Bola / Bola Indonesia
Jum'at, 19 Juni 2026 | 11:45 WIB
Piala Dunia 2026 memicu lonjakan kecanduan judi online di Filipina. Hotline rehabilitasi dibanjiri panggilan, sementara dampaknya menghancurkan keluarga. [Dok. Gemini]
Baca 10 detik
  • Filipina mengalami lonjakan kasus kecanduan judi online di kalangan masyarakat selama berlangsungnya turnamen sepak bola Piala Dunia 2026.
  • Layanan rehabilitasi Bridges of Hope mencatat peningkatan signifikan panggilan bantuan dari keluarga yang terdampak masalah finansial serta mental.
  • Pemerintah Filipina telah membatasi akses perjudian, namun aktivis menilai langkah tersebut belum efektif menangani ketergantungan yang kian meluas.

Menariknya, sebagian besar panggilan bantuan masuk pada dini hari, waktu yang oleh para konselor disebut sebagai "jam keputusasaan" setelah para penjudi mengalami kerugian besar.

Siapa yang Paling Rentan?

Filipina merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang melegalkan judi online dan taruhan olahraga bagi warga berusia 21 tahun ke atas.

Regulator perjudian negara, PAGCOR, sebelumnya mencatat sekitar 32 juta akun electronic gaming terdaftar hingga Juli 2025. Meski jumlah pemain aktif kemudian diklarifikasi lebih rendah, tingkat partisipasi masyarakat tetap tergolong tinggi.

Konselor kecanduan judi, Teresita Castillo, mengatakan sebagian besar pemain berasal dari kelompok berpenghasilan rendah hingga menengah.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, anak muda yang melek teknologi dan memiliki akses mudah ke platform digital juga menjadi kelompok yang semakin rentan terhadap kecanduan judi online.

Ibu Rumah Tangga hingga Pekerja Migran Ikut Terdampak

Direktur Recovering Gamblers of the Philippines, Reagan Praferosa, mengungkapkan munculnya tren baru yang cukup memprihatinkan.

Menurutnya, semakin banyak ibu rumah tangga yang menghubungi layanan bantuan setelah kehilangan uang kebutuhan keluarga akibat berjudi.

Baca Juga: Pemain Kanada yang Cedera Horor Ternyata Rekan Jay Idzes di Sassuolo

"Akhir-akhir ini, terutama di musim kembali ke sekolah, ada ibu-ibu yang menelepon sambil menangis," kata Praferosa.

"Uang yang diperuntukkan bagi biaya sekolah atau membeli buku justru habis diperjudikan," lanjutnya.

Fenomena serupa juga ditemukan di kalangan pekerja migran Filipina yang bekerja di luar negeri, termasuk para asisten rumah tangga di Hong Kong.

Efektivitas Kebijakan Pemerintah Dipertanyakan

Untuk menekan angka kecanduan, pemerintah Filipina telah memerintahkan penghapusan baliho iklan perjudian dan membatasi akses pembayaran melalui dompet digital ke platform taruhan.

Ketua PAGCOR, Alejandro Tengco, memperkirakan kebijakan tersebut akan berdampak pada penurunan pendapatan industri perjudian.

Namun, para konselor dan aktivis anti-judi menilai langkah tersebut belum cukup efektif untuk mengurangi jumlah pecandu.

Mereka khawatir banyak pemain hanya akan berpindah ke platform ilegal yang lebih sulit diawasi oleh regulator.

Selain itu, tekanan ekonomi dan meningkatnya biaya hidup dinilai menjadi faktor yang mendorong sebagian masyarakat mencari keuntungan instan melalui aktivitas perjudian.

Industri Judi: Antara Pendapatan dan Dampak Sosial

Legalisasi perjudian selama ini menjadi dilema bagi Filipina.

Di satu sisi, sektor ini memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara. Namun di sisi lain, dampak sosial yang ditimbulkan terus menjadi sorotan.

Aktivis anti-judi mendesak pemerintah memperketat regulasi, terutama terkait iklan dan akses platform digital yang mudah dijangkau generasi muda.

Mereka juga meminta peningkatan anggaran untuk layanan rehabilitasi dan hotline bantuan agar mampu menangani lonjakan kasus kecanduan yang terus terjadi.

Dengan meningkatnya popularitas taruhan online selama Piala Dunia 2026, kebutuhan akan langkah pencegahan yang lebih komprehensif dinilai semakin mendesak untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk perjudian.

Load More