/
Kamis, 22 September 2022 | 12:41 WIB
Momen Bharada E, Bripka R dan Kuwat Ma'ruf tiba di lokasi rekonstruksi pembunuhan Brigadir J di rumah pribadi Ferdy Sambo, Selasa (30/8/2022). (Suara.com/Rakha) (Foto Istimewa - Suara.com)

SuaraCianjur.id- Kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J yang didalangi oleh mantan atasannya sendiri, Ferdy Sambo memang menjadi sorotan publik.

Kasus ini banyak mengundang pihak untuk berbicara dan turut memberikan komentar, termasuk Irjen Purnawirawan Ricky Sitohang.

Ricky Sitohang menilai dalam kasus Ferdy Sambo ini dirinya menyebut, ada dua orang yang diduga menjadi biang kerok dalam kasus yang tak kunjung selesai ini.

Ricky menyatakan kalau dua orang yang membuat rumit kasus ini adalah istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi dan asisten rumah tangga Kuat Ma'ruf.

"Kalau kita lihat pokok ceritanya analisis saya sementara biang keroknya dua, Kuwat Maruf dan Putri. Karena apapun peristiwanya harus dibuktikan, tapi kalau Kuat Ma'ruf enggak memberikan informasi yang dilebih-lebihkan kepada Sambo enggak begitu kejadiannya, Putri kalau jaga martabat Ferdy Sambo akan meluruskan enggak ikut di dalamnya," kata Ricky Sitohang mengutip dari kanal YouTube Uya Kuya TV, Kamis (21/9/2022).

Bahkan dirinya menilai biang masalah ada pada Putri Candrawathi yang dinilai tidak jujur untuk menceritakan soal peristiwa yang terjadi di Magelang sebenarnya seperti apa.

"Kalau mau dilihat biang masalah sebenarnya si Putri, kalau dia mau jujur transparan menceritakan peristiwa yang ada di Magelang," kata mantan jenderal bintang dua ini.

"Ferdy Sambo gentleman mengungkapkan, bagaimana peristiwa di duren tiga dengan tidak memprovokasi mengintimidasi," kata dia melanjutkan.

Ricky menyebut kalau dirinya tidak percaya dengan terjadinya pelecehan seksual yang dilakukan oleh Brigadir J terhadap Putri Candrawathi, hingga disebut-sebut menjadi pemantik kasus pembunuhan berencana ini.

Baca Juga: Harry Maguire Tak Diandalkan Lagi, Usai Kehilangan Posisi Malah Salahkan Penampilan De Gea di Bawah Performa

"Saya mengatakan jauh dari kemungkinan tidak akan berani seorang Yosua melakukan itu. Kan suatu hal yang ironis seorang Yosua, seorang Kuat Ma'ruf bisa masuk ke kamarnya, suatu hal yang sangat luar biasa terlepas dengan kasusnya," kata dia.

“Saya tidak mau menuduh siapa-siapa biarlah sidang yang membuktikan, biarlah penyidik yang menyimpulkan dan diterima oleh jpu (jaksa penuntut umum),” lanjutnya.

Selain itu, Ricky Sitohang berpendapat kasus yang diperbuat oleh Ferdy Sambo telah membuat masalah besar dalam internal Polri hingga membuat pusing.

"Tidak seperti ini ruwet dan menjungkirbalikan wibawa Polri,” jelas dia.

Dirinya menilai kalau proses penyelidikan kasus ini seolah-olah berjalan lamban. Hal itu karena pelaku mau mengikuti arahan dari Ferdy Sambo. Hingga akhirnya para anggota yang terjebak dalam pusaran skenario Sambo merasakan dampaknya.

"Dampaknya mereka merasakan sendiri, ada yang dipecat karena Sambo, bisa dibayangkan tidak kira-kira, betapa menderitanya anak dan istrinya," kata dia.

Seperti yang diketahui, beberapa anggota kepolisian telah dipecat dalam sidang kode etik. Bukan hanya Ferdy Sambo yang dipecat dari Polri, Kompol Chuck Putranto, Kompol Baiquni Wibowo, Kombes Agus Nur Patria, dan AKBP Jerry Raymon mereka sudah dipecat dari Polri.

Mereka dianggap terlibat dalam kasus Brigadir J karena turut menghalangi penyidikan kasus pembunuhan berencana.

Load More