/
Selasa, 23 Agustus 2022 | 08:00 WIB
Suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) Kompolnas, Komnas HAM dan LPSK dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (22/8/2022). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja (Foto Istimewa)

SuaraCianjur.id- Pernyataan dari Komnas HAM cukup mengejutkan setelah peristiwa kematian Brigadir J atau Nopriyansah Yosua Hutabarat. Sejumlah ponsel milik ajudan Irjen Pol Ferdy Sambo diganti.

Menurut penuturan dari Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ahmad Taufan Damanik, pergantian ponsel milik ajudan Ferdy terjadi pada tanggal 10 Juli 2022. Tanggal tersebut tepatnya dua hari setelah pembunuhan Brigadir J.

“Beberapa ajudan handphonenya diambil pada tanggal 10 sekitar jam 01.00 WIB pagi, mereka dikasih handphone baru. Saudara Richard atau Bharada E pada tanggal 19 diambil oleh Mako Brimob dikasih lagi HP-nya,” kata Taufan, dalam rapat terbuka bersama Komisi III DPR RI, Jakarta, melalui siaran Youtube DPR RI, Senin (22/8/2022) 

Diduga kuat, menurut Taufan pergantian posnel itu untuk menghilangkan rekam jejak digital.

“Mungkin ini pada pertemuan dengan Kapolri dan mabes Polri bisa ditanyakan apakah sudah didapatkan atau belum karena itu sangat penting,” kata dia.

Taufan melanjutkan, percakapan yang ada dari tanggal 10 hingga tanggal 19 Juli 2022 dihilangkan dan terdapat upaya membangun skenario.

“Dari HP antara tanggal 10 sampai 19 ada upaya-upaya membangun skenario yang jawaban-jawaban seperti siap komandan. Tapi dari tanggal 10 ke belakang sampai tanggal delapan itu belum ditemukan,” bebernya.

Sementara itu, Komisioner Komnas HAM Choirul Anam turut menyebut jika percakapan yang ada dalam tiga grup WhatsApp, yang menjadi catatan bagi Komnas HAM turut terbasmi dari upaya obstruction of justice.

“Enggak cuma HP yang hilang tapi juga percakapan jejak digitalnya juga enggak ada. Ada beberapa grup Whatsapp dalam catatan kami, ada tiga grup Whatsapp yang itu dulunya pernah ada terus enggak ada karena HP diganti. Terus ada tapi yang (tanggal) 10 ke bawah itu terus enggak ada lagi komunikasinya,” kata Choirul Anam.

Baca Juga: PPATK Lacak Praktik Judi Online, Omset Capai Triliunan Mengalir ke Luar Negeri

Maka dari itu, menurut Anam group WhatsApp tersebut perlu dilacak. Karena buka Hp milik Brigadir J saja yang lenyap, beberapa HP milik ajudan pun hilang.

“Jadi fisik HP ini tiba-tiba enggak ada, tidak hanya HP nya Yosua, kalau HP milik Yosua sampai sekarang juga belum ketemu,” lanjutnya.

Masih penuturan dari Anam, pada saat melakukan penyelidikan HP yang disebut milik Brigadir J sempat merasa ragu. Karena berdasarkan keterangan yang didapat dari pihak keluarga Brigadir J, model Hp tersebut tidak seperti yang diberikan kepada komnas HAM.

“Ini yang ditenggarai kayak HP milik Yosua, padahal dari keterangan yang kami peroleh di Jambi HP Yosua tidak model kayak begini. HP Yosua tuh ada Samsung, terus ada HP Cina, tapi modelnya tidak seperti ini. Ini HP yang seolah-olah milik Yosua yang tidak bisa dibuka,” jelas Anam.

“Jadi HP yang penting ini tidak masuk dalam rombongan barang yang diberikan kepada pihak keluarga, sehingga sampai sekarang HP itu tidak jelas keberadaannya,” tambah Anam.

Hingga kini keberadaan HP milik Brigadir J masih belum ditemukan. Komnas HAM pun sama sekali tidak mengetahui kemana hilangnya ponsel tersebut.

Load More