Bola / Bola Indonesia
Selasa, 16 Juni 2026 | 10:28 WIB
Lagu kebangsaan Iran dicemooh di SoFi Stadium saat Piala Dunia 2026. Suporter mengibarkan bendera pra-revolusi di tengah laga kontra Selandia Baru. [Claire]
Baca 10 detik
  • Timnas Iran menghadapi Selandia Baru di SoFi Stadium, Los Angeles, dalam laga pembuka Piala Dunia 2026 yang diwarnai protes.
  • Penonton yang terbagi secara politik menyambut lagu kebangsaan Iran dengan cemoohan, sorakan dukungan, serta pengibaran bendera yang berbeda.
  • Laga berakhir imbang dan menjadi ujian diplomasi internasional di tengah upaya perdamaian antara pemerintah Iran dan Amerika Serikat.

Suara.com - Atmosfer pertandingan pembuka Timnas Iran di ajang Piala Dunia 2026 berubah menjadi panggung protes politik yang emosional saat berlaga di SoFi Stadium, Los Angeles.

Lagu kebangsaan Republik Islam Iran disambut dengan kombinasi cemoohan dan suara siulan nyaring dari tribun penonton sesaat sebelum kick-off dimulai.

Insiden ini mencerminkan perpecahan di kalangan warga Iran-Amerika yang memadati stadion dalam laga kontra Selandia Baru yang berakhir imbang tersebut.

Los Angeles sendiri sering dijuluki sebagai 'Tehrangeles' karena menjadi rumah bagi sekitar 230.000 warga keturunan Iran yang sebagian besar bermigrasi pascarevolusi 1979.

Banyak dari mereka yang hadir di stadion secara terbuka menunjukkan penolakan terhadap pemerintahan di Teheran dengan mengibarkan bendera pra-revolusi bergambar singa yang memegang pedang dan matahari.

Ketegangan di Balik Tribun Penonton

Hasil Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026. (Instagram/@iran_football_federation)

Cemoohan mulai terdengar sejak wajah para pemain Timnas Iran muncul di layar raksasa stadion yang terletak di kawasan Southern California tersebut.

Suasana semakin memanas ketika penyiar stadion meminta seluruh penonton untuk berdiri guna menghormati lagu kebangsaan masing-masing negara peserta.

Meskipun cemoohan mendominasi, reaksi penonton di stadion berkapasitas besar itu sebenarnya tidak sepenuhnya bersifat negatif terhadap perwakilan negara tersebut.

Baca Juga: Susah Payah Hadapi Arab Saudi, Maximiliano Araujo Selamatkan Uruguay dari Kekalahan

Terdapat kantong-kantong pendukung pro-pemerintah yang tetap memberikan sorakan dukungan sambil mengibarkan bendera resmi negara yang berlaku saat ini.

Bahkan ketika lagu kebangsaan mencapai puncaknya, terdengar gelombang sorakan yang mencoba menandingi suara siulan dari kelompok penentang rezim.

Aspirasi Persatuan Melalui Sepak Bola

Sebelum pertandingan dimulai, sekelompok pengunjuk rasa juga melakukan demonstrasi di luar stadion untuk mengecam persekusi terhadap atlet dan tahanan politik di Iran.

Namun, di tengah perpecahan ideologi yang tajam, masih ada harapan bahwa prestasi olahraga dapat menjadi jembatan pemersatu bagi seluruh diaspora.

"Anda tentu berharap sepak bola dan olahraga membawa persatuan," ujar Dany Taheri, seorang penggemar Timnas Iran kepada NBCLA.

Load More