Bola / Bola Dunia
Selasa, 07 Juli 2026 | 19:56 WIB
Romelu Lukaku menjadi sorotan utama saat Belgia melibas Amerika Serikat 4-1 di babak 16 besar Piala Dunia 2026. [Tangkap layar X]
Baca 10 detik
  • Romelu Lukaku mencetak gol dalam kemenangan Belgia 4-1 atas Amerika Serikat di babak 16 besar Piala Dunia 2026.
  • Lukaku melakukan selebrasi kontroversial ke arah suporter dan Presiden FIFA sebagai bentuk sindiran terhadap polemik keputusan federasi tersebut.
  • Aksi tersebut merupakan protes terkait campur tangan politik dalam pencabutan sanksi pemain lawan yang memicu kemarahan kubu Belgia.

Suara.com - Romelu Lukaku menjadi sorotan utama saat Belgia melibas Amerika Serikat 4-1 di babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Gol penutup yang ia cetak tak hanya memastikan kemenangan, tetapi juga diikuti selebrasi penuh emosi dan gestur provokatif yang langsung menyita perhatian publik.

Begitu bola hasil sepakan kerasnya bersarang di gawang, Lukaku melakukan selebrasi dengan kedua tangan di telinga menghadap suporter tuan rumah di Seattle.

Ia juga menambahkan gerakan tangan menyerupai mulut, seolah menyampaikan pesan tegas di tengah panasnya tensi pertandingan.

Tak berhenti di situ, penyerang Napoli tersebut kemudian menatap tajam ke arah tribun VIP tempat Presiden FIFA, Gianni Infantino, berada.

Dengan ekspresi menantang, Lukaku menunjuk ke arah tersebut sebelum akhirnya dikerubungi rekan-rekannya di dekat bendera sudut lapangan.

Puncak selebrasi terjadi ketika Lukaku menirukan tarian khas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang populer dengan irama lagu YMCA.

Aksi itu diyakini sebagai sindiran langsung terkait polemik sebelum laga, terutama soal campur tangan Trump dalam keputusan FIFA mencabut sanksi Folarin Balogun.

Kontroversi memang sudah menyelimuti laga ini sejak sebelum kick-off.

Baca Juga: Daftar Legenda Tanpa Gelar Piala Dunia: Maldini, Platini dan Cristiano Ronaldo

Keputusan FIFA mengizinkan Balogun tampil memicu kemarahan kubu Belgia yang menilai ada kejanggalan dalam prosesnya.

Federasi Sepak Bola Belgia bahkan secara terbuka menuding adanya ketidakberesan dalam penanganan kasus tersebut.

Mereka mengklaim FIFA menolak memberikan informasi, mengubah permintaan klarifikasi menjadi banding, lalu menyatakannya tidak dapat diterima.

Tak hanya itu, pihak Belgia juga menyoroti hilangnya pembahasan standar mengenai sanksi otomatis dalam pertemuan resmi jelang pertandingan.

Load More