- Goldman Sachs merevisi turun target indeks KOSPI Korea Selatan dari 12.000 menjadi 9.000 pada Sabtu, 25 Oktober 2026.
- Penyesuaian target tersebut dilakukan akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap imbal hasil infrastruktur kecerdasan buatan serta koreksi tajam bursa.
- Meskipun target dipangkas, valuasi saham Korea Selatan dinilai sangat murah dan mencatatkan rasio terendah sejak tahun 2006.
Suara.com - Lembaga keuangan global Goldman Sachs secara resmi merevisi ke bawah target 12 bulan untuk indeks acuan pasar saham Korea Selatan, KOSPI, sebesar 25 persen. Target indeks yang sebelumnya diproyeksikan mampu menyentuh level 12.000 kini disesuaikan menjadi 9.000.
Langkah revisi ini diambil mencerminkan meningkatnya kekhawatiran para pelaku pasar terkait imbal hasil (return) dari investasi infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta respons atas koreksi tajam yang dialami bursa saham domestik dalam beberapa bulan terakhir.
Sesuai laporan Bloomberg dan Investing.com pada Sabtu (25/10/2026), tim analis Goldman Sachs yang dipimpin oleh Timothy Moe menjelaskan bahwa penurunan KOSPI sebesar lebih dari 35 persen dari titik puncaknya pada Juni lalu menjadi pertimbangan utama di balik penyesuaian asumsi valuasi tersebut. Meskipun sempat mempertahankan pandangan optimistis sepanjang pertengahan tahun, Bank investasi asal Amerika Serikat ini kini memilih sikap yang lebih konservatif untuk merespons volatilitas pasar yang tinggi.
Valuasi Mencapai Tingkat Terendah Secara Historis
Kendati target indeks dipangkas, Goldman Sachs menilai bahwa harga saham-saham di bursa Korea Selatan saat ini berada pada kondisi yang sangat murah secara fundamental (excessively undervalued). Target revisi di level 9.000 bahkan masih mengindikasikan potensi kenaikan (upside) lebih dari 60 persen dari posisi harga saat ini.
Berdasarkan data historis yang dihimpun Bloomberg, rasio price-to-earnings (P/E) estimasi 12 bulan mendatang untuk indeks KOSPI telah menyusut hingga ke kisaran 4 kali lipat. Tingkat valuasi tersebut merupakan yang terendah sejak tahun 2006 di antara 18 pasar keuangan utama dunia yang dipantau.
Di samping itu, kalkulasi Goldman Sachs mengindikasikan bahwa harga saham sektor semikonduktor saat ini telah mencerminkan ekspektasi penurunan laba sektor hingga 65 persen pada tahun 2027—sebuah penilaian pasar yang dianggap terlalu pesimistis.
Tekanan Sektor Semikonduktor dan Peluang Koreksi
Penyebab utama pelemahan KOSPI bersumber dari kecemasan investor terhadap profitabilitas investasi AI yang membebankan dua emiten kelas berat (heavyweight) di industri semikonduktor, yakni Samsung Electronics dan SK Hynix. Tingginya biaya pengembangan infrastruktur, beban pendanaan, serta lambatnya realisasi imbal hasil memicu aksi jual di pasar modal.
Sementara itu, saham-saham di luar sektor memori semikonduktor saat ini diperdagangkan pada rata-rata 7,6 kali estimasi laba mendatang.
Meskipun demikian, sejumlah analis memandang periode koreksi ini sebagai momentum untuk mengakumulasi saham. Head of Asia Research di Julius Baer, Mark Matthews, menuturkan bahwa permintaan terhadap teknologi AI secara mendasar masih melampaui kapasitas pasokan.
Meski indeks KOSPI terkoreksi tajam dari puncak Juni, estimasi laba 12 bulan mendatang bagi emiten-emiten di Korea Selatan justru mencatatkan pertumbuhan sebesar 22 persen, memperlebar celah antara kinerja fundamental perusahaan dan pergerakan harga saham di bursa.
Di luar penyesuaian indeks secara keseluruhan, Goldman Sachs tetap mempertahankan pandangan positif pada beberapa sektor spesifik, seperti saham-saham terkait ketenagalistrikan, sektor industri, serta emiten yang terdorong oleh perbaikan tata kelola korporasi (corporate governance). Prospek pemulihan pasar modal Korea Selatan ke depan diperkirakan akan sangat bergantung pada stabilisasi dan pemulihan kinerja di sektor semikonduktor.