Persekusi jadi fenomena sosial tersendiri yang mewabah di negeri ini. Kebanyakan orang yang melakukan aksi tersebut, tak paham apa arti dari persekusi.
Persekusi merupakan perlakuan buruk menjurus ke penganiyaan secara sistematis oleh individu atau kelompok kepada individu atau kelompok lain karena adanya perbedaan suku, agama, serta pandangan politik.
Persekusi sebenarnya tidak hanya terjadi di ruang lingkup sosial politik semata, di ranah sepakbola aksi persekusi juga terjadi.
Sebagian orang menganggapnya itu bagian dari kekhasan olahraga si kulit bundar ini. Suporter memang bertugas untuk menekan kelompok lain yang berbeda dengan mereka. Itu memang tak bisa disamakan dengan persekusi.
Tapi bagaimana dengan dua kasus pesepakbola asal Chechen, Rusia, Zaur Sadayev dan Dzhabrail Kadiyev pada 2013 silam? Di kasus dua pesepakbola ini ada persekusi yang berakhir pada dua pemain ini harus angkat koper dari klub yang mereka bela. Siapa pelakunya? Pelakunya ternyata ialah suporter klub yang dibela dua pemain ini.
Perlakuan persekusi yang menimpa dua pemain ini berawal saat keputusan mereka untuk membela salah satu klub Yahudi, Beitar Jerusalem FC. Keputusan pemain ini tentu saja menimbulkan pro kontra, pasalnya keduanya ialah pesepakbola beragama Islam.
Sontak saja pembelian dua pemain ini membuat suporter Beitar utamanya La Familia marah besar. Sejak awal kedatangan dua pemain ini, para suporter langsung melakukan protes keras dan aksi pemboikotan. Tidak itu saja, para suporter ini di tiap pertandingan Beitar selalu memposisikan diri sebagai suporter musuh.
Sekedar informasi, La Familia dicap sebagai kelompok suporter yang sangat rasis. Musuh abadi mereka ialah suporter dari Hapoel Tel Aviv, klub Israel yang masih memiliki sikap respect untuk perjuangan orang Palestina.
Pada 2016 silam, seperti dikutip dari laporan Washington Post, polisi Israel menangkap sejumlah dedengkot La Familia usai melakukan tindakan teror kepada suporter Hapoel.
Baca Juga: Pesan Tiket Piala Dunia Qatar 2022, Warga Israel Harus Pindah ke Palestina
Laporan bbc.co.uk berjudul 'Forever Pure : Football and Racism in Jerusalem ' menunjukkan betapa tersiksanya Sadayev dan Kadiyev saat itu. Masuknya dua pemain ini memang jadi sejarah baru bagi klub, karena mereka ialah dua muslim pertama yang direkrut klub ini.
Mengusung slogan 'Selamanya Yahudi', membuat para suporter ini terus melakukan tekanan bahkan mengarah ke tindakan kekerasan dan kriminal tidak hanya pada dua pemain ini tapi juga kapten mereka, Ariel Harush. Harush jadi satu-satunya pemain yang menyambut Sadayev dan Kadiyev di awal kedatangannya.
Aksi persekusi kepada dua pemain ini benar-benar dilakukan secara sistematis. Para dedengkot La Familia misalnya meminta para pemain Beitar untuk tidak memberikan bola saat pertandingan ataupun saat sesi latihan, para pemain lain pun diminta untuk tidak bersosialisasi dengan Sadayev dan Kadiyev, bahkan saat sesi latihan dua pemain ini bakal mendapat teror sedemikian rupa hingga aparat keamanan harus menjaga ketat dua pemain ini.
Pilihan sulit pun harus diambil oleh pelatih Beitar, Eli Cohen. Cohen berusaha menjadi profesional dengan tidak terpengaruh pada tekanan para suporternya sendiri.
Sayangnya Cohen kemudian tak bisa berbuat lebih, ia pada akhirnya ngeri juga dengan tindakan La Familia yang tiap hari semakin keras dan masif. La Familia misalnya sempat melemparkan bom molotov ke kantor manajemen klub yang berlokasi di tempat latihan klub.
"Mereka melakukan tindakan ini bukan suporter. Mereka ada penjahat, pihak berwenang harus segera merespon kejadian ini dengan tepat," kata Walikota Yerusalem, Nir Barkat.
Berita Terkait
-
Semakin Keterlaluan, Pemukiman Yahudi Kini Menyerbut Halaman Masjid Al-Aqsa dan Buat Liga Muslim Berang
-
Sudah Keterlaluan, Pemukim Yahudi Serang Masjid Al-Aqsa, Arab Saudi dan Liga Muslim Dunia Berang
-
Pemukim Yahudi Israel Serbu Masjid Al Aqsa, Arab Saudi Murka
-
Dikecam, Israel Perbolehkan Kaum Ekstremis Yahudi Beribadah di Masjid Al Aqsa
-
Menlu Rusia Sebut Adolf Hitler Keturunan Yahudi, Vladimir Putin Minta Maaf ke Israel
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
Terkini
-
Kenduri Kurban di Pidie Jaya, Tradisi yang Sembuhkan Duka Penyintas Banjir
-
Cushion Sudah Mahal tapi Tetap Abu-Abu? Mungkin Undertone Anda Salah
-
7 Sepatu Lari Daily Trainer Paling Awet: Tetap Nyaman Meski Sudah Menempuh Ribuan Kilometer
-
Catat! Laga Timnas Putri Indonesia vs Singapura Digelar Tanpa Penonton di Arcamanik
-
Dulu Rusak Akibat PETI, Sungai di Tebo Kini Jadi Tempat Anak Muda Menanam Kehidupan
-
Bandung Terancam Jadi Lautan Sampah Pasca Libur Panjang
-
Teddy ke Dino Patti Djalal: Jangan Kaburkan Fakta Hasil Lawatan Prabowo
-
Peringati Hari Lahir Pancasila, Bupati Bogor: Persatuan Adalah Benteng Terakhir Bangsa
-
Teddy: Lawatan Luar Negeri Prabowo untuk Bangun Kedekatan dengan Pemimpin Dunia
-
Pajak Motor Mati 5 Tahun di Jakarta? Segini yang Bisa Dihemat Selama Pemutihan 2026