Bahlil: Pertamina Selalu Diremehkan!

Senin, 26 Oktober 2026 | 18:28 WIB
Menteri Bahlil saat menggelar konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta pada Senin (26/10/2026). [Suara.com/Yaumal]
BACA 10 DETIK
  • Prabowo membuka skema G2G dan G2B untuk pengadaan minyak, BBM, dan LPG.
  • Impor LPG RI masih 85%, dengan pasokan didominasi Amerika Serikat.
  • BLU Lemigas ditugaskan memperluas pilihan negara pemasok dan mengamankan pasokan energi.

Suara.com - Presiden Prabowo Subianto mengubah skema pengadaan minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM), dan liquefied petroleum gas (LPG) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 107 Tahun 2024. Perubahan ini membuka jalan bagi pemerintah untuk bertransaksi langsung dengan negara produsen maupun pelaku usaha, di tengah ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, aturan tersebut mengubah mekanisme pengadaan yang selama ini mengandalkan skema business-to-business (B2B) melalui PT Pertamina (Persero).

Peninjauan fasilitas kilang pada Kamis (22/10) untuk memastikan operasional dan mendukung keandalan pasokan energi.

Menurut Bahlil, proses tender yang panjang tidak selalu menjamin kepastian pasokan. Bahkan, Pertamina bisa kehilangan kesempatan memperoleh minyak mentah meski telah memenangkan tender dengan harga yang lebih murah.

"Kalau ada negara lain yang datang membeli dengan harga yang lebih mahal, maka Pertamina selalu dijadikan nomor kesekian," ujar Bahlil di Jakarta.

Melalui skema government-to-government (G2G) dan government-to-business (G2B), pemerintah kini dapat menentukan negara pemasok dan melakukan kesepakatan melalui Badan Layanan Umum (BLU) Lemigas.

Perubahan ini diharapkan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam mengamankan pasokan energi. Namun, efektivitas skema baru tersebut akan bergantung pada kemampuan pemerintah memperoleh kontrak yang kompetitif sekaligus memastikan pengiriman sesuai kebutuhan dalam negeri.

Kebutuhan akan kepastian pasokan menjadi penting karena Indonesia masih bergantung pada impor untuk sejumlah komoditas energi.

Bahlil mengungkapkan, impor LPG nasional masih mencapai 85%, dengan pasokan yang didominasi Amerika Serikat. Sementara itu, pemerintah telah menghentikan impor solar dan mengalihkan sumber impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke kawasan lain.

Adapun impor sejumlah jenis BBM, mulai dari Pertalite dengan kadar oktan RON 90 hingga BBM beroktan RON 92, RON 95, dan RON 98, masih berlangsung.

Bahlil mengatakan, dirinya bersama Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri dan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Ega Chandra Putra akan memiliki ruang lebih besar untuk mencari sumber pasokan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com