- Badan Pusat Statistik mencatat ekspor non-migas Indonesia tumbuh 6,30 persen menjadi 212,27 miliar dolar AS pada Januari hingga September 2026.
- Sektor industri pengolahan menjadi motor penggerak utama pertumbuhan kumulatif tersebut dengan peningkatan sebesar 8,93 persen secara tahunan.
- Kinerja ekspor September 2026 didorong oleh lonjakan komoditas lemak dan minyak hewani nabati serta tembaga yang naik signifikan.
Suara.com - Badan Pusat Statistik mengumumkan kinerja ekspor non-migas Indonesia tumbuh 6,30 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 212,27 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga September 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, memaparkan bahwa sektor industri pengolahan terus menjadi motor penggerak utama kinerja ekspor nasional.
"Peningkatan nilai ekspor non migas secara kumulatif terutama terjadi pada sektor industri pengolahan yang meningkat cukup tinggi yaitu meningkat 8,93%," kata Ateng dalam konferensi pers yang disiarkan virtual, dikutip Selasa (3/11/2026).
Pencapaian ini ditopang kuat oleh dominasi sektor industri pengolahan, terutama dari moncernya komoditas nikel, minyak kelapa sawit (CPO), dan tembaga di pasar global.
Khusus pada bulan September 2026, nilai ekspor non-migas menembus 26,64 miliar dolar AS atau naik 12,39 persen secara tahunan. Kinerja bulanan ini didorong oleh lonjakan signifikan dari ekspor produk turunan kelapa sawit dan produk pertambangan olahan.
"Kenaikan nilai ekspor non migas pada kondisi September 2026 secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan pada beberapa komoditas yaitu pada lemak dan minyak hewani nabati atau HS 15 naik sebesar 89,04% secara year on year-nya," ungkap Ateng.
Selain itu, komoditas tembaga juga mengalami lonjakan hingga lebih dari 100 persen.
"Tembaga dan barang daripadanya, ini HS yang 74 juga naik cukup tinggi, yaitu naik sebesar 165,97% secara year on year-nya dengan andilnya 1,64% terhadap kenaikan total ekspor," tambah dia.
Kuatnya kinerja ekspor komoditas andalan ini mengonfirmasi bahwa produk olahan seperti nikel, CPO, dan tembaga, serta kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, terus menjadi tulang punggung surplus perdagangan barang Indonesia sepanjang tahun ini.