-
Nippon Paint mengonfirmasi penghentian kontrak Raffi Ahmad sebagai Brand Ambassador secara resmi.
-
Seluruh materi promosi dan foto Raffi Ahmad mulai diturunkan bertahap dari armada operasional.
-
Keputusan ini menyusul kontroversi dugaan massa bayaran dalam acara deklarasi di Bundaran HI.
Suara.com - Produsen cat Nippon Paint resmi menghentikan kerja sama sebagai Brand Ambassador dengan presenter Raffi Ahmad. Keputusan ini membuat seluruh materi iklan yang menampilkan sosok pengusaha tersebut mulai diturunkan secara bertahap dari ruang publik.
Langkah tegas ini terungkap usai publik menanyakan kelanjutan status kerja sama kedua belah pihak di media sosial. Perusahaan langsung merespons gejolak tersebut untuk memastikan fokus mereka tetap pada produk dan layanan.
Melalui akun resminya, pihak perusahaan menyampaikan konfirmasi tertulis mengenai status hubungan kerja yang telah berakhir tersebut. Penyesuaian materi promosi di lapangan kini sedang berjalan demi menjaga kenyamanan konsumen.
"Terima kasih atas perhatian dan pertanyaannya. Saat ini, Nippon Paint sudah tidak memiliki kontrak Brand Ambassador dengan Bapak Raffi Ahmad. Materi promosi yang masih terlihat sedang dalam proses penyesuaian dan pelepasan bertahap. Kami tetap berkomitmen menghadirkan produk dan layanan pengecatan berkualitas bagi masyarakat Indonesia. Terima kasih atas pengertiannya!" tulis @nipponpaintindo.
Pencopotan gambar presenter kondang ini bahkan sudah diwarnai aksi penutupan foto secara langsung di jalan raya. Salah satu armada kendaraan operasional kedapatan mulai menyemprot wajah sang artis dengan cat perak.
Aksi pembersihan materi iklan ini menyusul sorotan tajam publik terhadap aktivitas politik yang melibatkan Raffi Ahmad baru-baru ini. Kehadiran sang publik figur dalam sebuah kegiatan di pusat kota memicu kritik keras dari pengguna media sosial.
Gelombang protes tersebut bermula saat ia menghadiri acara Deklarasi Sumpah Pemuda di kawasan Bundaran HI, Jakarta. Acara yang berlangsung pada 29 Oktober 2026 itu mendadak viral lantaran diduga melibatkan ribuan peserta bayaran.
Dugaan pengerahan massa berkaus almamater kampus tersebut memicu kemarahan publik yang menganggap kegiatan itu mencederai aspirasi murni para mahasiswa. Imbas dari polemik ini langsung berdampak panjang pada deretan produk yang menggunakan jasanya sebagai ikon promosi.