di Industri Animasi

Indonesia dinilai memiliki sumber daya manusia yang mampu bersaing di industri animasi. Salah satu indikasinya terlihat dari keterlibatan talenta lokal dalam produksi film animasi Jumbo.

Sarmuji mengungkapkan, tiga orang yang terlibat dalam produksi film tersebut merupakan lulusan Balai Diklat Industri Denpasar.

Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan vokasi dapat menjadi jalur untuk menyiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri kreatif.

Menurut dia, potensi tersebut perlu mendapat perhatian lebih serius agar semakin banyak talenta Indonesia bisa terlibat dalam produksi animasi dan menghasilkan karya yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun lebih luas.

“Kalau kita seriusin, potensi anak-anak kita ternyata bisa. Hanya perlu perhatian dan concern kita sebagai anak bangsa,” ujarnya.

Pengembangan industri animasi pun tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan individu.

Dukungan berupa peningkatan kompetensi tenaga kerja, fasilitas pelatihan yang memadai, serta kerja sama antara lembaga pendidikan dan pelaku industri juga diperlukan untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan.

Balai Diklat Industri Denpasar menjadi salah satu fasilitas yang mendukung upaya tersebut melalui program pelatihan, pemagangan, dan kolaborasi dengan pelaku industri.

Ilustrasi animasi. [Unsplash]

Fasilitas ini juga dapat dimanfaatkan siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk memperdalam pengetahuan dan meningkatkan keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com