SuaraCianjur.id – Gerakan Childfree adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang yang memutuskan untuk tidak memiliki anak. Ini adalah sebuah gerakan yang menjadi semakin populer dalam beberapa dekade terakhir dan memiliki sejarah panjang dan beragam.
Menurut Wikipedia, Istilah Childfree dibuat dalam bahasa Inggris di akhir abad ke 20. St. Augustine sebagai pengikut kepercayaan Maniisme, percaya bahwa membuat anak adalah suatu sikap tidak bermoral, dan dengan demikian (sesuai sistem kepercayaannya) menjebak jiwa-jiwa dalam tubuh yang tidak kekal.
Namun, sebagian besar sejarah gerakan childfree dimulai pada tahun 1970-an, ketika feminisme dan perubahan sosial mengarah pada peningkatan partisipasi wanita dalam dunia kerja. Ini membuka jalan bagi wanita untuk mempertimbangkan opsi lain selain menjadi ibu rumah tangga tradisional. Seiring dengan ini, beberapa wanita mulai memutuskan untuk tidak memiliki anak dan mengejar karier dan kebebasan pribadi.
Gerakan childfree juga didorong oleh perubahan lingkungan dan sosial-ekonomi. Pertumbuhan populasi dan pemanasan global membuat banyak orang khawatir tentang masa depan bumi dan membuat mereka mempertimbangkan dampak dari memiliki anak. Beberapa orang juga mempertimbangkan biaya dan tekanan ekonomi yang terkait dengan membesarkan anak.
Meskipun gerakan childfree mengalami peningkatan popularitas, masih ada beberapa stigma yang melekat pada orang yang memilih untuk tidak memiliki anak. Beberapa orang menganggap mereka tidak menghormati tradisi atau menilai mereka sebagai tidak memiliki kepedulian pada masa depan.
Namun, gerakan childfree berusaha untuk mengatasi stigma ini dan menunjukkan bahwa pilihan untuk tidak memiliki anak adalah pilihan yang valid dan merupakan bagian dari gaya hidup yang lebih seimbang dan bahagia.
Di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, gerakan childfree telah mengalami pertumbuhan yang signifikan, khususnya semenjak influercer, Gita Savitri selalu berbicara tentag childfree. Sontak kehadiran gerakan ini di Indonesia menimbulkan polemik yang besar, bahkan menganggu stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
5 Serum dengan Bahan Pencerah, Ampuh Pudarkan Flek Hitam Rekomendasi Dokter Estetika
-
Ole Romeny Susul Sandy Walsh dan Ragnar Oratmangoen Gabung Persib Bandung? Ini Kodenya
-
8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
-
Bikin Bangga! 5 Film Horor Indonesia Ini Siap Guncang Panggung Internasional di BIFAN 2026
-
4 HP Samsung Galaxy A Series Termurah Juli 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Bupati Gowa Lawan Hak Angket: Dua Saksi Dilaporkan ke Bareskrim
-
Bukan Lagi Fiksi Ilmiah, Taksi Tanpa Sopir Asal China Kini Siap Kuasai Jalanan
-
Dihentikan Prancis di 16 Besar, Paraguay Gagal Ulang Sejarah Tahun 2010
-
Jejak Timur dalam Aroma Modern, Ketika Tradisi dan Inovasi Bertemu dalam Sebotol Parfum
-
Gara-gara Berkas Tak Lengkap! Kasus Heli Anggota DKPP Tio Aliansyah Resmi Dinyatakan Gugur