Bri / News
Minggu, 08 Maret 2026 | 13:00 WIB
Masyarakat di Desa Manemeng. (Dok: BRI)

Setiap hari, para pekerja memproduksi setidaknya ribuan bata yang kemudian dijemur di lapangan sebelum dibakar. Meski prosesnya masih sederhana, pemasaran kini sudah mengikuti perkembangan zaman.

"Untuk pemasaran sekarang kami sudah pakai online, lewat Facebook atau WhatsApp," katanya.

Dalam menjalankan usaha tersebut, Mawardi juga merasakan manfaat dukungan pembiayaan dari perbankan, khususnya melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Cerita serupa datang dari Jahanto, Ketua Klaster Batako. Usaha ini ia rintis setelah pulang merantau dari Bali dengan bekal pengalaman yang ia miliki.

Ia melihat potensi besar bahan baku lokal, terutama pasir sungai yang melimpah di sekitar desa.

"Pasir di sini dari sungai, tapi kita harus pintar memilih kadar lumpurnya," katanya.

Setelah bahan siap, proses produksi dilakukan menggunakan mesin molen. Dari satu sak semen seberat 50 kilogram, mereka bisa menghasilkan sekitar 120 batako.

Permintaan pasar pun terus meningkat seiring pembangunan perumahan dan vila di kawasan sekitar.

Menurut Jahanto, dukungan pembiayaan dari BRI membantu klaster batako memenuhi berbagai kebutuhan usaha, mulai dari pembelian bahan baku hingga sarana transportasi.

Baca Juga: Modal Foto Makanan dan Dukungan LinkUMKM BRI, Bawa Yummy Craft di Kancah Global

Di sektor peternakan, kelompok ternak yang dipimpin M. Nasir juga berkembang melalui kerja sama antarwarga. Kelompok ini terbentuk dari kesepakatan bersama untuk membangun usaha peternakan yang lebih terorganisasi.

"Kami menyatukan diri untuk membangun kelompok ternak, dan ide itu didukung oleh desa melalui BUMDes," ujarnya.

Dalam pengelolaannya, mereka menerapkan sistem pemeliharaan semi-modern dengan pakan dari jerami, rumput, serta tambahan dedak dan vitamin.

Jenis sapi yang paling diminati pasar adalah sapi Bali, karena harganya relatif terjangkau dan pertumbuhannya cepat.

Untuk mengembangkan usaha, kelompok ternak juga memanfaatkan pembiayaan dari BRI dengan skema pembayaran tahunan. Dana tersebut digunakan untuk membeli sapi, menggemukkannya selama satu tahun, lalu menjualnya kembali.

"Ibaratnya sistem bagi hasil. Kami beli sapi, pelihara setahun, kemudian dijual," jelas Nasir.

Kepala Unit BRI Taliwang, Komang Ferdianto Gestaf Wiramukti, menjelaskan bahwa keterlibatan BRI di Desa Manemeng bertujuan memperkuat akses masyarakat terhadap layanan keuangan sekaligus mendukung pengembangan usaha desa.

"Harapannya masyarakat semakin terjangkau layanan perbankan dan lebih teredukasi dengan digitalisasi," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya menjelaskan, program Desa BRILian sendiri menjadi salah satu inisiatif strategis BRI dalam memperkuat perekonomian desa di seluruh Indonesia. Program ini dibangun melalui empat pilar utama.

Pilar pertama adalah penguatan BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih untuk meningkatkan peran lembaga ekonomi desa. Kedua, digitalisasi, melalui berbagai produk dan layanan seperti BRImo dan BRILink. Ketiga, sustainability atau keberlanjutan, yang menanamkan semangat pembangunan ekonomi desa yang tangguh. Dan terakhir, inovasi, yang mendorong kreativitas masyarakat desa dalam menjawab tantangan lokal.

Hingga kini, lebih dari 5.000 desa BRILian telah tersebar di seluruh Indonesia dan terus mendapatkan pendampingan serta pemberdayaan.***

Load More