- Filipina mengalami lonjakan kasus kecanduan judi online di kalangan masyarakat selama berlangsungnya turnamen sepak bola Piala Dunia 2026.
- Layanan rehabilitasi Bridges of Hope mencatat peningkatan signifikan panggilan bantuan dari keluarga yang terdampak masalah finansial serta mental.
- Pemerintah Filipina telah membatasi akses perjudian, namun aktivis menilai langkah tersebut belum efektif menangani ketergantungan yang kian meluas.
Menariknya, sebagian besar panggilan bantuan masuk pada dini hari, waktu yang oleh para konselor disebut sebagai "jam keputusasaan" setelah para penjudi mengalami kerugian besar.
Siapa yang Paling Rentan?
Filipina merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang melegalkan judi online dan taruhan olahraga bagi warga berusia 21 tahun ke atas.
Regulator perjudian negara, PAGCOR, sebelumnya mencatat sekitar 32 juta akun electronic gaming terdaftar hingga Juli 2025. Meski jumlah pemain aktif kemudian diklarifikasi lebih rendah, tingkat partisipasi masyarakat tetap tergolong tinggi.
Konselor kecanduan judi, Teresita Castillo, mengatakan sebagian besar pemain berasal dari kelompok berpenghasilan rendah hingga menengah.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, anak muda yang melek teknologi dan memiliki akses mudah ke platform digital juga menjadi kelompok yang semakin rentan terhadap kecanduan judi online.
Ibu Rumah Tangga hingga Pekerja Migran Ikut Terdampak
Direktur Recovering Gamblers of the Philippines, Reagan Praferosa, mengungkapkan munculnya tren baru yang cukup memprihatinkan.
Menurutnya, semakin banyak ibu rumah tangga yang menghubungi layanan bantuan setelah kehilangan uang kebutuhan keluarga akibat berjudi.
Baca Juga: Pemain Kanada yang Cedera Horor Ternyata Rekan Jay Idzes di Sassuolo
"Akhir-akhir ini, terutama di musim kembali ke sekolah, ada ibu-ibu yang menelepon sambil menangis," kata Praferosa.
"Uang yang diperuntukkan bagi biaya sekolah atau membeli buku justru habis diperjudikan," lanjutnya.
Fenomena serupa juga ditemukan di kalangan pekerja migran Filipina yang bekerja di luar negeri, termasuk para asisten rumah tangga di Hong Kong.
Efektivitas Kebijakan Pemerintah Dipertanyakan
Untuk menekan angka kecanduan, pemerintah Filipina telah memerintahkan penghapusan baliho iklan perjudian dan membatasi akses pembayaran melalui dompet digital ke platform taruhan.
Ketua PAGCOR, Alejandro Tengco, memperkirakan kebijakan tersebut akan berdampak pada penurunan pendapatan industri perjudian.
Namun, para konselor dan aktivis anti-judi menilai langkah tersebut belum cukup efektif untuk mengurangi jumlah pecandu.
Mereka khawatir banyak pemain hanya akan berpindah ke platform ilegal yang lebih sulit diawasi oleh regulator.
Selain itu, tekanan ekonomi dan meningkatnya biaya hidup dinilai menjadi faktor yang mendorong sebagian masyarakat mencari keuntungan instan melalui aktivitas perjudian.
Industri Judi: Antara Pendapatan dan Dampak Sosial
Legalisasi perjudian selama ini menjadi dilema bagi Filipina.
Di satu sisi, sektor ini memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara. Namun di sisi lain, dampak sosial yang ditimbulkan terus menjadi sorotan.
Aktivis anti-judi mendesak pemerintah memperketat regulasi, terutama terkait iklan dan akses platform digital yang mudah dijangkau generasi muda.
Mereka juga meminta peningkatan anggaran untuk layanan rehabilitasi dan hotline bantuan agar mampu menangani lonjakan kasus kecanduan yang terus terjadi.
Dengan meningkatnya popularitas taruhan online selama Piala Dunia 2026, kebutuhan akan langkah pencegahan yang lebih komprehensif dinilai semakin mendesak untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk perjudian.
Berita Terkait
-
Lionel Messi Dapat Kabar Buruk dari Keluarga di Tengah Piala Dunia 2026
-
Didikan John Herdman, Striker Kanada Jonathan David Cetak Hattrick di Piala Dunia 2026
-
Ayah Lionel Messi Meninggal di Tengah Piala Dunia 2026? Keluarga Buka Suara
-
Ronaldo soal Tak Main Bagus : Portugal Bisa Saja Menang, Tapi...
-
Son Heung-min Bidik Rekor Park Ji-sung saat Korea Selatan Tantang Meksiko di Piala Dunia 2026
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis
-
Klasemen Piala AFF 2026 Usai Timnas Indonesia Digebuk Vietnam: Wajib Menang di Singapura
-
Mengapa Direktur Bus ALS Jadi Tersangka? Polisi Periksa 50 Saksi sebelum Naikkan Kasus ke Penyidikan
-
Polda Metro Jaya Siap Ladeni 'Serangan' Praperadilan Keempat Roy Suryo
-
Ada Anomali dalam Kebakaran BYD Seal di Cikampek, Investigasi Masih Berlangsung
-
30 Juta Cowok di China Jomblo, Mak Comblang Jadi Ladang Bisnis Cuan