Bola / Bola Dunia
Kamis, 05 Maret 2026 | 20:51 WIB
Erick Thohir dan Pierluigi Collina (Instagram/@erickthohir)
Baca 10 detik
  • Pierluigi Collina, ketua wasit FIFA, menyatakan kritik VAR wajar seperti krisis pernikahan setelah tujuh tahun.
  • IFAB berencana memperluas cakupan VAR untuk meninjau keputusan kartu kuning kedua yang keliru dan tendangan sudut.
  • Perubahan ini muncul karena teknologi VAR telah berkembang signifikan sejak pertama diuji coba pada tahun 2016.

Suara.com - Mantan wasit legendaris Pierluigi Collina membuat pernyataan menarik soal teknologi Video Assistant Referee atau VAR.

Dalam rapat tahunan International Football Association Board (IFAB) di Wales, Collina menyamakan hubungan sepak bola dengan VAR seperti pernikahan yang mengalami pasang surut.

Saat ini Collina menjabat sebagai ketua komite wasit FIFA. Ia mengatakan kritik terhadap VAR adalah hal yang wajar setelah teknologi tersebut digunakan selama beberapa tahun.

“Di Italia kami mengatakan bahwa setiap pernikahan indah akan mengalami krisis setelah tujuh tahun,” ujar Collina dilansir dari Calciomercato

“Orang mungkin dulu jatuh cinta pada VAR, tetapi setelah beberapa tahun, seperti dalam pernikahan, bisa muncul krisis kecil.”

Komentar Collina muncul di tengah meningkatnya frustrasi para penggemar terhadap penggunaan VAR di berbagai liga.

Penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) di laga sepak bola profesional. [AFP]

Sebagian pihak bahkan menyerukan agar sistem tersebut dihapus setelah hampir satu dekade digunakan.

Meski begitu, IFAB justru berencana memperluas penggunaan VAR.

Salah satu perubahan penting adalah memungkinkan wasit meninjau kartu kuning kedua yang keliru, sesuatu yang sebelumnya tidak bisa diperiksa melalui VAR.

Baca Juga: Bek Spanyol Kritik Rencana John Herdman Rekrut 2 Pemain Eropa Bela Timnas Indonesia

Perubahan ini muncul setelah insiden di Serie A, ketika bek Pierre Kalulu dari Juventus dianggap salah dikartu merah saat melawan Inter Milan.

Selain kartu kuning kedua, VAR juga akan digunakan untuk meninjau keputusan tendangan sudut yang salah.

Menurut Collina, perubahan ini diperlukan karena perkembangan teknologi sepak bola.

“Ketika kami memutuskan menguji VAR pada 2016, teknologinya sangat berbeda,” kata Collina.

“Protokol saat itu dibuat dari nol dan terinspirasi dari olahraga lain seperti rugby.”

Ia menambahkan bahwa pengalaman bertahun-tahun membuat sistem VAR kini jauh lebih matang.

Load More