Impor RI Naik 19,67 Persen, Mendag Sebut Didominasi Kebutuhan Industri

Rabu, 04 November 2026 | 14:25 WIB
Menteri Perdagangan, Budi Susanto. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut].
BACA 10 DETIK
  • Nilai impor Indonesia periode Januari hingga September 2026 mencapai 210,63 miliar dolar AS.
  • Pertumbuhan impor nasional didorong oleh kebutuhan barang modal serta bahan baku industri.
  • Neraca perdagangan Indonesia tetap mencatatkan surplus sebesar 10,61 miliar dolar AS.

Suara.com - Kinerja impor Indonesia mengalami peningkatan signifikan sepanjang Januari-September 2026. Nilai impor nasional mencapai 210,63 miliar dolar AS atau tumbuh 19,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut jauh melampaui kinerja ekspor Indonesia yang hanya meningkat 5,58 persen secara tahunan (cumulative to cumulative/CtC). Pada periode yang sama, nilai ekspor tercatat sebesar 221,23 miliar dolar AS.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan yang mengolah data Badan Pusat Statistik (BPS), kenaikan impor terjadi pada seluruh kelompok penggunaan barang. Impor bahan baku dan penolong mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 21,11 persen.

Selanjutnya, impor barang modal meningkat 16,49 persen, sedangkan impor barang konsumsi tumbuh 15,54 persen dibandingkan periode Januari-September 2025.

Ilustrasi Aktivitas Ekspor dan Impor. [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nym]

Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan impor tidak hanya terjadi pada barang konsumsi, tetapi juga didominasi kebutuhan produksi dan investasi industri.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, kenaikan impor pada September 2026 terutama didorong kebutuhan barang modal serta bahan baku dan penolong untuk mendukung peningkatan produksi industri nasional.

"Lonjakan impor September 2026 didorong impor barang modal serta bahan baku dan penolong untuk mendukung peningkatan produksi dan pesanan baru industri nasional. Hal ini membuktikan bahwa impor yang terjadi sifatnya produktif dan merupakan penyebab utama bagi ekspansi sektor pengolahan dalam negeri," ungkap Budi kepada wartawan, Rabu (4/11/2026).

Secara bulanan, nilai impor Indonesia pada September 2026 mencapai 24,23 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat 5,09 persen dibandingkan Agustus 2026 dan tumbuh 18,41 persen dibandingkan September 2025.

Berdasarkan kelompok penggunaannya, impor barang modal mengalami kenaikan paling tinggi secara bulanan, yakni 12,14 persen. Kemudian, impor barang konsumsi meningkat 6,40 persen dan bahan baku serta penolong naik 3,12 persen.

Kenaikan impor tersebut sejalan dengan perbaikan aktivitas manufaktur nasional. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat dari 49,8 pada Agustus 2026 menjadi 52,4 pada September 2026.

Sementara itu, kinerja ekspor Indonesia pada Januari-September 2026 tercatat sebesar 221,23 miliar dolar AS atau tumbuh 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ekspor tersebut ditopang sektor nonmigas yang meningkat 6,30 persen menjadi 212,27 miliar dolar AS. Sebaliknya, ekspor migas mengalami kontraksi 9,11 persen menjadi 8,96 miliar dolar AS.

Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus 10,61 miliar dolar AS sepanjang Januari-September 2026. Namun, capaian tersebut lebih rendah dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 33,54 miliar dolar AS.

Surplus perdagangan kumulatif tersebut berasal dari sektor nonmigas sebesar 34,21 miliar dolar AS. Sementara itu, sektor migas masih mengalami defisit sebesar 23,60 miliar dolar AS.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com