SuaraCianjur.id - Flexing adalah tindakan memamerkan atau menunjukkan kekayaan atau prestasi seseorang dengan cara yang sombong atau arogan. Fenomena ini sering terjadi di kalangan anak muda, terutama di media sosial, di mana mereka berlomba-lomba menunjukkan barang-barang mewah atau kegiatan yang mengesankan. Namun, apa yang mendorong seseorang untuk melakukan flexing?
Menurut psikolog sosial, Dr. Art Markman, flexing bisa menjadi cara untuk mengekspresikan identitas dan status sosial seseorang.
"Orang sering kali ingin menunjukkan bahwa mereka sukses dan memiliki sesuatu yang orang lain tidak miliki," ujarnya.
Hal ini didukung oleh penelitian yang menemukan bahwa orang cenderung memamerkan prestasi mereka sebagai cara untuk meningkatkan harga diri dan merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri.
Namun, fenomena flexing juga dapat dipengaruhi oleh tekanan sosial dan budaya populer.
"Kita hidup di dunia yang sangat terobsesi dengan konsumsi dan status sosial, Media sosial membuat orang merasa perlu menunjukkan kekayaan atau prestasi mereka untuk mendapatkan pengakuan dan persetujuan dari orang lain." kata Dr. Markman
Selain itu, menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science, keinginan untuk flexing dapat terkait dengan tingkat ketidakamanan seseorang. Orang yang merasa tidak aman dalam dirinya mungkin mencari kepuasan dengan menunjukkan kekayaan dan prestasi mereka kepada orang lain.
Meskipun ada beberapa alasan mengapa seseorang bisa suka flexing, Dr. Markman mengingatkan bahwa perilaku ini dapat merusak hubungan sosial dan bahkan berdampak negatif pada kesehatan mental.
"Flexing bisa membuat orang merasa iri dan tidak nyaman. Hal ini dapat merusak hubungan sosial dan menciptakan tekanan yang tidak sehat pada diri sendiri dan orang lain." kata Dr. Markman.
Baca Juga: Bahas Peluang Hukuman Mati Ferdy Sambo, Mahfud MD Duga Ferdy Sambo Akan Meninggal di Penjara
Dalam era sosial media, fenomena flexing tampaknya semakin merajalela, tetapi penting bagi kita untuk mengingat bahwa kekayaan dan prestasi tidak selalu menentukan nilai seseorang. Sebagai gantinya, kita harus berfokus pada nilai-nilai yang lebih penting seperti kejujuran, empati, dan integritas untuk membangun hubungan sosial yang sehat dan berkelanjutan. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
Pilihan
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
Terkini
-
Hanna Shahab Dituding Numpang Tenar ke Fajar Sadboy, Begini Jawaban Menohok Sang Komedian
-
5 Smartband Huawei di Bawah Sejuta yang Bisa Konek Strava
-
Hak Angket Tak Perlu Interpelasi, DPRD Didesak Usut Kebijakan Pemprov Kaltim
-
Polisi Ungkap Motif Mengejutkan Bocah Lompat dari Lantai 3 di Denpasar
-
Perempuan dan Standar Tak Terlihat: Harus Sempurna di Mata Siapa?
-
Hakim Percepat Sidang Kasus Chromebook, Nadiem Makarim Hanya Diberi 3 Hari Hadirkan Saksi
-
Siapa Paolo Zampolli? Utusan Khusus Trump yang Usulkan Italia Gantikan Iran di Piala Dunia 2026
-
Persib Bandung Resmi Layangkan Surat Protes Usai Laga Kontra Dewa United, Ini Isinya
-
Shin Si Ah Dikabarkan Bintangi Drama Baru Karya Penulis Our Beloved Summer
-
5 Cara Tenang Hadapi UTBK 2026 agar Tidak Gemetar saat Ujian