- IHSG anjlok 3,49 persen ke level 5.098 akibat tekanan jual masif pada perdagangan Kamis (29/10/2026).
- Depresiasi rupiah dan lonjakan imbal hasil SBN memicu aksi jual asing serta pelemahan seluruh sektor bursa.
- Kekhawatiran penurunan klasifikasi pasar oleh MSCI mendorong investor asing menarik modal secara besar-besaran dari bursa domestik.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kontraksi hebat dan terperosok kian dalam ke zona merah pada penutupan perdagangan hari Kamis (29/10/2026).
Indeks komposit kebanggaan pasar modal Indonesia ini mencatatkan rekam jejak performa terburuk, bahkan memimpin laju pelemahan terdalam apabila disandingkan dengan seluruh bursa saham lain di kawasan Asia.
Pada dentang bel akhir sesi kedua, IHSG terkapar di level 5.098, merosot tajam sebesar 3,49 persen secara point-to-point dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Berdasarkan data pantauan pasar harian, level 5.098 tersebut sekaligus menjadi titik terendah pergerakan indeks sepanjang hari (intraday low), jauh meninggalkan titik tertingginya yang hanya sesaat sempat menyentuh level 5.320 pada awal sesi pembukaan.
Kepanikan ekstrem di pasar tercermin nyata dari tingginya aktivitas transaksi yang sangat didominasi oleh tekanan jual masif. Total volume perdagangan yang beredar di lantai bursa mencapai 23,27 miliar lembar saham dengan perputaran nilai transaksi menyentuh angka Rp11,29 triliun, serta frekuensi jual-beli yang mencapai 1,32 juta kali perpindahan tangan.
Runtuhnya pertahanan IHSG ini diseret kuat oleh kejatuhan nyaris seluruh indeks sektoral penopang bursa. Sektor perindustrian memimpin pendarahan indeks dengan koreksi sedalam 4,64 persen, disusul ketat oleh sektor barang baku (basic materials) yang ambles 4,52 persen, serta sektor infrastruktur yang terpangkas tajam hingga 4,24 persen.
Pelemahan fatal tersebut juga merambat ke sektor strategis lain, termasuk sektor energi yang turun 3,28 persen dan sektor barang konsumen non-primer yang melemah 2,54 persen.
Tekanan jual yang terjadi secara merata ini memaksa sejumlah saham lapis menengah dan bawah masuk ke dalam jajaran pencetak penurunan harian terdalam (top losers). Saham PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) dan PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA) sama-sama menderita auto reject bawah setelah terperosok sedalam 10 persen. Nasib serupa juga dialami oleh saham PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) yang pergerakan harganya ambrol hingga 9,91 persen.
Analisis mendalam dari RHB Sekuritas menyoroti bahwa kombinasi memburuknya indikator makroekonomi domestik menjadi biang keladi di balik kejatuhan pasar ini. Depresiasi nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga menembus rekor terendah sepanjang masa (All Time Low/ATH), dipadukan dengan lonjakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), telah mengkikis habis tingkat kepercayaan para pelaku pasar.
“Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan depresiasi rupiah meningkatkan kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing, inflasi impor, serta biaya pendanaan,” terang RHB Sekuritas dalam catatan terbarunya, Kamis (29/10/2026).
Pendarahan di lantai bursa sejatinya telah terindikasi dengan sangat jelas sejak sesi pertama perdagangan. Hingga jeda istirahat siang, IHSG tercatat sudah tergerus 2,64 persen atau menguap 139,49 poin ke posisi 5.142,82. Nilai transaksi di paruh pertama hari tersebut telah menembus Rp5,85 triliun dengan perputaran volume 14,35 miliar lembar saham.
Tekanan jual tak memberikan ruang sedikit pun bagi IHSG untuk bernapas, di mana seluruh sektor, termasuk teknologi, keuangan, dan properti kompak mencatatkan pelemahan di kisaran 2,19 hingga 2,40 persen.
Gelombang pelarian modal asing (capital outflow) menjadi faktor determinan utama di balik muramnya wajah bursa saham nasional.
Para pemodal asing secara agresif mengobral deretan saham perbankan berkapitalisasi raksasa (big caps) yang selama ini menjadi mesin penggerak indeks. Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tergelincir parah 4,27 persen, yang secara langsung menguras 20,49 poin dari IHSG. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga tak luput dari sasaran pembuangan hingga melemah 2,05 persen dan memotong 8,84 poin perhitungan indeks komposit.
Mengacu pada catatan transaksi Bursa Efek Indonesia (BEI) di sesi pertama saja, investor asing telah membukukan angka penjualan saham yang menembus Rp2,4 triliun.
Lantaran aksi beli asing hanya tertahan di kisaran Rp1,49 triliun, pasar mencatatkan posisi jual bersih (net foreign sell) asing senilai total Rp912,37 miliar, yang setara dengan pelepasan 1,2 miliar lembar saham secara serentak ke pasar domestik.
Derasnya arus keluar modal asing ini terpicu kuat oleh bayang-bayang ketidakpastian serta ancaman langsung dari evaluasi lembaga pemeringkat MSCI. Terdapat kekhawatiran yang sangat serius di kalangan institusi keuangan mengenai potensi penurunan klasifikasi (downgrade) pasar saham Indonesia, dari status prestisiusnya saat ini sebagai Emerging Market berpotensi turun kasta menjadi Standalone Market.
Disclaimer: Artikel berita ini disajikan murni untuk tujuan penyampaian informasi publik terkait dinamika pasar modal dan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Seluruh isi tulisan bersifat informatif, faktual, dan objektif. Tulisan ini bukan merupakan ajakan, saran, atau rekomendasi untuk melakukan transaksi jual-beli saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca beserta seluruh risiko finansial yang menyertainya.