Bola / Bola Indonesia
Jum'at, 27 Februari 2026 | 09:46 WIB
Ragnar Oratmangoen (Timnas Indonesia)
Baca 10 detik
  • Ragnar Oratmangoen menceritakan perjalanannya menjadi mualaf sejak usia 15 tahun di Belanda.

  • Pemain naturalisasi ini sangat mengagumi keindahan suara adzan yang terdengar saat sesi latihan.

  • Ragnar menerapkan prinsip senyum adalah sunnah sebagai bentuk sedekah termudah kepada sesama.

Suara.com - Pemain keturunan Indonesia Ragnar Oratmangoen kini menjadi perhatian publik sepak bola tanah air berkat performa dan latar belakangnya yang unik.

Pemain yang baru saja merampungkan proses naturalisasi pada Maret 2024 ini resmi menyandang status sebagai warga negara Indonesia.

Di balik ketangguhannya di lapangan hijau, tersimpan cerita spiritual yang sangat mendalam mengenai pencarian jati diri sang pemain.

Ragnar dikenal sebagai satu-satunya penggawa timnas saat ini yang menjalani proses perpindahan keyakinan atau menjadi mualaf.

Keputusan besar untuk memeluk agama Islam tersebut diambilnya ketika ia masih berada di bangku remaja.

Pemain berbakat ini menghabiskan masa kecilnya di kota Oss, Belanda, di tengah lingkungan keluarga non-muslim.

Lahir dan tumbuh besar dalam ajaran Kristen, Ragnar mulai mengenal Islam justru melalui interaksi sosial dengan lingkungan sekitarnya.

Pergaulan erat dengan rekan-rekan sebaya yang mayoritas merupakan keturunan Maroko menjadi pintu pembuka rasa ingin tahunya.

Ketertarikan tersebut muncul secara perlahan tanpa ia rencanakan sebelumnya saat sedang beranjak dewasa di tanah kelahirannya.

Baca Juga: 4 Kiper Liga Italia Saingan Emil Audero untuk Dilirik Juventus

Sebuah ajakan sederhana dari sahabatnya untuk mengunjungi rumah ibadah umat Muslim ternyata merubah pandangan hidupnya secara total.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di masjid, Ragnar merasakan sebuah sensasi ketenangan batin yang tidak pernah ia temukan.

Pengalaman spiritual tersebut membuatnya semakin mantap untuk mempelajari lebih dalam tentang hakikat ketuhanan dalam ajaran Islam.

Tepat pada usia 15 tahun, ia dengan penuh keyakinan memutuskan untuk bersyahadat dan memulai kehidupan baru sebagai seorang Muslim.

Langkah ini bukan sekadar mengikuti tren pergaulan, melainkan sebuah komitmen iman yang ia pegang teguh hingga saat ini.

“Saya tidak lahir sebagai Muslim. Saya dibesarkan sebagai seorang Kristen. Tapi setelah tumbuh dewasa, saya menemukan jalan ke Islam,” ujar Ragnar.

Baginya, Islam memberikan panduan hidup yang sangat berharga dalam menghadapi berbagai tantangan baik di dalam maupun luar lapangan.

Pelajaran mengenai Tuhan yang ia dapatkan dari teman-temannya telah menyentuh sisi emosional yang paling dalam di hatinya.

"Teman-teman saya ketika itu membawa saya ke masjid. Mereka mengajari saya tentang Tuhan dan agama, dan bagaimana agama bisa membantu kehidupan kita, Itu menyentuh hati saya dan membuat saya memutuskan untuk menjadi seorang Muslim,” ungkapnya.

Perjalanan iman yang panjang ini juga membawa Ragnar pada kekaguman terhadap hal-hal kecil dalam praktik keagamaan sehari-hari.

Salah satu momen yang paling ia nantikan adalah ketika suara panggilan shalat atau adzan mulai berkumandang di telinganya.

Ragnar mengaku memiliki perasaan spesial setiap kali mendengar lantunan adzan yang memanggil umat untuk bersujud kepada Sang Pencipta.

Pengalaman menarik ia rasakan ketika jadwal latihan timnas bertepatan dengan waktu shalat di wilayah sekitar tempat ia berada.

Suasana religius di Indonesia membuatnya merasa lebih nyaman dan terhubung dengan komunitas yang memiliki keyakinan yang sama.

Kehadiran Ragnar di tim nasional tidak hanya memberikan kontribusi teknis, tetapi juga warna spiritual yang sangat positif bagi tim.

Selain ketaatannya dalam beribadah, pemain yang akrab disapa Wak Haji ini populer karena kepribadiannya yang sangat ramah.

Ia hampir selalu terlihat menebar senyum kepada siapa saja, baik kepada rekan setim, awak media, maupun para penggemarnya.

Sikap rendah hati ini ternyata bukan sekadar keramahan biasa, melainkan sebuah bentuk pengamalan ajaran Rasulullah SAW.

Dalam prinsip Islam, memberikan senyuman kepada orang lain memang dianggap sebagai salah satu bentuk sedekah yang paling sederhana.

Hal ini menjadi ibadah yang sangat mudah dilakukan namun memiliki dampak sosial yang sangat besar bagi hubungan antarmanusia.

Senyum yang tulus dipercaya mampu mempererat tali silaturahmi serta menciptakan energi positif di lingkungan sekitar tempat kita berada.

Ragnar memahami bahwa senyuman adalah jenis kebaikan yang bisa dilakukan oleh siapa pun tanpa harus mengeluarkan biaya materiil.

Tindakan kecil ini diyakini mampu menjadi amalan yang dapat memberatkan timbangan pahala seseorang di hari perhitungan kelak.

Kisah Ragnar Oratmangoen memberikan inspirasi bahwa profesionalisme di dunia olahraga dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai spiritualitas yang kuat.

Ketulusannya dalam menjalankan keyakinan dan keramahannya membuat ia menjadi sosok idola baru yang dicintai oleh rakyat Indonesia.

Load More