Suara Denpasar - Pintu masuk Universitas Udayana (Unud)) di Jalan Sudirman, Denpasar, Bali tiba-tiba ditutup demi gelaran G20 yang berlangsung di Nusa Dua, Senin (14/11/2022). Bahkan, diskusi mahasiswa dibubarkan.
Seorang petugas security kampus yang sedang berjaga di pintu keluar mengaku pintu tersebut ditutup untuk mengikuti Surat Edaran Gubernur Bali, I Wayan Koster terkait work from home selama perhelatan G20. Akibatnya, banyak mahasiswa terpaksa berbalik arah untuk masuk dari pintu keluar, Senin (14/11/2022)
"Jadi selama lima hari kampus akan ditutup mulai hari ini (Senin, 14/11) sampai Kamis (17/11/2022)," kata security yang tidak mau menyebutkan namanya itu.
Sebelumnya beredar poster ajakan diskusi terbuka yang diinisiasi oleh mahasiswa Universitas Udayana yang menamakan diri sebagai Indonesian People Assembly (IPA). Selebaran itu bertuliskan Musyawarah Rakyat Indonesia Menentang G20 di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Universitas Udayana.
Karena pintu masuk kampus ditutup, peserta diskusi tersebut akhirnya menggelar diskusi di tangga gedung Student Centre Univerisitas Udayana di Jalan Dr. Goris.
Saat diskusi sedang berlangsung peserta diskusi didatangi oleh pihak kampus untuk melakukan screening dengan alasan selain mahasiswa Udayana tidak boleh melakukan diskusi di dalam lingkungan kampus Unud.
Situasi itu sempat bersitegang karena peserta diskusi menolak untuk discreening yang berbuntut pada pembubaran diskusi.
Ketua BEM Unud, Darryl Dwi Putra menyatakan, tindakan intervensi kampus terhadap peserta diskusi itu merupakan pembungkaman ruang demokrasi.
"Perlu digarisbawahi, bahwa ada penyempitan ruang demokrasi yang hari ini dilakukan dengan berbagai cara. Bahkan tadi ada banyak intel yang datangi peserta diskusi dan saya rasa itu adalah bentuk pembungkaman atau represif terhadap peserta diskusi," tegas Darryl Dwi Putra.
Baca Juga: Detik-detik Insiden Iriana Jokowi Jatuh dari Tangga Saat Turun Pesawat Menghadiri KTT G20 di Bali
Terkait pintu kampus yang ditutup, dia mengaku penutupan pintu kampus itu tidak diketahui oleh mahasiswa.
"Tidak ada informasi soal penutupan pintu kampus sehingga dapat disimpulkan ini menjadi preseden buruk bagi kampus," kata dia.
"Ya kita sepakat bahwa hari ini forum diskusi harus tetap dibuat, terkait G20 kita mau menolak atau mendukung itu kan berbeda, tapi sampai pintu kampus ditutup dan diskusi hari ini dibubarkan dapat saya simpulkan bahwa kampus dilabel sebagai corong penguasa," lanjutnya.
Sementara, Budi saat dipercaya untuk memberikan orasi singkat dalam forum itu mengatakan bahwa, pembubaran diskusi yang dilakukan pihak kampus telah menunjukan mental kampus yang jauh dari semangat akademik.
"Hari ini kita telah ditunjukkan watak yang sebenarnya dari sistem setengah jajahan setengah feofal, kampus Udayana melegitimasi watak antidemokrasi itu sendiri. Kampus Udayana telah jauh dari semangat pendidikan yang ilmiah, demokratis dan mengabdi kepada masyarakat," paparnya.
Mahasiswa Universitas Udayana itu juga mengatakan bahwa sejauh ini diskusi-diskusi yang bersifat kontranarasi selalu berujung pada pembubaran.
"Kampus yang sejatinya menjadi mimbar akademik untuk perdebatan segala macam ide dan wacana, justru diarahkan pada pembubaran. Diskusi-diskusi yang kontra narasi dengan pemerintah selalau diintimidasi," kata budi yang merupakan pusdekdok dalam komunitas Indonesian People Assembly (IPA). (*/Aryo)
Tag
Berita Terkait
-
Joe Biden Tiba di Bali, Netizen Suruh Makan Sate Pan Bingin dan Tanya Mana Vladimir Putin
-
Jokowi Sambut Presiden Uni Emirat Arab di Solo untuk Resmikan Masjid: Biden Cukup Sandiaga Uno
-
Sisi Kelam KTT G20 di Bali! Warga Diintimidasi hingga Rapat Internal YLBHI Dibubarkan Paksa Aparat
-
Rapat Internal di Sanur Dibubarkan, YLBHI Tuding Aparat dan Pecalang Anti Demokrasi
-
Pernyataan Resmi Masyarakat dan Aliansi Sulawesi Terkait KTT G20 di Nusa Dua, Bali
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Gunakan Teknik Stripping, Pemuda Sukabumi Sukses Cetak 3.000 Anakan 'Ikan Dewa' yang Langka
-
Jembatan Ampera hingga Masjid Agung Palembang Resmi Jadi Cagar Budaya Nasional
-
Groundbreaking Irigasi di Luwu, Gubernur Sulsel: Mari Kawal Untuk Petani
-
ARTJOG 2026 Memanas! Kehadiran Didit Prabowo Batal Usai Diprotes Seniman
-
WNA India Jadi Korban Penipuan Modus Hipnotis di Bali
-
Jatim Deklarasikan Provinsi dengan Event Terbanyak, Sedot 30 Persen Wisatawan
-
Ekonom: Investor Butuh Kepastian Hukum di Indonesia, Bukan Sekedar Insentif!
-
Pemprov Papua Selatan: Lahan Cetak Sawah di Merauke 48 Ribu Hektare
-
Khofifah Sambut 4.014 Pelari dari 22 Negara Taklukkan Jalur Ekstrem Gunung Arjuno-Welirang
-
Sulteng Belum Mandiri Fiskal, 80 Persen Bergantung Pusat