- Rupiah dibuka menguat tipis ke level Rp18.153 per dolar Amerika Serikat pada Selasa, 3 November 2026.
- Penguatan rupiah dipicu oleh penurunan harga minyak mentah global akibat ekspektasi pembicaraan damai di Timur Tengah.
- Analis memproyeksikan rupiah berfluktuasi di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 karena sikap hati-hati pasar terhadap data makroekonomi.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali sesi perdagangan Selasa (3/11/2026) dengan torehan apresiasi tipis. Mengacu pada data terminal Bloomberg, mata uang Garuda membuka hari di posisi Rp18.153 per dolar AS.
Angka tersebut merepresentasikan penguatan sebesar 2 poin atau 0,02 persen jika disandingkan dengan posisi penutupan pasar sebelumnya yang bertengger di level Rp18.156 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menguraikan bahwa apresiasi moderat yang dialami rupiah ini salah satunya tertopang oleh tren penurunan harga minyak mentah di pasar global.
Merosotnya harga komoditas energi ini dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap potensi pembicaraan damai dalam konflik Timur Tengah, yang pada gilirannya menyuntikkan sentimen positif jangka pendek bagi pergerakan mata uang domestik.
Meskipun mencatatkan rapor hijau pada awal sesi, ruang penguatan rupiah diproyeksikan masih sangat terbatas. Para pelaku pasar saat ini cenderung mengambil sikap kehati-hatian (wait and see) di tengah padatnya jadwal rilis data makroekonomi penting pada pekan ini.
Selain itu, para pialang juga memposisikan diri untuk mengantisipasi gejolak yang mungkin timbul dari pelaksanaan pemilihan umum legislatif paruh waktu (midterm elections) di Amerika Serikat.
Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan berfluktuasi dalam rentang yang sempit, yakni di kisaran level Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS.
Menurutnya, laju rupiah tidak hanya ditekan oleh sentimen eksternal, tetapi juga akan sangat didikte oleh lemahnya sentimen di bursa saham atau pasar ekuitas domestik.
Di kancah regional, pergerakan mayoritas mata uang Benua Kuning terpantau kompak menguat di hadapan greenback pada perdagangan pagi ini.
- Baca Juga
- Rupiah di Bibir Rekor Terlemah
Apresiasi tertinggi dipimpin oleh peso Filipina yang melesat 0,21 persen. Tren positif ini secara berurutan diikuti oleh won Korea Selatan yang menguat 0,20 persen, yen Jepang dan baht Thailand yang masing-masing naik tipis 0,02 persen, serta dolar Hong Kong yang terapresiasi 0,004 persen terhadap dolar AS.
Sebaliknya, tren depresiasi justru menekan sejumlah mata uang tetangga. Dolar Taiwan dan yuan China mencatatkan koreksi terdalam dengan masing-masing tergelincir sebesar 0,30 persen. Pelemahan serupa dialami oleh ringgit Malaysia yang susut 0,17 persen serta dolar Singapura yang turun 0,13 persen.
Sementara itu, pergerakan indeks dolar AS—yang menjadi tolok ukur kekuatan mata uang Paman Sam terhadap enam keranjang mata uang utama dunia—terpantau berada di level 101,81. Posisi indeks ini merangkak naik dibandingkan penutupan sehari sebelumnya yang berada di angka 101,74.