-
Pembatalan sepihak tiket Piala Dunia 2026 di platform StubHub merugikan ribuan suporter internasional.
-
Praktik tiket spekulatif menjadi pemicu utama kekacauan yang berujung pada gugatan hukum massal.
-
Fifa dan StubHub saling lempar tanggung jawab terkait gangguan sistem transfer tiket digital.
Suara.com - Praktik manipulasi tiket di pasar sekunder telah menghancurkan impian ribuan suporter Piala Dunia 2026 untuk menyaksikan turnamen sepak bola terbesar di dunia secara langsung. Banyak keluarga kini terlantar di luar stadion setelah platform penjualan pihak ketiga membatalkan pesanan secara sepihak menjelang pertandingan dimulai.
Sistem penjualan tiket spekulatif menjadi akar masalah dari kekacauan masif yang melanda penyelenggaraan Piala Dunia kali ini. Penjual yang belum memiliki tiket resmi nekat memasang harga, lalu membatalkan transaksi saat harga pasar melonjak demi meraup untung lebih besar di tempat lain.
Kondisi ini memicu gugatan perwakilan kelompok (class action) dari para penggemar yang merasa tertipu oleh jaminan perlindungan konsumen platform tersebut. Mereka tidak hanya kehilangan tiket, tetapi juga menderita kerugian finansial yang besar akibat biaya akomodasi dan penerbangan yang hangus.
Sergio Enrique Alvarado Montalvo mengalami langsung kepahitan ini setelah menggelontorkan dana ribuan dolar demi memberi kejutan untuk ayahnya. Rencana bahagia menonton aksi Lionel Messi di Dallas berubah menjadi mimpi buruk saat tiket mereka mendadak hangus sehari sebelum keberangkatan.
"Saya sangat sedih dan sangat frustrasi, dan begitu dipenuhi kemarahan, amarah. Itu adalah campuran perasaan yang sulit dijelaskan," kata pria berusia 45 tahun tersebut kepada BBC.
Alih-alih bersorak di dalam stadion, Montalvo dan orang tuanya terpaksa menghabiskan malam pertandingan di area festival penonton lokal.
"Itu adalah akhir pekan yang sangat sedih... di dalam, di luar... [tapi] kami menikmati waktu bersama," tambah Montalvo.
Nasib serupa menimpa Eben Pingree yang berniat memberi kejutan bagi putranya yang berusia 11 tahun untuk laga Skotlandia melawan Haiti. Tiket yang dibeli sang istri lenyap pada hari pertandingan, membuat perjalanan panjang mereka berakhir dengan kekecewaan mendalam.
"Mereka pada dasarnya harus meninggalkan kami di sana, dan putra saya sangat hancur," ujar Pingree kepada BBC.
Baca Juga: Cape Verde Siap Menang, Argentina Patut Waspada Jelang Perebutan 16 Besar
Kekecewaan massal ini akhirnya bergulir ke ranah hukum melalui gugatan yang dilayangkan oleh Julie Reeker Moghal dan Reuben Renteria. Keduanya mewakili para korban yang kehilangan dana minimal 1.900 dolar AS per orang akibat tiket yang tidak pernah dikirimkan.
"[Penggemar] dibohongi dan membeli Tiket Piala Dunia dengan jumlah uang yang besar - hanya untuk menanggung kerugian finansial yang luar biasa," bunyi dokumen gugatan tersebut.
Langkah hukum ini dinilai sebagai titik terendah baru bagi industri penjualan tiket yang selama ini memang kerap bermasalah dengan perlindungan konsumen.
Krisis ini memicu aksi saling tuduh antara pihak StubHub selaku perantara dan Fifa selaku penyelenggara resmi turnamen. StubHub berdalih bahwa aplikasi tiket baru milik Fifa mengalami gangguan performa parah yang menghambat proses transfer tiket antar-platform.
Namun, Fifa segera membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa sistem digital mereka bekerja dengan sangat aman dan andal. Otoritas sepak bola dunia itu menyatakan tidak bertanggung jawab atas validitas tiket yang ditransaksikan di luar saluran resmi mereka.
Para pakar industri menilai platform penjualan sekunder tidak bisa terus berlindung di balik alasan gangguan teknis perangkat lunak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Bangunan Dapur MBG di Muara Enim Jadi Sasaran Maling, Motor dan Ponsel Raib
-
Pasar Murah HUT RI Digelar di 5 Kecamatan Palembang, Ada Diskon Belanja Rp10 Ribu
-
Kado Anniversary Sempat Bikin Mahalini Kesal, Rizky Febian Bongkar Rencana Rahasianya
-
Apakah Serum Vitamin C Boleh Dipakai Malam Hari? Ini Waktu Terbaik Agar Glowing Maksimal
-
Review Skintific 2% Salicylic Acid, Serum Ampuh Bikin Jerawat Meradang Langsung Kempes
-
73 Hotspot Terpantau di Kalsel, Kemenhut Dorong Verifikasi Dini Karhutla
-
Apresiasi Pidato Prabowo, Jubir PSI: Pertumbuhan Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
-
Pengamat Kejaksaan: Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Anggota Tim 9
-
Review Unerd Beat Tempo, Sepatu Lari Rp500 Ribuan Cocok Buat Interval dan Tempo Run
-
Gempa Flores, Ratusan Paket Bantuan Darurat Disalurkan ke Lima Titik Pengungsian