Bola / Bola Indonesia
Sabtu, 17 Januari 2026 | 09:40 WIB
Jayden Oosterwolde dikabarkan sedang dibujuk Alex Pastoor gabung timnas Indonesia. (Instagram/@Jaydenoosterwolde)
Baca 10 detik
  • Lima terdakwa kerusuhan laga Galatasaray vs Fenerbahce divonis hukuman satu tahun empat bulan penjara.

  • Jayden Oosterwolde dan Mert Hakan Yandas mendapatkan keringanan berupa penundaan hukuman masa percobaan.

  • Fenerbahce melaporkan anggota dewan Galatasaray atas dugaan perekaman ilegal selama proses sidang elektronik.

Suara.com - Otoritas hukum di Istanbul secara resmi telah menetapkan status hukum bagi lima individu yang terlibat keributan.

Peristiwa pelanggaran hukum tersebut bermula dari tensi tinggi dalam laga derbi antara Galatasaray dan Fenerbahce.

Kejadian yang menyita perhatian publik internasional ini berlangsung pada tanggal 19 Mei tahun 2024 silam.

Majelis hakim di Turki memutuskan bahwa para terdakwa terbukti melakukan tindakan yang melanggar norma hukum olahraga.

Keputusan final mengenai hukuman ini dibacakan oleh pihak pengadilan pada hari Kamis tanggal 15 Januari 2026.

Di antara daftar nama yang menerima vonis tersebut terdapat dua sosok pilar utama klub Fenerbahce.

Nama pertama yang menjadi sorotan media adalah bek tangguh berkebangsaan Belanda, Jayden Oosterwolde.

Sosok kedua yang terseret dalam pusaran kasus ini adalah gelandang senior mereka bernama Mert Hakan Yandas.

Selain kedua pemain bintang tersebut terdapat tiga individu lain yang juga menyandang status sebagai terdakwa.

Baca Juga: Pemain Keturunan Indonesia Jayden Oosterwolde Divonis Penjara 1 Tahun 4 Bulan

Ketiganya diidentifikasi sebagai Ertugrul Karanlik bersama dengan Hulusi Belgu serta seorang pria bernama Emre Kartal.

Majelis hakim menetapkan durasi hukuman penjara selama satu tahun empat bulan bagi seluruh pihak terlibat.

Namun sistem peradilan Turki memberikan kebijakan khusus berupa penundaan pengumuman putusan secara resmi kepada mereka.

Kebijakan ini memungkinkan para terdakwa untuk tidak langsung masuk ke dalam sel tahanan negara tersebut.

Terdapat syarat mutlak yakni mereka tidak boleh melakukan pelanggaran pidana apa pun selama masa percobaan.

Jika komitmen tersebut dilanggar maka status hukuman penjara yang tertunda akan segera dieksekusi oleh jaksa.

Langkah hukum ini diambil untuk memberikan efek jera tanpa harus langsung menghentikan karier profesional atlet.

Para pemain diwajibkan untuk patuh terhadap segala ketentuan hukum yang berlaku di bawah pengawasan otoritas.

Selama periode pengawasan ini integritas dan perilaku para terdakwa akan terus dipantau secara rutin dan berkala.

Fenerbahce sebagai klub yang menaungi para pemain tersebut turut memberikan respons cepat terhadap dinamika hukum ini.

Mereka mengeluarkan pernyataan resmi yang menyoroti adanya dugaan kejanggalan dalam proses persidangan elektronik yang berlangsung.

Pihak manajemen Fenerbahce menyoroti tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh salah satu anggota dewan Galatasaray.

Nama Timur Kuban muncul sebagai sosok yang diduga melakukan perekaman ilegal melalui perangkat telepon genggam pribadinya.

Aksi pengambilan gambar tersebut dilakukan saat Mert Hakan sedang memberikan keterangan secara virtual kepada majelis hakim.

Tindakan ini dianggap sebagai pelanggaran privasi dan etika persidangan yang seharusnya dijaga kerahasiaannya oleh semua pihak.

Pihak klub merasa bahwa proses hukum telah dinodai oleh tindakan provokatif yang dilakukan secara terencana tersebut.

Pihak manajemen menekankan bahwa kehormatan institusi peradilan tidak boleh dikalahkan oleh fanatisme buta pendukung bola.

“Hukum tidak dapat dilanggar dengan refleks tribune atau loyalitas kelompok tertentu. Tindakan ini mencederai keseriusan proses peradilan dan nilai-nilai dasar olahraga,” demikian pernyataan resmi klub.

Klub yang sering disebut sebagai Sari-Lacivertliler ini menegaskan tidak akan tinggal diam atas insiden perekaman tersebut.

Barang bukti berupa ponsel yang digunakan untuk merekam dilaporkan telah disita dan dibuatkan berita acara resmi.

Kini berkas penyelidikan terkait tindakan ilegal Timur Kuban telah diserahkan sepenuhnya kepada Kejaksaan Umum Istanbul.

Fenerbahce berkomitmen penuh untuk melakukan pembelaan hukum demi melindungi hak-hak sipil yang dimiliki Mert Hakan.

Mereka menolak segala bentuk normalisasi terhadap tindakan yang mengintervensi kemurnian proses hukum di pengadilan Turki tersebut.

Kasus ini menjadi semakin menarik bagi publik tanah air karena latar belakang keluarga yang dimiliki Oosterwolde.

Jayden Oosterwolde diketahui memiliki garis keturunan Indonesia dan Belanda dalam identitas keragaman asal usul keluarganya tersebut.

Selain itu pemain yang berposisi di sektor pertahanan ini juga mempunyai darah keturunan dari negara Suriname.

Load More