- Harga minyak mentah dunia naik pada Selasa pagi akibat serangan militer Amerika Serikat di Pulau Qeshm, Iran.
- Minyak Brent naik menjadi 105,25 dolar AS per barel dan WTI menguat ke posisi 96,93 dolar AS per barel.
- Serangan tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global meski dialog diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran tetap berlangsung.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia bergerak naik pada awal perdagangan di Asia, Selasa (3/11/2026). Kenaikan ini dipicu oleh laporan serangan Amerika Serikat terhadap Pulau Qeshm di Iran, yang kembali memicu kekhawatiran atas eskalasi konflik di Timur Tengah serta gangguan pasokan energi global.
Mengutip dari Reuters, minyak mentah jenis Brent naik 48 sen atau 0,5 persen menjadi 105,25 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 47 sen atau 0,5 persen ke posisi 96,93 dolar AS per barel.
Penguatan ini terjadi setelah pada hari sebelumnya Brent sempat ditutup merosot 8,66 dolar AS atau 7,63 persen ke level 104,77 dolar AS per barel.
Laporan serangan AS ke Pulau Qeshm pertama kali diberitakan oleh Wall Street Journal dengan mengutip pejabat AS. Sejumlah pejabat menyebutkan bahwa aksi militer tersebut bersifat defensif guna mencegah Iran menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
"Laporan tersebut kembali menambahkan premi risiko ke dalam harga minyak. Di saat pasar mulai memperhitungkan jalur diplomasi, pengingat atas aktivitas militer yang masih berlangsung ini langsung mengubah arah sentimen," kata Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer.
Di sisi lain, pemerintah Iran menyatakan bahwa komunikasi dengan AS untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung delapan bulan tersebut masih berjalan.
Pembicaraan yang dimediasi oleh Qatar dalam beberapa hari terakhir menghasilkan sejumlah perubahan proposal, meski belum mencapai kesepakatan akhir.
Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan bahwa kesepakatan dengan Teheran masih memungkinkan terjadi. Konflik yang terjadi sejak akhir Februari ini telah memangkas secara signifikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya dilalui seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam dunia.
Selain dinamika di Timur Tengah, sentimen pasar global juga dipengaruhi oleh agenda diplomasi di wilayah lain. AS dijadwalkan mengumpulkan delegasi Ukraina dan Rusia di Abu Dhabi pada 10-11 November mendatang untuk membahas penghentian perang, kesepakatan keamanan pascaperang, serta langkah-langkah de-eskalasi.