Suara.com - Perjalanan Clarentia Prameta di dunia musik bukan sekadar kisah tentang pencapaian artistik, melainkan juga tentang ketekunan, kepedulian, dan keberanian untuk terus berkarya di tengah keterbatasan. Sebagai Co-founder sekaligus Kepala Sekolah Bina Musik Jakarta, Clarentia membangun institusi pendidikan musik premium ini dari nol hingga berkembang menjadi sekolah musik dengan lebih dari 500 murid dalam enam tahun, termasuk melewati tantangan pandemi.
Ketertarikannya pada musik bermula dari piano. Clarentia menempuh pendidikan di Yayasan Pendidikan Musik hingga tingkat Pre-Konservatorium 3. Namun, semasa sekolah, ia menemukan kecintaan yang lebih besar pada dunia paduan suara. Ketertarikan tersebut membawanya mengikuti audisi Twilite Chorus, paduan suara yang bernaung di bawah Twilite Orchestra.
Pengalaman itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kariernya. Clarentia terpilih sebagai satu dari enam solois dalam tur A Musical Moment, yang membawa lagu-lagu musikal ke tujuh kota di Indonesia. Pengalaman tampil di berbagai kota semakin memperkuat keinginannya untuk mendalami musik secara profesional.
Clarentia kemudian melanjutkan pendidikan vokal klasik di Prayner Conservatory, Wina, Austria. Namun, di tengah masa studinya, ia menghadapi tantangan besar ketika didiagnosis mengidap Systemic Lupus Erythematosus (SLE), sebuah penyakit autoimun kronis. Kondisi tersebut mengubah perjalanan hidupnya, tetapi tidak memadamkan semangatnya untuk berkarya dan berkontribusi melalui musik.
Di tengah perjuangannya, Clarentia justru menginisiasi berbagai kegiatan yang mempertemukan musik, pendidikan, dan pertukaran budaya. Ia menggagas konser tahunan Senandung di Wina sebagai wadah pertukaran budaya antara musisi Indonesia dan Austria. Bersama beberapa temannya, ia juga menginisiasi Prospettiva Music Camp, sebuah program yang menghadirkan musisi Indonesia yang berkarier di Eropa untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan masyarakat musik di Indonesia.
Bagi Clarentia, pengalaman hidup bersama lupus juga membentuk perspektifnya mengenai makna keberanian dan harapan. “Lupus adalah bagian dari hidup saya, tapi tidak menentukan arah hidup saya,” ujarnya. Ia berharap para penyintas lupus, atau Odapus, serta mereka yang hidup dengan penyakit autoimun lainnya dapat terus memelihara harapan dan berani menjadi inspirasi bagi orang lain.
Komitmennya terhadap pendidikan berlanjut ketika, pada 2022, Clarentia memperoleh beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan studi di King’s College London. Ia menyelesaikan pendidikannya dengan predikat distinction. Pengalaman akademik tersebut memperkaya perspektifnya mengenai hubungan antara pendidikan, seni, dan kebudayaan, yang kemudian menjadi bekal dalam mengembangkan pendidikan musik di Indonesia.
Kepeduliannya terhadap pendidikan anak juga diwujudkan melalui buku lagu Siklus 7 Lagu untuk Anak. Karya ini lahir dari keprihatinannya terhadap terbatasnya pilihan lagu anak yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan mereka. Melalui karya tersebut, Clarentia ingin menghadirkan materi musikal yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga relevan bagi perkembangan anak.
Kini, Clarentia kembali menjalankan perannya sebagai Kepala Sekolah Bina Musik Jakarta. Di tengah tanggung jawabnya dalam mengembangkan institusi pendidikan musik, ia tetap aktif memberikan lokakarya di bidang vokal dan pendidikan musik. Baginya, musik bukan hanya tentang keterampilan dan pencapaian di atas panggung, melainkan juga sarana untuk berbagi dan membangun karakter.
Dari panggung konser hingga ruang kelas, dari Wina hingga Jakarta, perjalanan Clarentia menunjukkan bahwa berkarya tidak selalu berarti berjalan tanpa hambatan. Justru melalui tantangan, ia menemukan cara untuk terus bertumbuh dan memberi manfaat bagi orang lain. Musik, pendidikan, dan kepedulian sosial menjadi benang merah yang menyatukan perjalanan hidupnya yang terus berkembang, melampaui batas-batas yang pernah ia hadapi.***