- Ekonomi kreatif didorong menjadi sumber usaha dan lapangan kerja bagi generasi muda.
- Warisan budaya berpotensi dikembangkan menjadi produk dan bisnis bernilai tambah.
- KHC menyiapkan buku berisi 28 gagasan untuk Indonesia 2045.
Suara.com - Ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor yang diharapkan membuka peluang usaha dan pekerjaan bagi generasi muda menuju Indonesia Emas 2045. Namun, pengembangan sektor ini tidak cukup mengandalkan ide dan kreativitas, melainkan juga membutuhkan ekosistem usaha, akses kolaborasi, serta kemampuan mengubah gagasan menjadi karya bernilai ekonomi.
Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam forum The Legacy Relay 2026 — Special Sumpah Pemuda Forum yang digelar Yayasan Kartini Heritage Center (KHC) di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Forum yang menjadi bagian dari rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 itu mempertemukan pelaku industri, pemimpin lembaga, akademisi, penggerak masyarakat, serta generasi muda untuk membahas kontribusi yang dapat diwariskan kepada Indonesia pada 2045.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya hadir sebagai Special Speaker dan National Challenger. Diskusi menyoroti bagaimana ide, budaya, kreativitas, dan teknologi dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi nasional.
Tantangannya adalah memastikan kreativitas tidak berhenti sebagai gagasan atau tren sesaat, tetapi mampu berkembang menjadi bisnis, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
Sejumlah pelaku industri dan penggerak usaha turut berbagi perspektif dalam sesi Generation Builders: Lightning Relay. Handoko Hendroyono, pendiri dan CEO Filosofi Kopi serta Mbloc Group, membahas bagaimana gagasan dapat tumbuh menjadi komunitas, bisnis, dan gerakan kreatif.
Sementara itu, Dzaki Adinda Husna, pendiri The Mantra Group, terlibat dalam diskusi mengenai usaha generasi muda yang dapat membuka kesempatan kerja, memperluas kolaborasi, dan menghasilkan dampak ekonomi bagi generasi berikutnya.
Pembahasan juga mencakup perubahan dunia kerja akibat perkembangan ekonomi digital. Ibnu Riza, Ketua Umum Indonesia Esports Association (IESPA), hadir dalam dialog mengenai esports, profesi baru, dan kesiapan generasi muda menghadapi perubahan kebutuhan tenaga kerja.
Di sisi lain, Rian Fahardhi, kreator konten dan penggerak suara publik generasi Z, mengangkat isu literasi digital, kepercayaan publik, serta partisipasi melalui media sosial. Perkembangan platform digital membuka ruang bagi generasi muda untuk membangun audiens dan menyebarkan gagasan, meskipun keberlanjutan aktivitas tersebut tetap membutuhkan kreativitas dan model usaha yang tepat.
Peluang ekonomi kreatif juga berkaitan dengan kemampuan mengembangkan warisan budaya menjadi produk dan layanan yang relevan dengan kebutuhan pasar.
Dalam forum tersebut, Kusuma Ida Anjani, Direktur PT Mustika Ratu Tbk., membahas bagaimana warisan budaya dan nilai perusahaan dapat dijaga sekaligus ditransformasikan agar tetap relevan bagi generasi berikutnya.
Perspektif ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berhenti pada kegiatan dokumentasi atau seremoni. Dengan pengembangan produk, inovasi, dan strategi usaha yang tepat, kekayaan budaya berpotensi menjadi sumber nilai tambah bagi industri kreatif.
Meski demikian, pengembangan potensi tersebut memerlukan keterhubungan antara kreativitas, kapasitas bisnis, akses pasar, dan kolaborasi lintas sektor.
Selain diskusi, forum menghadirkan sesi 60 Seconds for Indonesia yang memberikan kesempatan kepada peserta menyampaikan gagasan mengenai lingkungan, teknologi, inovasi, dan kesiapan menghadapi masa depan dunia kerja.
KHC menyiapkan buku The Legacy Relay 2026: 28 Gagasan untuk Indonesia 2045 sebagai keluaran utama kegiatan. Tulisan peserta akan melalui proses kurasi dan penyuntingan sebelum diterbitkan menjadi kumpulan gagasan lintas generasi.
Penerbitan buku tersebut diharapkan menjadi dokumentasi pemikiran generasi masa kini sekaligus bahan refleksi bagi generasi mendatang. KHC juga membuka peluang kolaborasi lanjutan agar gagasan yang dihimpun dapat dikembangkan menjadi kegiatan dan karya nyata.
Forum ini turut menghadirkan Ilham Akbar Habibie, putra B.J. Habibie; Halida Nuriah Hatta, putri Mohammad Hatta; dan Joddy Mulyasetya Putra, canggah R.A. Kartini. Ketiganya berdiskusi dalam sesi The Legacy Table mengenai relevansi warisan pendidikan, integritas, ilmu pengetahuan, dan inovasi bagi Indonesia masa depan.