Bola / Bola Indonesia
Rabu, 22 April 2026 | 20:13 WIB
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. (Instagram/erickthohir)
Baca 10 detik
  • Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan larangan keras tindakan rasisme dalam kompetisi Elite Pro Academy demi menjaga sportivitas.
  • Erick mendesak operator kompetisi dan klub peserta untuk mengedepankan pembinaan karakter serta edukasi anti-rasisme bagi para pemain muda.
  • Bhayangkara FC dan Dewa United diapresiasi karena telah menyelesaikan insiden rasisme antar pemain melalui jalur damai secara kekeluargaan.

Suara.com - Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, angkat suara terkait dugaan tindakan rasisme yang mencoreng kompetisi usia muda Elite Pro Academy (EPA). 

Erick menegaskan, tidak ada ruang bagi perilaku diskriminatif dalam sepak bola Indonesia, baik di level pembinaan maupun profesional.

Menurut Erick, setiap bentuk rasisme, baik berupa ucapan, ekspresi, maupun tindakan, harus ditindak serius oleh semua pihak.

Ia menekankan pentingnya peran operator kompetisi seperti I-League serta klub-klub peserta untuk bersikap tegas dan bertanggung jawab dalam menjaga nilai-nilai sportivitas.

Lebih jauh, Erick mengingatkan bahwa pembinaan sepak bola usia muda tidak boleh hanya berorientasi pada hasil pertandingan semata.

Ilustrasi rasisme [Unsplash.Berko]

Aspek karakter, emosi, serta sikap saling menghormati harus menjadi fondasi utama dalam proses pengembangan pemain.

“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepakbola. Baik di kancah internasional dan juga nasional," kata Erick Thohir dalam keterangannya.

"Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik," jelasnya.

Erick pun meminta I-League sebagai pengelola EPA, Liga 1, dan Liga 2 untuk terus mengedepankan nilai empati dan saling menghargai antar pemain.

Baca Juga: Bukan Hanya Fadly Alberto Hengga, Jejak Kekerasan Juga Menyeret Pemain Muda Ini

Hal ini dinilai krusial demi menciptakan atmosfer kompetisi yang sehat dan mendidik.

Selain itu, PSSI mendorong penguatan edukasi terkait anti-rasisme, anti-kekerasan, serta kepatuhan terhadap aturan pertandingan di semua level.

Pengawasan jalannya pertandingan juga harus diperketat agar kompetisi usia muda benar-benar menjadi ruang belajar yang aman.

“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni. Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik," lanjutnya.

Dalam pernyataannya, Erick juga memberikan apresiasi kepada Bhayangkara FC dan Dewa United yang telah mengambil langkah damai dengan mempertemukan dua pemain yang terlibat, yakni Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis.

"Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan dan kesatuan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Pancasila, bahwa meskipun kita berbeda-beda daerah, tapi kita semua ini berjuang bersama demi Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain," pungkasnya.

Load More