Bola / Bola Dunia
Senin, 15 Juni 2026 | 10:05 WIB
Presiden UEFA Aleksander Ceferin. [AFP]
Baca 10 detik
  • Sebanyak 13 federasi sepak bola lintas benua resmi mengecam Presiden UEFA Aleksander Ceferin terkait isu perluasan format Piala Dunia.
  • Pernyataan bersama yang dirilis hari Senin ini menolak pandangan Ceferin yang menganggap pertandingan kualifikasi Piala Dunia tidak menarik.
  • Koalisi federasi menuntut penghormatan setara terhadap perjuangan seluruh tim nasional tanpa memandang status wilayah dalam kompetisi sepak bola global.

Suara.com - Sebanyak 13 federasi sepak bola lintas benua resmi melancarkan aksi kecaman keras terhadap Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, terkait isu perluasan format Piala Dunia.

Tensi memanas setelah Aleksander Ceferin melontarkan kritik pedas yang menyebut banyak pertandingan kualifikasi Piala Dunia saat ini sudah tidak lagi menarik untuk disaksikan.

Koalisi negara-negara dari benua Afrika, Karibia, hingga Asia Tengah ini menilai pandangan bos UEFA tersebut sangat merendahkan perjuangan serta mimpi tim-tim nasional di seluruh dunia.

Perlawanan terhadap Elitisme Sepak Bola

Pelatih Brasil, Carlo Ancelotti, tetap tenang meski timnya hanya bermain imbang 1-1 melawan Maroko pada laga pembuka Piala Dunia 2026. [Instagram CBF]

Melalui pernyataan bersama yang dirilis pada Senin (15/6/2026), para federasi ini menegaskan bahwa setiap laga internasional memiliki nilai yang sakral bagi rakyat mereka.

Negara-negara yang tergabung dalam aksi protes ini antara lain Senegal, Tanjung Verde, Curacao, Uzbekistan, Kongo, Haiti, Aljazair, Tunisia, Maroko, Mesir, Ghana, Pantai Gading, dan Afrika Selatan.

Mereka bersatu untuk mematahkan narasi Aleksander Ceferin yang dianggap hanya melihat sepak bola dari sudut pandang kepentingan elite Eropa.

Pernyataan resmi ini pertama kali dipublikasikan melalui akun X milik Federasi Sepak Bola Maroko sebagai bentuk respons langsung terhadap polemik format baru tersebut.

"Bagi negara-negara kami, tidak ada pertandingan Piala Dunia FIFA yang tidak penting. Lolos ke Piala Dunia FIFA merupakan pencapaian bersejarah dan perwujudan mimpi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” bunyi pernyataan bersama tersebut dikutip dari Antara.

Baca Juga: Resmi Debut di Piala Dunia, Tijjani Reijnders Kenang Momen Didekati Timnas Indonesia

Mimpi Besar di Balik Laga Kualifikasi

Bagi 13 federasi tersebut, anggapan bahwa laga kualifikasi kurang penting merupakan bentuk pengabaian terhadap pengorbanan jutaan elemen sepak bola.

Hal ini dinilai melukai perasaan para pemain, pelatih, pengurus klub, hingga suporter yang telah memberikan segalanya demi satu tiket ke putaran final.

Setiap perjalanan menuju panggung dunia dibangun melalui investasi jangka panjang, perencanaan matang, dan kerja keras yang memakan waktu bertahun-tahun.

Di balik setiap jersi tim nasional, terdapat komunitas besar yang melihat sepak bola sebagai sumber kebanggaan dan salah satu harapan pemersatu bangsa.

Oleh karena itu, koalisi ini menekankan bahwa sepak bola adalah olahraga global yang tidak dimiliki oleh segelintir kelompok eksklusif atau pengambil keputusan tertentu saja.

Load More