Bola / Bola Dunia
Selasa, 05 Mei 2026 | 10:58 WIB
Kesepakatan hak siar Piala Dunia 2026 di India dan China buntu karena selisih harga yang tajam. (FIFA)
Baca 10 detik
  • Jutaan fans di India dan China terancam tidak bisa menonton siaran Piala Dunia 2026.

  • Penawaran rendah dari media lokal ditolak FIFA karena dianggap jauh dari nilai pasar.

  • Selisih waktu tayang dan dominasi kriket menjadi kendala utama negosiasi hak siar India.

Suara.com - Miliaran penduduk di India dan China kini menghadapi risiko besar tidak bisa menyaksikan perhelatan Piala Dunia 2026.

Kondisi ini dipicu oleh kegagalan kesepakatan nilai komersial antara otoritas sepak bola dunia dengan perusahaan media setempat.

Keengganan jaringan televisi raksasa membayar harga tinggi dari FIFA menjadi faktor utama yang menghambat proses distribusi siaran.

Republik Ceko melaju ke Piala Dunia 2026. (Instagram/@tsghoffenheim)

Perusahaan patungan Reliance-Disney di India dilaporkan hanya mengajukan penawaran sebesar 20 juta dolar AS untuk hak siar tersebut.

Angka tersebut jauh di bawah harapan FIFA yang menginginkan nilai kontrak setara dengan edisi turnamen di Qatar sebelumnya.

Pihak FIFA mengonfirmasi bahwa proses komunikasi masih diupayakan meski bersifat tertutup dari jangkauan publik saat ini.

"Diskusi di China dan India mengenai penjualan hak media untuk Piala Dunia FIFA 2026 sedang berlangsung dan harus tetap rahasia pada tahap ini," menurut pernyataan resmi FIFA.

Operasi tempur gabungan di Teheran memunculkan keraguan baru. Telusuri dampak serangan AS terhadap status kepesertaan Iran dalam turnamen sepak bola paling bergengsi tahun ini.

Kesenjangan nilai tawar ini membuat posisi kedua belah pihak berada dalam situasi yang sangat sulit untuk berdamai.

Faktor zona waktu menjadi pertimbangan utama mengapa media India enggan mengeluarkan dana besar untuk turnamen di Amerika Utara.

Baca Juga: Piala Dunia 2026 Bisa Jadi Edisi Paling Cuan dalam Sejarah karena Ini

Pertandingan yang dijadwalkan tayang pada dini hari waktu Asia diperkirakan akan menurunkan minat penonton secara drastis.

Selain itu, dominasi olahraga kriket di India membuat sepak bola sulit mendapatkan nilai iklan premium yang setara.

"Sepak bola adalah segmen ceruk di India," kata seorang sumber industri terkait kondisi pasar media saat ini.

Kelesuan ekonomi global akibat konflik internasional juga disebut memperburuk ekspektasi pendapatan dari sektor periklanan televisi.

Di sisi lain, China yang menyumbang hampir separuh durasi tontonan digital global pada 2022 juga belum memberikan kepastian.

Hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai mitra siaran meski turnamen akbar tersebut segera dimulai dalam waktu dekat.

Load More