Suara Denpasar - Pesatnya perkembangan industri pariwisata di Bali bukan hanya membawa dampak positif dari segi kesejahteraan.
Tapi, ada dampak negatif terkait lingkungan. Seperti halnya kerusakan hutan dan juga masuknya air laut ke daratan akibat ekploitasi air tanah berlebihan.
Manager Program Bali Water Protection (BWP) Yayasan Idep lestari I Putu Bawa Usadi.
Menurutnya dulu di hutan hanya ada binatang, sekarang manusia mulai mengambil alih dan merusak kelestarian hutan.
“Kalau ditanya bagaimana Bali hari ini ya bisa dibilang tidak baik-baik saja. Kita lihat bencana banjir bandang yang terjadi bulan lalu menunjukan adanya aktifitas di hutan yang merusak lingkungan,” kata Bawa dalam Coffeetalk Pesta UMKM “Apa Kabar Kita” di Denpasar pada Sabtu (19/11/2022).
Selain itu, intrusi air laut juga kini dalam kondisi memprihatinkan. Dia mencontohkan di sejumlah titik di wilayah Sanur intrusi air laut telah mencapai lebih dari 1 Km. sehingga air sumur warga mulai tidak layak konsumsi.
“Intrusi terjadi karena eksploitasi air bawah tanah terlalu tinggi. Harus segera dicarikan solusi dengan membangun sumur imbuhan dan menjaga daerah hulu,” terangnya. Apalagi, prilaku manusia yang cenderung destruktif.
Contoh yang gampang akibat sifat perusak manusia adalah bertambahnya perkebunan yang ditengarai juga menerabas hutan. Seperti perkebunan kopi dan pisang.
Lain lagi dengan Kordinator advokasi Kekal Bali I Made Untung Juli Pratama mengatakan krisis lingkungan yang melanda Bali saat ini tidak lepas dari sejumlah kebijakan yang tidak berpihak.
Baca Juga: Band Hardcore Lorong Gebrak dengan "Tajam": Angkat Filosofi Tumpek Landep
Sebut saja pembangunan jalan tol Mengwi – Gilimanuk. Proyek tersebut jelas-jelas akan menerabas lahan sawah produktih, hutan lindung dan lahan produktif warga.
“Bencana yang terjadi selama ini tidak bisa semata-mata hanya dilihat sebagai faktor alam semata. Tapi karena kebijakan yang tidak berpihak pada lingkungan. Alam hanya mencari keseimbangannya saja,” paparnya.
Proyek lain yang ditengarai merusak lingkungan adalah pembangunan terminal LNG di Intaran, Sanur, yang diduga akan menerabas hutan mangrove dalam jumlah yang tak sedikit. Untuk itu pihaknya getol menyuarakan penolakan proyek yang merusak lingkungan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123
-
BRI dan Kementerian UMKM Perkuat Pembiayaan KUR, Dorong UMKM Bandung Naik Kelas