Bola / Bola Dunia
Kamis, 02 Juli 2026 | 15:24 WIB
Potret Pelatih Korea Selatan, Hong Myung-bo (Chosun.com)
Baca 10 detik
  • Kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia 2026 memicu krisis tata kelola serta investigasi pemerintah terhadap Asosiasi Sepak Bola Korea.
  • Pelatih Hong Myung-bo resmi mengundurkan diri setelah menghadapi gelombang protes keras dari publik atas buruknya performa tim.
  • Pemerintah menyelidiki transparansi federasi karena adanya dugaan pelanggaran prosedur dalam penunjukan pelatih serta masalah integritas internal organisasi.

Suara.com - Kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia 2026 berubah menjadi krisis besar yang melampaui ranah olahraga.

Gelombang protes publik hingga tekanan politik membuat pemerintah turun tangan menyelidiki Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA).

Tersingkir di fase grup meski format turnamen meloloskan lebih banyak tim, Korea Selatan justru memicu kemarahan luas.

Dalam beberapa hari terakhir, demonstrasi terjadi baik di jalanan maupun media sosial, menyoroti buruknya tata kelola sepak bola nasional.

Puncak kemarahan publik terjadi saat mantan pelatih Hong Myung-bo tiba di Bandara Incheon.

Ia disambut cemoohan, spanduk protes, bahkan ancaman serius, hingga pengamanan harus diperketat.

Striker Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026, Son Heung-min (dok. FIFA)

Tekanan terhadap sang pelatih semakin besar setelah Presiden Korea Selatan, Lee Jae-Myung, secara terbuka menyebutnya tidak kompeten.

Hong akhirnya mundur hanya empat hari setelah kekalahan 0-1 dari Afrika Selatan yang memastikan eliminasi tim.

Di Piala Dunia 2026, Korea Selatan hanya meraih satu kemenangan dan dua kekalahan.

Baca Juga: 3 Fakta Menarik Jelang Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Reuni Emosional Vladimir Petkovic

Namun, kritik terhadap pelatih disebut hanya bagian kecil dari persoalan yang lebih besar.

Krisis tata kelola di tubuh KFA menjadi sorotan utama publik dan pemerintah.

Penunjukan Hong pada 2024 disebut tidak melalui prosedur yang semestinya, termasuk mengabaikan rekomendasi komite seleksi.

Keputusan ini memicu kecurigaan publik terhadap transparansi dan integritas federasi.

Presiden KFA, Chung Mong-gyu, kini menjadi sasaran investigasi dan tekanan hukum.

Ia bahkan telah dipanggil untuk memberikan keterangan, sementara kasus ini turut menarik perhatian FIFA karena adanya dugaan campur tangan pemerintah.

Load More