Bola / Bola Indonesia
Sabtu, 31 Januari 2026 | 19:35 WIB
Xavier Markx, pemain diaspora yang dipanggil ke timnas Indonesia U-17. (Instagram Xavier Markx)
Baca 10 detik
  • Xavier Markx, adik Dion Markx, adalah pemain keturunan berbakat yang layak dipantau oleh pelatih Timnas Indonesia, John Herdman.
  • Xavier pernah mengikuti TC Timnas U-17 dan menjabat kapten tim U-13 Vitesse meski baru berusia 13 tahun.
  • Pemain ini telah menimba ilmu sepak bola taktis di Papendal Vitesse selama 7,5 tahun terakhir.

Suara.com - Xavier Markx adik dari pemain anyar Persib Bandung, Dion Markx layak untuk dipantau secara serius oleh pelatih Timnas Indonesia, John Herdman.

Meski sudah pernah mengikuti TC di Timnas Indonesia U-17 era kepelatihan Nova Arianto, Xavier belum lagi mendapat kesempatan untuk membela Timnas Indonesia.

Padahal Xavier termasuk sosok pemain muda keturunan Indonesia dengan talenta bagus. Bahkan ia sudah mengemban ban kapten di tim U-17 Vitesse.

Di usia masih sangat muda 13 tahun, Xavier dipercaya untuk jadi kapten tim U-13 Vitesse. Jiwa kepemipinan Xavier sangat diakui oleh rekan-rekannya di Vitesse, seperti Aiden de Bont.

“Kadang dia bisa lebih tegas, tapi Xavier memang kapten yang bagus,” kata de Bont seperti dilansir dari laman resmi Vitesse pada sesi wawancara 2023.

Musim itu, Markx dipercaya menjadi kapten tim. Peran tersebut dijalaninya dengan penuh tanggung jawab.

“Kalau pelatih mau bicara dan suasana tidak kondusif, saya yang memastikan semua fokus. Saya bangga dipercaya jadi kapten,” ucap adik Dion Markx tersebut.

Pada musim itu, Xavier turut membantu Vitesse mengalahkan Ajax U-13. Xavier jadi kapten di laga itu dan mengaku bahwa kemenangan itu berkat kecedasan taktik sang pelatih.

“Kami berlatih secara taktis sepanjang minggu. Pelatih menunjukkan momen-momen di mana Ajax bisa ditekan. Dengan bola panjang, kami bisa membuat mereka kesulitan. Menang 2-0 dengan persiapan seperti ini rasanya luar biasa,” kata Markx usai pertandingan.

Baca Juga: Motivasi John Herdman Latih Timnas Indonesia: Ingin Cetak Sejarah di Hadapan 280 Juat Orang

Xavier Markx sudah 7,5 tahun menimba ilmu di Papendal, pusat pengembangan bakat Vitesse.

Ia merasakan langsung transformasi dari sepak bola anak-anak menuju sepak bola modern yang penuh taktik.

“Dulu mainnya masih bergerombol ke bola. Sekarang kami belajar posisi, ruang, dan cara bermain cerdas. Saya belajar bagaimana menjadi pemain yang berpikir,” jelasnya.

Kontributor: Adam Ali

Load More