- Federasi sepak bola Tunisia resmi memecat pelatih Sabri Lamouchi setelah kekalahan telak 5-1 dari Swedia di Piala Dunia 2026.
- Keputusan pemecatan diambil karena performa buruk tim serta adanya laporan perselisihan fisik di dalam kamp latihan Tunisia.
- Kondisi ini menempatkan Tunisia di dasar klasemen Grup F dan menyulitkan mereka untuk melaju ke babak gugur turnamen.
Kejadian drastis ini mengulangi sejarah kelam mereka pada edisi Piala Dunia 1998 silam saat juga mengambil langkah serupa.
Kala itu, Tunisia memecat Henryk Kasperczak tepat setelah tim dipastikan tersingkir secara matematis di babak grup usai kalah dari Inggris dan Kolombia.
Fenomena pemecatan kilat ini juga pernah dialami Cha Bum-kun dari Korea Selatan pada edisi yang sama setelah kalah telak 5-0 dari Belanda.
Pada sejarah yang lebih baru, Spanyol juga pernah memecat Julen Lopetegui hanya dua hari sebelum Piala Dunia 2018 dimulai akibat masalah negosiasi dengan Real Madrid.
Namun, kasus Sabri Lamouchi di Piala Dunia 2026 ini dianggap jauh lebih dramatis karena melibatkan keributan internal pemain dan ofisial.
Nasib Skuad Tunisia di Grup Neraka
Kini Tunisia harus berjuang tanpa nakhoda tetap di saat sedang berada dalam posisi yang sangat sulit di dasar klasemen Grup F.
Mereka berada di bawah bayang-bayang kehebatan Swedia, Belanda, dan Jepang yang menghuni grup neraka tersebut.
Mencapai babak gugur kini dianggap sebagai misi yang nyaris mustahil bagi Tunisia jika tidak segera melakukan perbaikan mental secara menyeluruh.
Baca Juga: Susah Payah Hadapi Arab Saudi, Maximiliano Araujo Selamatkan Uruguay dari Kekalahan
Tugas berat kini menanti siapa pun yang akan menggantikan posisi Lamouchi untuk menghadapi sisa pertandingan krusial di fase grup.
Dunia sepak bola kini menanti apakah keputusan ekstrem ini akan membawa perubahan positif atau justru menenggelamkan Tunisia lebih dalam.
Berita Terkait
-
Mau Nobar Piala Dunia? 5 Inspirasi Outfit Ini Buat Penampilanmu Makin Kece
-
Vibes Piala Dunia 2026 Masih Anyep, FIFA Harusnya Lirik 2 Potensi Besar Ini untuk Dimaksimalkan
-
Wasit VAR Shaun Evans Bebas Sanksi FIFA, Gestur 'OK' Terbalik Bukan Simbol Supremasi Kulit Putih
-
Lagu Kebangsaan Iran Dicemooh di Piala Dunia 2026, Bendera Revolusi Berkibar di SoFi Stadium
-
Mikel Oyarzabal 0 Sentuhan di 30 Menit Pertama! Begini Cara Cape Verde 'Matikan' Spanyol
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari APBD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Wasit VAR Shaun Evans Bebas Sanksi FIFA, Gestur 'OK' Terbalik Bukan Simbol Supremasi Kulit Putih
-
Lagu Kebangsaan Iran Dicemooh di Piala Dunia 2026, Bendera Revolusi Berkibar di SoFi Stadium
-
Mikel Oyarzabal 0 Sentuhan di 30 Menit Pertama! Begini Cara Cape Verde 'Matikan' Spanyol
-
Hasil Piala Dunia 2026: Saling Kejar Gol, Iran Ditahan Imbang Selandia Baru
-
Rekor dan Air Mata Vozinha: Kiper Cape Verde yang Permalukan Spanyol di Tengah Masalah Visa Sang Ibu
-
Real Madrid Incar Pemain Chelsea Lagi, Usai Dapatkan Marc Cucurella Kini Ingin Enzo Fernandez
-
Piala Dunia 2026: Kylian Mbappe Berjanji Tak Malas Ikut Bertahan Jelang Prancis vs Senegal
-
Tahan Imbang Uruguay, Arab Saudi Perpanjang Catatan Wakil Asia Belum Kalah di Piala Dunia 2026
-
Susah Payah Hadapi Arab Saudi, Maximiliano Araujo Selamatkan Uruguay dari Kekalahan
-
Proses Naturalisasi Disetujui Komisi X DPR RI, Luke Vickery: Ini Impian Saya Sejak Lama