/
Rabu, 06 Juli 2022 | 18:46 WIB
Istimewa

Deli.Suara.com - Wali Kota Medan Bobby Nasution mengaku terpacu menurunkan prevalensi stunting di wilayahnya. Pasalnya, Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-29 digelar di Kota Medan pada Kamis 7 Juli 2022.

Hal tersebut disampaikan Bobby dalam acara webinar Penguatan Kelembagaan dan koordinasi Antar Organisasi Perangkat Daerah se-Sumatera terkait percepatan penurunan stunting, Rabu (6/7/2022).

"Penurunan stunting sendiri penting untuk menghindari dampak jangka panjang yang dapat merugikan seperti terhambatnya tumbuh kembang anak dan juga mempengaruhi perkembangan otak, sehingga tingkat kecerdasan anak tidak maksimal," kata Bobby.

Bobby menjelaskan, saat ini jumlah anak stunting di Kota Medan tercatat sebanyak 550 balita. 20 persen diantaranya adalah bayi di atas dua tahun. 

Pemko Medan sendiri pada tahun 2022 ini telah membuat 15 program dan 16 kegiatan serta 29 sub kegiatan yang dilakukan oleh 10 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan menggelontorkan anggaran senilai Rp 198 miliar untuk menurunkan angka stunting.

"Besar harapan Harganas ini jadi wadah bagi kita untuk saling belajar dan aplikasikan kegiatan yang tepat guna untuk turunkan angka stunting, baik di Kota Medan atau wilayah seluruh nusantara," kata Bobby.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan, stunting menjadi ancaman terhadap kualitas generasi muda Indonesia. 

Oleh karena itu, peran serta masyarakat untuk menurunkan angka stunting menjadi sangat penting untuk menciptakan generasi unggul di tahun 2045.

"Dalam rangka mencapai bonus demografi, kita menghadapi generasi yang populasinya cukup besar yaitu generasi muda," kata Hasto.

Baca Juga: Cabuli Anak Tirinya Sendiri, Seorang Ayah di Semarang Dihukum 16 Tahun Penjara dan Denda Rp1 Miliar

Hasto merinci, generasi muda Indonesia saat ini sebanyak 24,4% mengalami stunting, 9,8% memiliki mental emotional disorder, 5% Napza, dan 1% autisme, serta 3 persen difabel. 

Diirnya menyayangkan jika Indonesia tidak bisa menikmati bonus demografi lantaran memiliki generasi penerus yang tidak produktif.

"Sehingga hampir 40 persen generasi muda kita kurang optimal. Kalau kita bisa menurunkan angka stunting, kita bisa mengurangi faktor pemberat SDM. SDM ini juga investasi yang penting," tandasnya. 

Load More