Bola / Bola Indonesia
Selasa, 12 Mei 2026 | 14:24 WIB
Pengamat meminta PSSI dan I.League tegas terhadap klub yang menunggak gaji pemain serta menerapkan audit keuangan demi kompetisi yang lebih sehat. (ileague.id)
Baca 10 detik
  • Pengamat Kesit Budi Handoyo mendesak PSSI dan I.League bertindak tegas terhadap klub yang menunggak gaji pemain profesional.
  • Masalah tunggakan gaji pada beberapa klub menunjukkan tata kelola kompetisi nasional saat ini belum berjalan dengan sehat.
  • PSSI disarankan menerapkan audit keuangan ketat dan standar finansial jelas sebelum klub diizinkan mengikuti kompetisi liga.

Suara.com - Pengamat sepak bola nasional Kesit Budi Handoyo meminta PSSI dan operator kompetisi I.League bersikap lebih tegas terhadap klub-klub yang masih menunggak gaji pemain. Menurutnya, persoalan tersebut menunjukkan tata kelola kompetisi belum berjalan sehat.

Ia menilai kondisi ini bertolak belakang dengan target PSSI untuk meningkatkan kualitas dan daya saing liga di level Asia.

“Menurut saya ini ironis dan memalukan,” ujar Kesit kepada Suara.com.

Ia menambahkan, keinginan menaikkan level kompetisi harus diiringi pembenahan internal. “Ingin levelnya naik, tetapi di dalam negeri masih ada persoalan seperti ini. Tidak sinkron,” katanya.

Bukan Hanya Satu Klub

Pemain PSBS Biak ancam mogok latihan dan bertanding jelang lawan Dewa United. Gaji empat bulan belum dibayar, manajemen didesak segera bertindak. [Dok. Nelson Alom IG]

Kesit menyebut tunggakan gaji tidak hanya terjadi pada satu klub. Beberapa tim pernah tersorot karena mengalami masalah serupa, termasuk PSBS Biak, Semen Padang, dan PSM Makassar.

Persija Jakarta juga sempat dikaitkan dengan persoalan serupa, meski disebut relatif dapat mengatasinya.

Menurutnya, situasi tersebut menunjukkan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap kondisi finansial klub peserta kompetisi.

Dorongan Audit dan Standar Finansial

Baca Juga: Militansi Suporter Garuda Jelang Laga Timnas Indonesia di Piala Asia 2027, Exco PSSI: Gila

Kesit mendesak PSSI dan I.League menerapkan audit keuangan sebelum klub diizinkan tampil di kasta tertinggi. Langkah itu dinilai penting untuk memastikan klub memiliki kemampuan finansial yang memadai.

“Kalau tidak diaudit, kita tidak tahu kondisi keuangan klub seperti apa,” ujarnya.

Ia menegaskan, klub harus berbelanja sesuai kemampuan. “Kalau kemampuan hanya 100, jangan belanjanya lebih dari itu,” katanya.

Kesit juga menyoroti skema subsidi liga yang kerap digunakan untuk menutup tunggakan gaji. Menurutnya, gaji adalah hak pemain yang harus dibayarkan tepat waktu.

“Gaji harus dibayar setiap bulan. Jika terlambat, bagaimana klub bisa berjalan sehat?” ucapnya.

Ia berharap PSSI dan I.League menetapkan standar finansial yang jelas demi menjaga kualitas dan keberlanjutan kompetisi nasional.

Load More