Suara.com - Pertandingan krusial akan segera dihadapi Timnas Indonesia dalam lanjutan Grup C ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Pada laga yang dijadwalkan berlangsung 5 Juni mendatang di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), skuad Garuda akan menjamu salah satu rival terberat, yakni China.
Duel ini dipastikan menjadi pertarungan hidup-mati bagi Indonesia yang masih membuka peluang untuk lolos ke putaran selanjutnya.
Di tengah tekanan ekspektasi publik dan kekuatan lawan yang cukup solid, pemilihan formasi menjadi faktor vital untuk menentukan hasil pertandingan.
Pelatih kepala Patrick Kluivert tentu tak hanya mempertimbangkan performa pemain, tetapi juga pola permainan yang paling efektif untuk mengimbangi dan mengungguli strategi tim lawan.
Berkaca pada pertemuan pertama yang berakhir dengan kekalahan tipis 1-2, Indonesia sebenarnya tidak kalah secara permainan.
Timnas mampu memberikan perlawanan berarti meskipun harus pulang dengan tangan hampa.
Evaluasi terhadap pertandingan tersebut menjadi modal penting bagi Kluivert dalam menyusun pendekatan baru yang lebih tajam dan efisien.
Berikut tiga opsi formasi yang bisa digunakan Kluivert untuk meningkatkan peluang kemenangan Indonesia melawan China:
1. Formasi 4-3-3: Menyeimbangkan Serangan dan Pertahanan
Baca Juga: Elkan Baggot: Belum Waktunya Kembali ke Timnas Indonesia
Pendekatan paling klasik namun efektif yang bisa diterapkan adalah formasi 4-3-3. Sistem ini memberikan kestabilan antara lini serang, tengah, dan pertahanan.
Dengan menempatkan tiga gelandang di tengah, Indonesia bisa lebih mendominasi penguasaan bola dan mengatur ritme permainan.
Kelebihan lainnya, formasi ini sangat mendukung permainan sayap yang bisa dimaksimalkan oleh pemain-pemain cepat seperti Egy Maulana Vikri dan Yakob Sayuri.
Ketika ingin bermain lebih ofensif, skema ini bisa bertransformasi menjadi 4-2-3-1 untuk memperbanyak opsi serangan. Sebaliknya, saat ingin bertahan lebih dalam, 4-1-4-1 bisa menjadi variasi yang andal.
Menghadapi China yang memiliki serangan cukup agresif dari lini sayap, sistem ini cocok untuk meredam tekanan sekaligus menciptakan ruang serangan balik yang efektif.
2. Formasi 5-4-1: Solid Bertahan, Siap Menyengat Lewat Counter Attack
Strategi ini pernah digunakan oleh pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong, saat menghadapi tim yang sama. Sayangnya, eksekusinya saat itu belum maksimal.
Namun, dengan pendekatan yang tepat, formasi 5-4-1 sebenarnya sangat ideal untuk laga krusial seperti ini.
Lima bek di belakang memberikan tembok pertahanan kokoh untuk menghadapi kecepatan pemain China.
Di lini tengah, empat gelandang siap memutus alur umpan lawan dan mempersempit ruang gerak. Meski terlihat defensif, formasi ini tetap menyimpan potensi besar dalam serangan balik cepat.
Dengan stamina tinggi dan kecerdasan membaca ruang, pemain seperti Rafael Struick atau Witan Sulaeman bisa menjadi senjata mematikan dalam skema ini.
3. Formasi 3-4-2-1: Fleksibel dan Modern untuk Tekanan Tinggi
Jika ingin tampil lebih progresif, 3-4-2-1 bisa menjadi pilihan strategis. Ini adalah formasi modern yang mengandalkan pressing tinggi tanpa mengorbankan kestabilan lini belakang.
Tiga bek tengah berfungsi sebagai fondasi pertahanan kuat, sementara dua wing-back memiliki peran ganda dalam menyerang maupun bertahan.
Kehadiran dua gelandang serang di belakang satu striker utama memberikan dimensi baru dalam kreativitas serangan.
Mereka bisa menjadi penghubung penting antara lini tengah dan depan, serta membuka celah di pertahanan lawan.
Keunggulan utama formasi ini adalah fleksibilitas. Dengan penyesuaian kecil, Kluivert bisa mengubahnya menjadi 3-4-3 saat menyerang atau 5-4-1 ketika ingin mengamankan keunggulan.
Strategi ini cocok untuk kondisi pertandingan yang menuntut hasil maksimal, tanpa harus bermain terlalu terbuka dan berisiko.
Tantangan Besar dan Dukungan Suporter GBK
Bermain di kandang sendiri tentu menjadi keuntungan psikologis tersendiri bagi Indonesia.
Dukungan penuh dari puluhan ribu suporter di Stadion GBK bisa menjadi motivasi tambahan bagi para pemain. Namun, tekanan untuk menang juga menjadi ujian tersendiri bagi tim pelatih.
Saat ini, Indonesia berada dalam persaingan ketat untuk meraih posisi dua besar grup agar lolos ke babak selanjutnya.
Kemenangan atas China akan menjadi langkah krusial dalam mewujudkan mimpi tampil di Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.
Kontributor: Aditia Rizki
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Comeback dari Cedera Panjang, Ini Komentar Bek PSIM Yogyakarta Asal Belanda
-
Malaysia Dibantai Thailand 0-8, Indonesia Lolos ke Semifinal Piala AFF Futsal Wanita 2026
-
2 Mantan Asisten Shin Tae-yong Kini Ramaikan Panggung Super League
-
Petinggi MU Dijatuhi Hukuman Usai Sebut Wasit FIFA Dipakai Mafia
-
Carlos Parreira Akui Kekuatan Persib Bandung, Tegaskan Madura United Tak Gentar
-
5 Kandidat Pemain Pria Terbaik di PSSI Awards 2026
-
PSSI Teledor! AFC Jatuhkan Denda Rp25 Juta Usai Timnas Indonesia U-23 Berlaga
-
Profil Anthony Lopes, Kiper FC Nantes yang Pura-pura Cedera Demi Rekan Setimnya Berbuka Puasa
-
Ole Romeny Masih Seret Gol, Pilihan Pertama Sebagai Timnas Indonesia Terancam
-
Siapa yang Bakal Jadi Pesepak Bola Pria Terbaik versi PSSI, Ini Kandidatnya