- Hashim memperingatkan rupiah berisiko tembus Rp21.000 jika dana asing terus keluar.
- Saham gorengan dan persoalan free float menjadi sorotan dalam evaluasi MSCI.
- Rupiah melemah bisa memperbesar beban utang luar negeri dan merugikan investor.
Suara.com - Tak sedang bercanda, Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2024-2029 Hashim Djojohadikusumo memperingatkan risiko pelemahan rupiah hingga Rp21.000 per dolar Amerika Serikat (AS) jika dana asing terus keluar dari pasar keuangan Indonesia.
Dalam Pembukaan Rapimnas Kadin di Jakarta, Kamis (29/10/2026), Hashim menyoroti praktik saham gorengan yang dinilai menjadi salah satu persoalan di pasar modal nasional dan turut disorot lembaga indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
"Saya sudah hitung rupiah bisa jadi Rp20.000-Rp21.000," ujar Hashim.
Menurut Hashim, persoalan keterbatasan free float atau saham yang tersedia untuk diperdagangkan di publik serta rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) yang tidak wajar perlu segera dibenahi.
Ia memperingatkan, keluarnya dana asing secara berkelanjutan dapat menekan nilai tukar rupiah. Jika rupiah melemah hingga Rp20.000-Rp21.000 per dolar AS, beban pembayaran utang luar negeri Indonesia juga akan meningkat.
Hashim menyebut kondisi tersebut berisiko menjadi bencana bagi perekonomian sehingga praktik manipulasi harga saham harus segera dihentikan. Pemerintah, kata dia, akan menindak tegas pelaku.
Ia juga mengingatkan bahwa lebih dari 30 juta investor di pasar modal berpotensi menjadi korban praktik saham gorengan. Sebagai pembanding, Hashim mencontohkan penegakan hukum di Turkiye, yang menurutnya telah menangkap 94 orang terkait kasus serupa.