- Samuel Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli saham PT Bank Central Asia Tbk dengan target harga Rp5.800.
- Rekomendasi tersebut didorong oleh kinerja fundamental yang solid, efisiensi operasional, dan tingginya porsi dana murah.
- Target harga tersebut merepresentasikan potensi kenaikan nilai investasi sekitar 16,5 persen dari harga sebelumnya.
Suara.com - PT Bank Central Asia Tbk (kode saham: BBCA) jadi salah satu yang menuai sorotan di tengah pelemahan IHSG. Berdasarkan pembaruan riset terkininya, Samuel Sekuritas Indonesia secara tegas mengumumkan untuk mempertahankan rekomendasi beli (buy) terhadap saham bank swasta berkapitalisasi pasar terbesar di Tanah Air tersebut.
Keputusan analis untuk mempertahankan rating beli ini tentu tidak lepas dari rentetan pencapaian kinerja fundamental perusahaan yang dinilai tetap solid dan tangguh dalam menghadapi berbagai tekanan makroekonomi global maupun domestik.
Dalam rincian laporan analisisnya, Samuel Sekuritas menetapkan target harga (target price/TP) saham BBCA berada di level Rp5.800 per lembar saham.
Apabila angka tersebut disandingkan dengan posisi harga terakhir saham BBCA yang sempat bertengger di level Rp4.980, target harga yang dipatok secara matematis merepresentasikan potensi kenaikan nilai investasi (upside potential) yang sangat menjanjikan, yakni mencapai sekitar 16,5 persen.
Bagi para investor, baik dari kalangan institusi pengelola dana maupun investor ritel, proyeksi kenaikan sebesar 16,5 persen pada instrumen saham berstatus blue chip merupakan angka yang sangat atraktif dan layak untuk dipertimbangkan.
Dalam merumuskan target harga di level Rp5.800 tersebut, tim riset Samuel Sekuritas menggunakan pendekatan valuasi rasio harga pasar terhadap nilai buku, atau yang lumrah dikenal dalam ekosistem pasar modal sebagai Price to Book Value (PBV).
Berdasarkan kalkulasi dan proyeksi kinerja keuangan emiten untuk tahun buku 2026, target harga tersebut secara presisi mencerminkan rasio PBV sebesar 2,3 kali.
Sebagai informasi edukatif bagi publik, rasio PBV merupakan salah satu metrik fundamental yang paling lazim dan krusial digunakan untuk membedah atau menilai kewajaran harga saham perusahaan, khususnya pada emiten yang beroperasi di sektor jasa keuangan dan perbankan.
Indikator ini bekerja dengan cara membandingkan harga pasar saham saat ini dengan nilai buku per saham (total nilai ekuitas dibagi jumlah lembar saham yang beredar) yang dimiliki oleh perseroan.
Penetapan valuasi dengan rasio PBV di level 2,3 kali untuk entitas bank sekelas BCA dinilai sangat rasional dan sepadan dengan fundamental kualitas aset yang ditawarkan ke pasar.
BCA selama ini memiliki rekam jejak historis yang sangat kuat dalam hal efisiensi operasional serta kelihaiannya dalam meraup dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) dari para nasabahnya yang tersebar luas di penjuru Nusantara.
Tingginya porsi dana murah ini membuat biaya dana (Cost of Fund/CoF) yang harus dikeluarkan oleh BCA menjadi salah satu yang paling rendah di industri perbankan nasional.
Kondisi struktur pendanaan yang efisien inilah yang membuat ruang perusahaan untuk mencetak margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) yang tebal selalu terbuka lebar dalam berbagai siklus ekonomi.
Selain struktur dana murah yang dominan, dominasi BBCA di bursa saham domestik menjadikannya instrumen yang memiliki tingkat likuiditas transaksi sangat tinggi. Likuiditas pergerakan saham ini memberikan keleluasaan manuver bagi para fund manager maupun investor perorangan untuk melakukan transaksi beli maupun jual tanpa harus khawatir memicu volatilitas harga pasar secara ekstrem.
Pada saat yang sama, komitmen manajemen BCA dalam membagikan dividen tunai secara konsisten di tiap tahunnya turut menjadi magnet kuat penarik aliran modal asing (capital inflow) di tengah ketidakpastian sentimen investasi global.
Disclaimer: Artikel berita ini disajikan murni untuk tujuan penyampaian informasi publik terkait dinamika pasar modal dan pandangan sekuritas terhadap saham perbankan. Seluruh isi tulisan bersifat informatif, faktual, dan objektif. Tulisan ini bukan merupakan ajakan, saran, atau rekomendasi untuk melakukan transaksi jual-beli saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca beserta seluruh risiko finansial yang menyertainya.