Hal yang sama juga terjadi di Desa Lampia, Kabupaten Malili, Sulawesi Selatan dimana lumpur bekas tambang nikel langsung mencemari laut. Tim WALHI Sulsel mengamati pencemaran lumpur tambang nikel di pesisir Lampia sudah mencapai 100 meter ke laut, juga berdampak pada hutan mangrove di pesisir Lampia. Hal ini secara dramatis berdampak pada mata pencaharian keluarga nelayan di Lampia.
Dampak penambangan nikel juga dialami oleh perempuan: Bagi perempuan di Sorowako, khususnya masyarakat adat Karonsie, tambang dan smelter nikel milik perusahaan Brazil, Kanada dan Jepang telah menghancurkan impian mereka akan kehidupan yang baik dan mandiri dengan mengolah tanah mereka sendiri.
Tanah dan kebun adat mereka dirampas oleh perusahaan tambang nikel tanpa ganti rugi bahkan diubah menjadi lapangan golf milik perusahaan. Mereka tidak lagi memiliki akses air bersih dan terpaksa mengkonsumsi air sungai kotor yang tercemar lumpur tambang nikel. Selain itu, pemukiman masyarakat saat ini telah dipagari dengan sangat tidak menghormati hak tanah adat masyarakat Karonsie.
Perluasan lokasi penambangan nikel terbaru di Sulawesi Selatan telah menyebabkan penggusuran dan perampasan kebun lada milik masyarakat yang telah memberikan penghasilan dan menghidupi keluarga mereka selama bertahun-tahun. Konflik sosial sudah diprogram sebelumnya di sini.
Potret kerusakan hutan hujan yang berdampak pada rusaknya sumber kehidupan masyarakat, khususnya perempuan, juga terjadi di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Di Sulawesi Tengah, tepatnya di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, akibat lumpur penambangan dan limbah tailing dari smelter nikel perusahaan China, para nelayan di Morowali harus pasrah kehilangan mata pencaharian mereka.
Hal ini diakibatkan karena pesisir dan laut yang selama ini menjadi sumber pendapatan nelayan, tercemar lumpur bekas tambang dan limbah peleburan nikel. Akibatnya, nelayan memutuskan untuk berhenti melaut dan memilih menjadi buruh bangunan dan buruh pabrik smelter yang penghasilannya jauh dibandingkan saat menjadi nelayan.
Yang paling buruk di Sulawesi Tengah saat ini adalah tambang dan pembangunan pabrik peleburan niken telah menciptakan konflik agraria. Di Kabupaten Morowali Utara, sawah dan kebun petani harus diambil paksa oleh perusahaan tanpa konsultasi dan kompensasi.
Masyarakat kini harus hidup tanpa tanah karena tanah yang merupakan satu-satunya sumber penghidupan masyarakat harus hilang karena diambil paksa untuk perusahaan tambang dan pembangunan pabrik peleburan nikel. Sehingga bagi kami, perluasan pertambangan nikel di Pulau Sulawesi adalah malapetaka bagi masyarakat khususnya petani dan perempuan.
"Terlepas dari dampak besar tambang dan smelter nikel terhadap hutan, sungai, pesisir, dan masyarakat di Pulau Sulawesi, kami sangat yakin bahwa nikel, baterai, dan kendaraan listrik bukanlah obat mujarab bagi krisis iklim global karena alasan berikut:
Baca Juga: Para Fans Dituding jadi Biang Kerok Renggangnya Hubungan Lesti Kejora dengan Dewi Perssik
Peningkatan produksi nikel di Indonesia, serta baterai dan kendaraan listrik di belahan bumi Utara, secara langsung berkontribusi terhadap rusaknya hutan hujan, khususnya di Pulau Sulawesi.
Hutan hujan ini sangat penting bagi lingkungan, kehidupan masyarakat, dan iklim dunia. Hutan hujan di Pulau Sulawesi menyerap karbon yang dikeluarkan oleh pabrik-pabrik di Indonesia, serta industri dan pembangkit listrik berbahan bakar fosil di belahan bumi Utara.
Oleh karena itu sangat salah menyebut industri kendaraan listrik dimana bahan bakunya diperoleh dari perusakan hutan disebut sebagai produk ramah lingkungan dan solusi bagi perubahan iklim," katanya.
80 persen energi listrik yang menggerakkan smelter nikel di Sulawesi bersumber dari pembangkit listrik tenaga batu bara.
Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, bisnis ramah lingkungan, dan mitigasi perubahan iklim yang saat ini sedang disuarakan oleh para pemimpin dunia. Penggunaan tenaga batu bara di smelter sebenarnya menggandakan emisi yang terkait dengan produksi nikel.
Dengan meningkatnya permintaan batubara, produksi nikel yang lebih tinggi di Sulawesi juga mempercepat perusakan hutan di pulau-pulau lain, terutama di Kalimantan, pusat utama kegiatan penambangan batubara di Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
Terkini
-
PTFI dan Masyarakat Papua Tengah: 10 Tahun Perubahan, Harapan Baru untuk Ekonomi Berkelanjutan
-
Michael Jackson Dituding Predator Seks Berantai Gunakan Juice Jesus hingga Xanax
-
5 Body Lotion Indomaret untuk Mengatasi Kulit Belang, Harga Mulai Rp10 Ribuan
-
Siapa Josepha Alexandra? Siswi SMAN 1 Pontianak yang Viral usai Polemik LCC 4 Pilar
-
John Herdman Putar Otak Bikin Timnas 'Selevel' Jepang, Exco PSSI: Santai Saja
-
Sindiran Lamine Yamal ke Real Madrid hingga Kibarkan Bendera Palestina di Perayaan Juara Barcelona
-
Iblis dalam Darah: saat Teror Mistis Menyusup ke Nadi, Malam Ini di ANTV
-
Heboh DM Instagram Disebut Tak Lagi Aman, Pakar Siber Ungkap Faktanya soal Enkripsi
-
Review Film Ain: Saat Media Sosial Menjadi Ladang Hasad
-
Kejari Mataram Mulai Bidik Pengurus PMI Terkait Penyelidikan Dana 2025