Bola / Bola Dunia
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:44 WIB
Justin Hubner mengaku masih adaptasi di Eredivisie Belanda. Ia juga mengatakan bahwa tekel yang biasa dilakukannya hal normal di Inggris. (Instagram/@fortuna.sittard)
Baca 10 detik
  • Justin Hubner mendapat kartu merah di laga melawan Ajax Amsterdam dan dikritik pelatih akibat gaya bermainnya.
  • Hubner menyatakan adaptasi kultur sepak bola Belanda berbeda dengan Inggris yang lebih mengandalkan fisik.
  • Pemain tersebut menyadari tekanan besar dari pendukung Timnas Indonesia berbeda jauh dibanding pemain lokal Belanda.

Suara.com - Kartu merah kilat dalam laga kontra Ajax Amsterdam menjadi pelajaran pahit bagi bek Timnas Indonesia, Justin Hubner.

Tak hanya merugikan tim, insiden tersebut juga memicu kritik keras dari pelatihnya sendiri, Danny Buijs yang tanpa ragu melabeli aksinya sebagai perbuatan bodoh.

Menanggapi insiden tersebut, Justin Hubner secara terbuka mengakui kesalahannya.

Namun ia juga memberikan sebuah konteks menarik karena beralasan masih dalam proses adaptasi dengan kultur sepak bola Belanda yang menurutnya sangat berbeda dari tempat ia ditempa sebelumnya, Inggris.

Menurutnya tekel keras yang berbuah kartu merah di Eredivisie mungkin akan dianggap sebagai duel biasa di kompetisi Inggris yang lebih mengandalkan fisik.

“Eredivisie membutuhkan waktu untuk beradaptasi, karena di Inggris kami bermain lebih keras. Mereka tidak terbiasa dengan tekel saya di sini. Saya juga menghadapi banyak kritik, dari orang-orang yang berpikir saya bisa menjatuhkan siapa pun,” kata Hubner kepada laman De Limburger.

Pemain berusia 22 tahun ini sadar betul bahwa ia tidak bisa terus mengandalkan gaya main agresifnya.

Ia berjanji untuk lebih menunjukkan sisi teknis permainannya dan belajar untuk mengontrol emosinya di atas lapangan.

“Tetapi seperti yang Anda lihat, saya juga bisa bermain sepakbola dan bertahan. Saya harus lebih menunjukkan itu dan terkadang tetap sedikit lebih tenang. Jika saya tetap tenang, tidak ada yang bisa melewati saya,” sambungnya.

Baca Juga: John Herdman Resmi! Erick Thohir: Timnas Indonesia Masuki Era Baru

Di balik proses adaptasinya di Belanda, Hubner juga menyinggung sebuah tantangan lain yang tak kalah berat, tekanan masif dari para pendukung Timnas Indonesia.

Ia membandingkan bagaimana skala kritik yang ia terima saat membela Garuda jauh lebih besar daripada yang dihadapi oleh pemain Belanda biasa.

“Jika seorang pemain Belanda bermain buruk, atau melakukan kesalahan, dia mungkin akan dikritik beberapa ratus orang. Saya dikritik oleh seratus ribu orang,” ucap Hubner.

Menghadapi tekanan sebesar itu, suka atau tidak, telah menjadi bagian dari mentalitasnya.

“Saya harus menghadapi tekanan itu, suka atau tidak. Saya pikir saya semakin baik dalam menghadapinya. Tunangan saya membantu saya, begitu juga agen dan manajer saya,” tambahnya lagi.

Pengakuan jujur dari Justin Hubner ini menjadi cerminan dari tantangan ganda yang harus ia hadapi, beradaptasi dengan gaya main baru di Eropa, sekaligus memikul beban ekspektasi raksasa dari ratusan ribu pasang mata di Indonesia.

Load More