- PT Mirae Asset Sekuritas di Jakarta mengimbau investor selektif akibat aksi jual asing dan volatilitas rupiah.
- Penyaluran kredit perbankan nasional melambat menjadi 12,7 persen pada September 2026 akibat kontraksi kredit investasi konstruksi.
- Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga membaik, namun kenaikan biaya dana deposito berpotensi menekan marjin bunga bersih.
Suara.com - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia mengingatkan para pelaku pasar untuk meningkatkan selektivitas dalam mengoleksi saham-saham perbankan nasional. Langkah ini dinilai krusial menyusul meningkatnya gelombang aksi jual investor asing (foreign outflow) serta volatilitas nilai tukar rupiah yang masih menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengungkapkan bahwa akumulasi aksi beli oleh investor domestik sejauh ini memang mampu menahan kejatuhan indeks. Kendati demikian, persistennya tekanan jual asing memicu keprihatinan terkait daya tahan pembeli lokal dalam jangka panjang.
“Dengan ketidakpastian MSCI yang belum mereda dan tekanan eksternal yang meningkat, kami tetap berhati-hati. Arus dana asing dan stabilitas rupiah akan semakin menentukan kemampuan IHSG mempertahankan pemulihannya,” ujar Rully dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Di luar faktor eksternal bursa, kondisi fundamental internal perbankan juga tengah mengalami penyesuaian. Berdasarkan hasil riset mendalam Mirae Asset, laju penyaluran kredit perbankan nasional mengalami perlambatan menjadi 12,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada September 2026, menurun dari capaian bulan Agustus yang sempat menyentuh 13,3 persen YoY.
Penurunan kecepatan ekspansi kredit ini utamanya dipicu oleh kontraksi pada segmen kredit investasi sebesar 0,2 persen secara bulanan (month-on-month/MoM). Lesunya penyaluran modal kerja jangka panjang tersebut salah satunya bersumber dari tekanan operasional yang terjadi di sektor konstruksi.
Di sisi penghimpunan dana, pencapaian Dana Pihak Ketiga (DPK) justru mencatatkan perbaikan positif dengan tumbuh 8,2 persen YoY, membawa total dana simpanan masyarakat di perbankan mencapai Rp9.896 triliun. Kualitas pendanaan juga menguat seiring dengan kenaikan porsi dana murah atau current account and savings account (CASA) yang menyentuh level 64,9 persen.
Kendati penghimpunan dana menunjukkan tren positif, fenomena tersebut diiringi oleh lonjakan biaya dana (cost of funds). Kondisi ini tercermin jelas dari naiknya suku bunga simpanan deposito di berbagai tenor. Situasi ini diperkirakan bakal menjadi penekan utama bagi marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan dalam beberapa periode mendatang.
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menggarisbawahi bahwa melandainya rasio loan-to-deposit (LDR) perbankan ke level 91,7 persen pada September 2026—dari posisi 92,7 persen pada bulan sebelumnya—belum bisa ditafsirkan sebagai pemulihan likuiditas yang bersifat permanen.
Kewaspadaan ini diperkuat oleh pergerakan suku bunga deposito tenor pendek yang merangkak naik. Suku bunga deposito tenor satu bulan tercatat terangkat ke posisi 5,3 persen, sedangkan untuk tenor tiga bulan sudah menyentuh 5,9 persen.
“Kami melihat penurunan LDR ini sebagai kelonggaran sementara, bukan perbaikan likuiditas yang struktural. Kenaikan biaya dana juga mengindikasikan potensi tekanan margin ke depan,” kata Nurkholis.