Bola / Bola Indonesia
Sabtu, 21 Maret 2026 | 18:30 WIB
Skuat Timnas Indonesia di laga melawan Australia, 20 Maret 2025 (pssi.org)
Baca 10 detik
  • Eks pelatih Timnas Indonesia, Ivan Kolev, menyindir kebijakan naturalisasi berlebihan pada skuat saat ini jelang FIFA Series 2026.
  • Kolev menekankan dirinya dahulu memprioritaskan pemain lokal dan menentang naturalisasi karena hasilnya belum maksimal.
  • Ia memahami federasi memilih pelatih asing karena dianggap memiliki otoritas atau wibawa lebih besar dibanding pelatih lokal.

Suara.com - Eks pelatih Timnas Indonesia, Ivan Kolev jelang FIFA Series 2026 menyindir soal pemain naturalisasi di skuat besutan John Herdman.

Kolev yang berasal dari Bulgaria mengaku bahwa di FIFA Series 2026, negaranya akan disambut antusias oleh publik Indonesia.

Kolev mengaku masih mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia karena memiliki kedekatan emosional.

Ia juga menyinggung hubungan masa lalu dengan pelatih Bulgaria saat ini, Aleksandar Dimitrov, yang pernah menjadi asistennya.

Namun, Kolev menilai sulit membandingkan Timnas Indonesia era sekarang dengan masa kepelatihannya. 

Pelatih Persija Jakarta, Ivan Kolev (kanan) bersama gelandang Sandi Sute dalam junpa pers jelang laga Liga 1 2019 kontra Bali United. [dok. Media Persija]

Kolev kemudian menyoroti perubahan besar, terutama terkait kebijakan naturalisasi pemain.

“Di masa saya, saya sangat peduli dengan pemain lokal dan menentang naturalisasi berlebihan,” kata eks pelatih Persija itu seperti dilansir dari Dsport.dg.

“Saya melihat ada lima sampai enam pemain asing di klub, dan tim nasional juga penuh pemain asing,” katanya.

Menurutnya, kebijakan tersebut belum memberikan hasil maksimal.

Baca Juga: Bintang Persib Tercoret, Ini Skuad Final Timnas Indonesia di FIFA Series 2026

“Mereka pikir ini berhasil, tapi hasilnya tidak sesuai harapan masyarakat Indonesia,” ujar Kolev.

Selain itu, ia juga menyinggung keputusan federasi yang lebih memilih pelatih asing. Meski mengkritik, Kolev memahami alasan di balik kebijakan tersebut.

“Mereka mencari pelatih dengan otoritas lebih besar. Mungkin pelatih lokal dianggap kurang berwibawa, meski itu penilaian yang keliru,” pungkasnya.

Kontributor: M.Faqih

Load More