Suara.com - Dalam satu malam, Newcastle United menjelma sebagai klub terkaya di dunia. Penyebabnya adalah proses akuisisi klub oleh pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), yang sudah resmi terjadi.
Ya, The Magpies resmi diakuisisi oleh Konsorsium Arab Saudi pada Kamis (7/10/2021). Konsorsium itu melibatkan Public Investment Fund atau Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi, PCP Capital Partners, dan Reuben Bersaudara.
Dana Investasi Publik (PIF) mengambil alih mayoritas saham klub, yakni sebanyak 80 persen. Sementara, PCP Capital dan Reuben Bersaudara masing-masing 10%.
Lantas bagaimana serba-serbi proses pengambil alihan Newcastle dari tangan Mike Ashley ke Mohammed bin Salman dan sederet kontroversinya. Berikut ulsan ringkasnya.
1. Sudah Ingin Diakuisisi Sejak 2020
Kabar keinginan Mohammed Bin Salman yang ingin membeli Newcastle sudah merebak sejak 2020. Saat itu Sky Sports yang memberikan kabar terkait hal ini.
Akuisisi ini disebut menjadi bagian dari 'Vision 2030' yang merupakan cetak biru Arab Saudi untuk 10 tahun mendatang. Mereka ingin mencari pemasukan lain di luar minyak, termasuk dengan bergelut di industri olahraga macam sepak bola.
Namun, rencana ini terhalang panasnya politik antara Arab Saudi dengan Qatar. Arab Saudi sempat memblokir beIN Sports selaku pemegang hak siar Premier League di Timur Tengah yang dimiliki oleh Qatar di wilayah mereka.
Karena pemblokiran ini, Premier League menolak rencana Arab Saudi membeli Newcastle. Terlebih, Saudi juga diduga memfasilitasi pembajakan hal siar Liga Inggris ilegal dari beIN di wilayah mereka oleh perusahaan bernama beoutQ.
Akhirnya setelah 4,5 tahun, Saudi memutuskan untuk tak lagi memblokir siaran beIN di wilayah mereka. Ini menjadi lampu hijau Pangeran Salman membeli Newcastle.
Baca Juga: Ada Alan Shearer, Ini 7 Legenda Newcastle United Sebelum Diakuisisi Pangeran Arab
2. Masalah HAM
Akan tetapi masalah tak lantas usai. Pembelian Newcastle oleh Mohammed bin Salman ini banyak diprotes, termasuk dari tuangan Jamal Khashoggi.
Jamal Khashoggi sendiri merupakan seorang jurnalis Saudi yang dibunuh agen pemerintah Saudi pada Oktober 2018. Diduga keras perintah ini datang dari sang Putra Mahkota, Mohammed bin Salman.
Amnesty International berkali-kali menyuarakan keprihatinan mereka tentang catatan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan Arab Saudi.
Respons para fans Newcastle pun beragam. Di satu sisi mereka senang karena Mike Ashley--yang mereka benci selama 14 tahun terakhir--akhirnya pergi.
Ada pula beberapa fan yang tak nyaman karena masalah moral dan HAM. Namun, jumlah pendukung yang menerima akuisisi dari Mohammed bin Salam lebih banyak. Dibuktikan dari hasil survei Newcastle United Supporters Trust (NUST) yang menunjukkan 93,8% suporter mendukung tim mereka diakuisisi.
Pada akhirnya, alasan utama mengapa pengambilalihan Newcastle United sempat terhenti bukan karena etika dan HAM, melainkan alasan pembajakan siaran Liga Inggris yang kini sudah selesai sehingga Newcastle kini resmi memiliki pemilik baru.
Kontributor: Aditia Rizki
Berita Terkait
-
Kenapa Arab Saudi Akhirnya Terlibat Perang di Timur Tengah?
-
Arsenal Gunakan Jalur Agen untuk Datangkan Bruno Guimaraes, Newcastle Mulai Gerah
-
Newcastle Turunkan Harga, Arsenal Semakin Dekat Dapatkan Bruno Guimaraes
-
Liverpool Berhasil Tikung Newcastle dalam Perburuan Victor Munoz
-
Tottenham Masuk Perburuan Sandro Tonali, Newcastle United Pasang Harga Selangit
Terpopuler
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
- Kunjungi Korban Gempa di NTT Hari Ini, Gus Miftah Gelontorkan Bantuan Rp500 Juta
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Unsoed Buka Suara Soal OTT KPK, Pastikan Tak Ada Kekosongan Kepemimpinan di Rektorat
-
BI Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Transformasi Digital, Andalkan e-Farming hingga QRIS
-
Nekat Jualan Dekat Masjid, Toko Miras di Blitar Akhirnya Digembok
-
Ulasan Dan Bandung: Adaptasi Novel Pidi Baiq yang Sukses Menguras Air Mata
-
Botok Aktivis Pati Balas Bamus Betawi: Urusan Kami dengan Pejabat Ruwet, Bukan Warga Jakarta
-
Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq Punya Tanah dan Bangunan Rp2,5 Miliar!
-
Mekaar InspirAksi, Kolaborasi Nasabah dan Karyawan PNM Perluas Dampak Pemberdayaan
-
Sering Dianggap Sama, Ini 5 Perbedaan Freckles Alami vs Sunspots Flek Penuaan
-
Sindir Pramono? Maruarar Tanya Lokasi Rumah Kumuh di Jakarta, Mau Diperbaiki Prabowo
-
Bikin Skill Jadi Cuan: 5 Side Hustle yang Cocok untuk Mahasiswa dan Pekerja Muda