Bri / News
Minggu, 08 Maret 2026 | 13:00 WIB
Masyarakat di Desa Manemeng. (Dok: BRI)

Suara.com - Di Desa Manemeng, sebuah nilai lokal menjadi fondasi kehidupan masyarakatnya. Warga setempat mengenalnya dengan istilah “Marenta Barmak”, sebuah ungkapan dalam bahasa daerah yang berarti bekerja bersama atau gotong royong.

Bagi masyarakat desa ini, semangat tersebut bukan sekadar kata-kata. Ia hidup dalam keseharian, mengalir dalam berbagai aktivitas ekonomi warga mulai dari bertani, membuat batu bata, memproduksi batako, hingga beternak sapi.

Kepala Desa Manemeng, Jayadi menuturkan bahwa sebagian besar masyarakat di desanya menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

"Manemeng adalah desa yang homogen, mayoritasnya petani dan buruh tani. Ada yang berladang dan berternak, tetapi pekerjaan utamanya tetap di sektor pertanian,” ujarnya.

Di sela aktivitas utama itu, berbagai usaha lain berkembang sebagai sumber penghasilan tambahan. Mulai dari klaster peternakan, produksi batu bata, hingga berbagai usaha mikro yang tumbuh di desa tersebut. Perkembangan ini semakin terasa sejak Desa Manemeng menjadi bagian dari program Desa BRILian.

Jayadi menilai, program tersebut memberikan dukungan nyata bagi masyarakat. Tidak hanya dari sisi penguatan usaha, tetapi juga mendorong literasi digital dan akses layanan keuangan.

"Sekarang masyarakat sudah mulai menggunakan BRImo, ada juga yang menjadi agen BRILink. Layanan digital seperti ini membantu aktivitas ekonomi masyarakat dan mampu mengurangi tingkat kemiskinan di desa," katanya.

Perkembangan ekonomi di Desa Manemeng tidak lepas dari peran BUMDes Sukses Mandiri, yang berdiri sejak 2018. Lembaga ini menjadi motor penggerak berbagai aktivitas ekonomi warga.

Direktur BUMDes Sukses Mandiri, Bahri Rahmat menjelaskan, saat ini pihaknya fokus memperkuat distribusi dan pemasaran produk pangan desa.

Baca Juga: Modal Foto Makanan dan Dukungan LinkUMKM BRI, Bawa Yummy Craft di Kancah Global

Menurutnya, keterlibatan desa dalam program Desa BRILian memberi dampak positif terhadap semangat pengelola BUMDes.

"Program ini semakin memacu semangat kami. Salah satu dukungan yang langsung dirasakan adalah hadirnya gerai dan layanan BRILink yang membantu aktivitas BUMDes," ungkapnya.

Dari Tanah Liat Menjadi Sumber Penghidupan

Di sudut desa, aktivitas pembuatan batu bata masih dilakukan secara tradisional. Ahmad Mawardi, Ketua Klaster Batu Bata, telah menekuni usaha ini sejak 2004.

Ia mengenang bagaimana proses produksi batu bata dimulai dari pengolahan tanah secara manual.

"Awalnya tanah dicangkul, kemudian dibuat lumpur dan dicampur dengan beberapa bahan seperti dedak dan abu gosok. Setelah itu baru dicetak," jelasnya.

Load More