- Berdasarkan data PIHPS Bank Indonesia pada 30 Oktober 2026, harga cabai dan daging ayam mengalami penurunan signifikan di pasar tradisional Indonesia.
- Harga beras berbagai kualitas, daging sapi, dan gula pasir justru tercatat mengalami kenaikan tipis di tingkat eceran seluruh Indonesia.
- Komoditas seperti bawang merah, minyak goreng curah, dan minyak goreng kemasan bermerek II tetap stabil tanpa mengalami perubahan harga.
Suara.com - Harga kebutuhan bahan pokok di berbagai pasar tradisional seluruh Indonesia kembali menunjukkan fluktuasi yang cukup bervariasi pada pengujung bulan ini. Mengacu pada pembaruan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dirilis oleh Bank Indonesia pada Jumat (30/10/2026), sejumlah komoditas utama yang kerap menjadi pemicu inflasi harian terpantau mengalami koreksi harga yang cukup melegakan konsumen.
Penurunan paling mencolok terjadi pada kelompok bumbu dapur, khususnya ragam jenis cabai, yang diikuti oleh melandainya harga protein hewani seperti daging ayam dan telur ayam ras segar.
Tren penurunan harga di kelompok cabai tentu menjadi kabar baik bagi rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner. Berdasarkan data PIHPS, harga cabai rawit merah yang sebelumnya kerap bertengger di atas level psikologis seratus ribu rupiah, kini tercatat merosot ke angka Rp96.200 per kilogram (kg).
Angka tersebut merepresentasikan penurunan sebesar 6,56 persen atau menyusut Rp6.750 apabila dikomparasikan dengan patokan harga pada hari perdagangan sebelumnya.
Pelemahan harga ini rupanya merata pada varian cabai lainnya di pasaran. Komoditas cabai merah keriting terpantau ikut menyesuaikan diri dengan penurunan sebesar 3,02 persen atau turun Rp2.600 sehingga kini dibanderol seharga Rp83.500 per kg.
Di sisi lain, harga cabai merah besar dipatok pada angka Rp71.600 per kg setelah mengalami koreksi yang cukup lumayan, yakni sebesar 5,29 persen atau setara dengan Rp4.000 per kg. Adapun komoditas cabai rawit hijau tidak luput dari tren penurunan, mencatatkan penyusutan harga sebesar 1,32 persen atau Rp1.050, yang membawanya ke level Rp78.350 per kg.
Tidak hanya di sektor bumbu dapur pedas, kabar baik juga datang dari los daging unggas. Harga daging ayam ras segar yang menjadi salah satu sumber protein favorit masyarakat perkotaan dilaporkan turun sebesar 2,38 persen atau memotong Rp950 dari harga sebelumnya.
Dengan koreksi tersebut, rata-rata harga daging ayam ras secara nasional kini berada di level Rp39.000 per kg. Penurunan ini turut mengekor pada komoditas telur ayam ras segar yang kini dilego seharga Rp29.350 per kg, menyusut tipis 0,68 persen atau turun Rp200 dari hari sebelumnya.
Kendati masyarakat bisa sedikit berhemat untuk belanja lauk dan cabai, kewaspadaan alokasi anggaran belanja tetap diperlukan. Pasalnya, pergerakan harga yang berlawanan justru terjadi pada komoditas karbohidrat utama, yakni beras. Terpantau ada pergerakan naik yang perlahan namun pasti pada beberapa spesifikasi beras di tingkat eceran.
Untuk beras kualitas bawah I, harganya dilaporkan naik sebesar 0,34 persen atau bertambah Rp50 menjadi Rp14.950 per kg. Kenaikan serupa dengan persentase dan nominal yang sama juga terjadi pada beras kualitas bawah II, yang kini menyentuh harga Rp14.800 per kg.
Peningkatan harga turut merambah beras kualitas super II yang kini dijual pada level Rp17.450 per kg setelah naik 0,29 persen. Sementara itu, untuk varian beras kualitas medium I, medium II, serta super I, harganya masih mampu bertahan stabil tanpa perubahan, di mana masing-masing dibanderol pada angka Rp16.650, Rp16.450, dan Rp18.000 per kg.
Bergerak ke komoditas sumber protein premium, harga daging sapi segar justru menunjukkan grafik yang menanjak. Daging sapi kualitas I tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,1 persen atau Rp150, mengerek harganya menjadi Rp152.700 per kg. Hal serupa menimpa daging sapi kualitas II yang harganya terkatrol naik sebesar 0,14 persen atau Rp200, menjadikannya berada di level Rp143.700 per kg di pasaran.
Pergerakan harga komoditas pemanis buatan pun senada dengan daging sapi. Harga gula pasir kualitas premium terdeteksi naik tipis 0,24 persen atau Rp50 menjadi Rp20.600 per kg. Untuk komoditas gula pasir lokal, kenaikannya mencapai 0,52 persen atau bertambah Rp100, sehingga harga ecerannya kini menembus angka Rp19.500 per kg.
Dalam kelompok komoditas pelengkap lainnya, stabilitas harga masih terjaga pada beberapa sektor. Harga bawang merah ukuran sedang terpantau kokoh dan stagnan di level Rp37.100 per kg, berkebalikan dengan bawang putih ukuran sedang yang justru memberikan kelonggaran berupa penurunan harga sebesar 0,52 persen atau Rp200 menjadi Rp38.250 per kg.
Untuk urusan dapur yang melibatkan minyak goreng, harga minyak goreng curah tercatat stabil di angka Rp20.350 per kg. Demikian pula dengan minyak goreng kemasan bermerek II yang masih ajek di harga Rp23.600 per kg, meskipun minyak goreng kemasan bermerek I harus sedikit naik 0,21 persen menjadi Rp24.400 per kg.