Deli.suara.com - Harga kripto wahid, Bitcoin masih berpotensi alami penurunan, demikian analis veteran dan terkemuka di Twitter, Peter Brandt. Sebagaimana dilansir dari laporan U Today.
Analisis tersebut berdasarkan data sejak hari Minggu (6 November), harga Bitcoin merosot, yang kian didorong oleh sentimen buruk dari bursa kripto FTX pasca Binance mengumumkan akan melikuidasi kepemilikan token FTT mereka.
Kepanikan dan ketakutan tercipta di pasar, membawa gelombang jual tajam yang membawa harga BTC turun menjauh dari US$20.000 menuju US$16.000.
Berdasarkan historis pasar BTC, harga “telah terbiasa” jatuh sekitar 80 sampai 90 persen sebelum kembali bangkit dan reli untuk mencetak tertinggi sepanjang masa (ATH) baru.
Menarik dasar analisis teknikal tersebut, Brandt melihat harga Bitcoin berpotensi turun lagi mencapai US$13.800, jika mengalami penurunan 80 persen, dan mencapai US$10.350, jika mengalami penurunan 85 persen dari ATH terbaru.
Selain Brandt, analis dari JPMorgan pun melihat adanya peluang penurunan harga Bitcoin ke US$13.000 karena sentimen jual beberapa hari terakhir, didukung oleh masalah di FTX, yang memicu aksi jual masif karena investor merasa sangat ketakutan.
“Apa yang membuat fase baru deleveraging kripto yang disebabkan oleh runtuhnya Alameda Research dan FTX jadi lebih bermasalah adalah bahwa jumlah entitas dengan neraca yang lebih kuat, yang mampu menyelamatkan mereka yang memiliki modal rendah dan leverage tinggi, [telah] menyusut dalam ekosistem kripto,” ujar Pemimpin tim analis di JPMorgan, Nikolaos Panigirtzoglou, dilansir dari Market Watch.
Namun, pandangan negatif dari beberapa analis di atas tampak telah coba dipatahkan oleh investor kripto saat data inflasi AS telah rilis.
The Block melaporkan bahwa, harga Bitcoin dan Ether (ETH) telah naik saat data inflasi AS turun ke 7,7 persen, lebih rendah dari ekspektasi pengamat.
Baca Juga: Gelar Festival Swadaya, Gojek Palembang Hibur Dan Apresiasi Para Mitra
Data tersebut mengindikasikan bahwa The Fed kemungkinan tidak akan agresif dalam menaikkan suku bunga di bulan ini, sehingga selera risiko mulai tumbuh, uang besar mulai melirik kripto kembali.
“Pedagang suku bunga sekarang memperkirakan peluang 80 persen dari kenaikan 50 basis poin pada pertemuan Desember,” ungkap alat FedWatch CME.
Finbold melaporkan bahwa, berkat data inflasi yang merosot, kapitalisasi pasar Bitcoin kembali meningkat, mendapatkan tambahan US$15 milyar hanya dalam waktu 15 menit saja. Pasar aset digital mulai bersuka cita sejak Kamis malam (10 November). [BAB]
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Vinicius Jr Jadi Tumpuan, Brasil Waspadai Kejutan dan Taktik Skotlandia
-
Anak Sekolah Rawan Terinjak di Demo Makan Gratis Batam: Siapa yang Harus Diseret ke Hukum?
-
Infrastruktur SPKLU Masih Jadi Kendala, DFSK Pilih Main Aman dengan Mobil PHEV
-
JTBC Dilanda Krisis, Bantah Isu Variety Show Berhenti Syuting
-
Kecelakaan Truk di Flyover Tomang, Material Besi Berserakan Lumpuhkan Jalur
-
Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Apa Saja? Ini 3 Varian dan Fungsinya
-
Cuplikan Film Digger Rilis, Tom Cruise Suguhkan Penampilan Eksentrik!
-
Skandal Faktur Pajak Fiktif Berujung Bui di Lampung
-
Perpecahan di Partai Republik? Kongres AS Desak Trump Hentikan Agresi Militer ke Iran
-
BTN Pertimbangkan Lakukan Buyback Saham, Berapa Nilainya?