Suara Denpasar – Sebuah video menyajikan kejadian langka di Bali. Seekor induk sapi Bali melahirkan dua anak sapi kembar. Sapi kembar itu berjenis kelamin jantan itu merupakan peliharaan Putu Juliastawa, peternak sapi asal Desa Tegal Jadi, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali.
Video itu disampaikan melalui Youtube Kukuh TV yang diunggah Sabtu (22/10/2022). Dalam video, Putu Juliastawa memelihara tiga indukan sapi. Salah satu sapi betinanya melahirkan anak sapi kembar.
“Sekarang sudah berusia 4 bulan,” kata Putu Juliastawa yang juga pekaseh Subak Pengembungan ini.
Sapi ini sudah melahirkan empat kali. Pada kehamilan dan kelahiran pertama sampai ketiga hanya bisa melahirkan satu ekor.
“Setelah melahirkan anak kembar, sapi saya bulunya semakin hitam. Dulu, bulunya putih,” kata dia.
Dari penelusuran di Google, 0,59 program unggulan terobosan dari Litbang Pertanian mengatasi kekurangan pasokan daging.
Perbekel Desa Tegal Jadi, I Made Muliana, populasi sekitar 258 ekor. Sebagian sudah berasuransi, dan sudah divaksin PMK (penyakit mulut dan kuku). Apalagi, di Desa Tegal Jadi juga pernah ada sapi yang kena PMK.
Dari penelusuran Suara Denpasar, sapi kembar memang sangat kecil peluangnya. Meski demikian, ternyata ada program nasional kembarisasi sapi. Prof Ronny Rachman Noor dalam artikelnya berjudul “Program Nasional Kembarisasi Sapi: Keteledoran atau ketidaktahuan?” pun mengkritisi program nasional tersebut.
“Secara logika memang program ini tampak sekilas sebagai suatu program yang "monumental" dan "spektakuler", akan tetapi dilihat dari rekam jejak penelitian tentang kembar pada sapi, program ini boleh dikategorikan sebagai suatu “ignorant” (bodoh),” kata Prof Ronny Rachman Noor yang merupakan Guru Besar Pemuliaan dan Genetika Fapet IPB dalam lppm.ipb.ac.id yang dikutip Suara Denpasar, Sabtu (22/10/2022).
Baca Juga: Youtube Ria Ricis Dibobol Hacker, Potensi Pendapatan Rp30 Miliar Setahun Lenyap
Prof Ronny pun menjelaskan, program nasionar kembarisasi sapi dapat dikategorikan sebagai suatu ketedoran. Alasan dia, secara ilmiah tingkat keberhasilan program ini sangat kecil. Dia pun membeberkan, hasil penelitian mengungkap fakta bahwa kejadian kembar fraternal (kejadian kembar dengan dua ari ari) pada sapi hanya 1,7 persen, kembar identik 0,4 persen, dan kembar siam malah 1 : 80.000 kelahiran. Sedangkan kembar melalui treatment kesuburan dapat mencapai 20 – 25 persen.
“Data ini secara tegas menyatakan bahwa kejadian kembar pada sapi, sebagaimana halnya pada manusia merupakan kejadian yang luar biasa dengan peluang sangat kecil,” kata dia tegas.
Daripada membuat program nasional kembarisasi sapi, Prof Ronny lebih menyarankan agar Kementerian Pertanian mengalihkan dana untuk penguatan program yang lebih rasional seperti program inseminasi buatan atau bahkan dapat juga ditingkatkan untuk penguatan program embrio transfer.
“Di samping itu dana juga dapat dialokasikan untuk perbaikan nutrisi dan manajemen pemeliharaan, sehingga secara tepat waktu sapi dapat bunting kembali setelah melahirkan,” kata dia.
Menurut dia, saran itu lebih rasional untuk dilakukan dan dapat memberikan dampak nyata dalam peningkatan produktivitas ternak untuk mendukung program swasembada daging. (*)
Tag
Berita Terkait
-
Muncul Gagal Ginjal Akut, Ini 5 Obat Sirup Mengandung EG dan DEG, Ada Termorex yang Berusia 34 Tahun
-
Sejumlah Wilayah Bali Diterjang Banjir Bandang Jelang KTT G20, Wayan Koster: Sudah Aman
-
Hukuman Eks Bupati Tabanan Eka Wiryastuti dan Stafsus Dewa Wiratmaja Tambah Setengah Tahun
-
Antiklimaks, Terdakwa Kasus Sabu-Sabu Terbesar di Bali Tak Dituntut Mati, Cuma 12 dan 14 Tahun Penjara
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
THM Panhead Jadi Perbincangan usai Kasus Penembakan TNI dan Temuan Senjata Rakitan
-
Pernah Dipakai Runner Harian, Sekarang 7 Sepatu Lari Ini Justru Jadi Barang Koleksi Mahal
-
Cetak Sejarah! Dhea Natasya Jadi Atlet Perempuan Indonesia Pertama di World Longboard Tour 2026
-
Ayah dan Anak Tewas dalam Rumah Terbakar di Musi Banyuasin, Warga Tak Sempat Menolong
-
Bulog Pastikan Beras SPHP Tetap Terjangkau untuk Masyarakat
-
Kapal Berisi Jurnalis dan Relawan Indonesia Dibajak, Kemlu Kecam Keras Militer Israel
-
Mensos Gus Ipul Minta Penjangkauan Calon Siswa Sekolah Rakyat Tepat Sasaran
-
Pesirah Bank Sumsel Babel Kini Jadi Pilihan Anak Muda Sumsel untuk Bangun Dana Darurat
-
Menjaga Protein dari Hulu, Misi SPHP Jagung Meredam Gejolak Harga Telur
-
Tak Terima Dituntut 5 Tahun Penjara, Noel Ebenezer: KPK Harus Taubat Nasuha