Bola / Bola Dunia
Selasa, 24 Mei 2022 | 16:30 WIB
Bek sayap Liverpool Alan Kennedy pencetak gol penentu kemenangan dalam final Piala Champions 1980-81 di Stadion Parc des Princes, Paris, Prancis, pada 27 Mei 1981. (AFP/Dominique Faget)

"Pergelangan tangan saya patah dalam leg pertama semifinal dan dokter klub bilang itu cedera yang butuh masa pemulihan 10 pekan," kata Kennedy dalam wawancara dengan BBC pada 2018.

"Saya ingin bermain tapi kami tidak menemukan cara mengatasi kondisi cedera ini, entah diplester atau perban. Pada akhirnya sebuah gips logam diikatkan ke pergelangan tangan saya. Itu agak rumit, berat dan jelas akan dinilai tindakan berbahaya di dunia sepak bola sekarang," ujarnya menambahkan.

Konsultasi panjang bagaimana mengatasi cedera dan kondisinya memaksa Kennedy tinggal di Merseyside dan hanya bisa menyimak pertandingan leg kedua semifinal di Jerman lewat siaran radio.

Liverpool juga mengalami kesulitan lain di Muenchen, di mana Dalglish harus menepi di menit-menit awal karena cedera digantikan pemain minim pengalaman Howard Gayle.

Sebuah gol dari Ray Kennedy membawa Liverpool memimpin tujuh menit jelang bubaran waktu normal, yang segera dijawab oleh Bayern melalui Karl-Heinz Rummenige, tetapi skor 1-1 bertahan dan The Reds berhak lolos ke final berkat aturan gol tandang.

Sebulan berlalu Kennedy turut dalam rombongan Liverpool yang terbang ke Paris untuk partai final, tapi ia masih diliputi keraguan akan peluangnya bermain.

Kennedy, yang didatangkan Liverpool seharga 300 ribu poundsterling pada musim panas 1978, mengaku tidak cukup tidur pada malam jelang final selain karena sambutan suporter tetapi juga kondisinya sendiri apakah ia bisa tampil untuk melakoni final Piala Champions perdananya.

"Beberapa pemain sudah ambil bagian dalam dua final sebelumnya, tetapi itu adalah kali pertama bagi saya. Saya tidak cukup tidur malam harinya. Pikiran saya tersita akan pertandingan itu dan sakit yang masih terasa di pergelangan tangan," tuturnya.

Di hari pertandingan, para pemain Liverpool dibangunkan pukul 16.00 sore setelah tidur siang oleh asisten pelatih Ronnie Moran dan Kennedy baru mengetahui namanya dalam starting eleven begitu tiba di Parc des Princes.

Baca Juga: Sukses Pertahankan Kylian Mbappe, PSG Kini Bidik Frenkie de Jong dari Barcelona

"Itu sedikit mengejutkan untuk dilibatkan dan saya merasa tidak cukup siap secara mental. Tetapi ketika mana manajer memanggil namamu, Anda harus segera menyesuaikan diri dan bersiap-siap untuk tampil," kata Kennedy.

Situasi Kennedy 1981 tentu mau tak mau akan mengingatkan publik akan kondisi Liverpool saat ini, di mana mereka masih diliputi tanda tanya mengenai kondisi dua gelandang yakni Fabinho dan Thiago Alcantara untuk final melawan Real Madrid nanti.

Fabinho sudah absen sejak ditarik keluar karena cedera di pertengahan babak pertama pertandingan Liga Inggris melawan Aston Villa pada 10 Mei lalu.

Sedangkan Thiago menepikan diri di menit-menit tambahan babak pertama partai pemungkas Liga Inggris di Anfield, Minggu (22/5/2022).

Bek sayap Liverpool Alan Kennedy pencetak gol penentu kemenangan dalam final Piala Champions 1980-81 di Stadion Parc des Princes, Paris, Prancis, pada 27 Mei 1981. (AFP/Dominique Faget)

Parade juara

Apabila ada sedikit saja kemungkinan bagi Fabinho dan Thiago bermain di final nanti, Jurgen Klopp harus berani melakukan perjudian seberani Paisley menurunkan Alan Kennedy di Paris 1981 silam.

Perjudian Paisley terbukti berbuah manis sebab Kennedy menjadi pencetak gol semata wayang penentu kemenangan Liverpool, gol yang diakuinya terjadi tanpa perencanaan rinci.

"Saya tidak berpikir untuk mencetak gol, saya hanya ingin berlari menciptakan ruang bagi Souness, (Terry) McDermott, atau Dalglish. Tapi Dalglish pergi mendekati garis kotak penalti di sisi lain sehingga saya berlari ke ruang yang terbuka itu," katanya.

Kennedy masih mengingat jelas salah satu bek Real Madrid berusaha menyapu bola dan meleset, memberinya kesempatan untuk terus melanjutkan tusukan.

Menurut Kennedy momentum penentu lainnya adalah keputusan kiper Real Madrid, Agustin, beranjak meninggalkan gawang untuk menutup pergerakannya.

"Jika kiper bertahan di tempatnya, mungkin dia akan berakhir menyelamatkan tembakan saya, tapi dia melakukan sedikit pergerakan ke sisi kirinya untuk menutup celah tiang jauh sebaik tiang dekat. Itu memberi sinyal saya bisa mengarahkan bola ke area yang bisa menjadi gol," pungkasnya.

Ketika bola melesak ke dalam gawang Real Madrid, sontak Kennedy berlari ke tepi lapangan untuk melakukan selebrasi bersama suporter Liverpool yang memadati tribun belakang gawang sebelum ditelan hujan pelukan dari rekan-rekannya.

Suasana perayaan berlanjut di tempat hiburan malam Paris, di mana menurut pengakuan Kennedy sebagian pemain Liverpool bahkan menyambangi kelab tari telanjang membawa serta trofi Piala Champions.

Parade juga dilakukan ketika Kennedy dkk mendarat lagi di Liverpool, mereka berkeliling kota di atas bus terbuka di mana rekan-rekannya membentangkan spanduk bertuliskan "Thanks Barney", merujuk pada kemiripan Kennedy dengan tokoh Barney Rubble dalam serial kartun Flintstones.

Parade serupa juga sudah dipastikan akan kembali dilangsungkan oleh Liverpool pada 29 Mei 2022 nanti di mana pasukan besutan Juergen Klopp sudah pasti akan memamerkan dua trofi raihan musim ini yakni Piala Liga Inggris dan Piala FA.

Partai di Stade de France sehari sebelumnya akan menentukan apakah Klopp bakal mendapatkan satu trofi tambahan untuk dipamerkan dirayakan bersama para pemuja The Reds di kota Liverpool nanti.

[Antara]

Load More